Ketua Umum PSSI Erick Thohir berjabat tangan dengan Pelatih Timnas Putri Indonesia Satoru Mochizuki usai memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/2/2024). | Republika/Prayogi

Olahraga

Penunjukan Satoru Mochizuki Langkah Awal Membangun Sepak Bola Putri

PSSI tengah menyusun cetak biru kompetisi putri dari usia muda.

JAKARTA -- Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, telah resmi menunjuk pelatih asal Jepang, Satoru Mochizuki, sebagai pelatih kepala timnas sepak bola putri. Erick menyatakan, penunjukan Satoru menjadi langkah awal PSSI membangun prestasi sepak bola putri Tanah Air.

Erick mengatakan, PSSI dan Satoru akan menyiapkan cetak biru selama 10 tahun untuk sepak bola putri dengan target Piala Dunia 2035. "Tadi kita (dengan Satoru Mochizuki) sudah bersepakat membuat cetak biru (sepak bola putri) untuk 10 tahun. Tadinya saya bicara lima tahun, tapi pelatih bilang dia mau 10 tahun. Inilah yang kita namakan keberlanjutan ini penting, program ini kita akan jalankan secara serius," kata Erick dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/2/2024).

Satoru mempunyai segudang pengalaman menangani timnas putri Jepang selama 10 tahun lebih. Ia mulai menangani sepak bola wanita pada 2008 bersama timnas putri Jepang. Satoru yang masuk dalam tim kepelatihan berhasil membawa timnas putri Jepang juara Piala Dunia Wanita 2011 di Jerman. Setahun kemudian, tim tersebut dibawanya meraih medali perak pada Olimpiade London 2012.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (@erickthohir)

Erick berharap rekam jejak yang dimiliki Satoru bisa meningkatkan prestasi sepak bola wanita Indonesia. Ia juga diharapkan dapat membagi ilmu kepelatihan kepada para pelatih Indonesia, sehingga ilmu sepak bola Jepang bisa diterapkan di Tanah Air.

Erick meyakini kedatangan Satoru menjadi langkah awal membangun lebih tinggi potensi sepak bola wanita. "Pelatih Satoru yang dipilih untuk tangani timnas putri ini, punya rekam jejak agus dan mumpuni untuk memajukan sepak bola putri di Tanah Air. Saya pilih Jepang karena tradisi sepak bola putri Jepang sangat kuat. Juara dunia sekali, dan sembilan kali lolos terus ke putaran final Piala Dunia putri sejak 1991," ujarnya. 

Di sisi lain, penunjukan Satoru juga merupakan bagian dari kerja sama yang dijalin PSSI dengan JFA. Sebelumnya, JFA juga mengirim wasit dan instruktur wasit untuk membantu PSSI.

Erick mengakui keseriusan Jepang membangun sepak bola mereka. Ia berharap dengan ditangani langsung oleh pelatih dari Jepang, timnas putri Indonesia juga bisa meraih banyak prestasi. 

"Kami di PSSI sangat sangat apresiasi JFA yang benar-benar secara ikhlas mau bantu sepak bola Indonesia, dengan mau memberikan salah satu pelatih terbaiknya. Saya rasa ini suatu kehormatan bisa mendapatkan salah satu pelatih terbaik bisa bantu bangun sepak bola putri Indonesia," kata Erick.

Menurut Erick, timnas putri Indonesia saat ini memiliki pemain-pemain yang secara kualitas baik dan ada beberapa pemain yang berlaga di luar negeri.

Sejumlah pemain timnas putri Indonesia tengah meniti karier di luar negeri, antara lain, Helsya Maeisyaroh, Sheva Imut, dan Shafira Ika yang memperkuat klub divisi empat Jepang, FC Ryukyu Ladies. Kemudian, Fani Supriyanto yang membela klub divisi satu Liga Putri Arab Saudi, Al Hammah.

Timnas putri Indonesia terakhir kali berlaga di Piala Asia Putri 2022, tetapi Safira Ika Puteri dan kawan-kawan gagal ke fase gugur. Sementara itu, Timnas putri U-19 terakhir menjadi semifinalis AFF 2023. Indonesia akan menjadi tuan rumah AFC U17 Women Asia Cup, Mei nanti.

Erick juga menyatakan tidak melupakan sisi pembinaan dan untuk mendukung liga sebagai kunci pembinaan. PSSI tengah menyusun cetak biru kompetisi putri dari usia muda sebelum menggulirkan Liga 1.

"Intinya, perlu waktu. Salah satunya, akhir bulan ini akan digelar turnamen putri usia muda U10 dan U14. Ini awal karena harus dimulai dari usia 9, 12, 14, yang menandakan pembinaan dari bawah," ujar Erick.

"Jadi kita bangun dari pembinaan akar rumput. Lalu dibuat zona-zona yang diikuti klub, sehingga baru bisa dijadikan liga. Turnamen-turnamen muda ini bisa menyalurkan kompetisi dan menampung bakat sepak bola wanita kita," kata Erick.

photo
Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha, Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dan Pelatih Timnas Wanita Indonesia Satoru Mochizuki (dari kiri) usai memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/2/2024). - (Republika/Prayogi)

Pengamat sepak bola, Mohamad Kusnaeni, mengapresiasi langkah PSSI mendatangkan Satoru Mochizuki. "Perekrutan Satoru langkah yang tepat. Timnas putri memang butuh pelatih berkualitas dan berpengalaman menangani tim putri. Kita sudah melihat sejumlah pelatih lokal dipercaya menangani timnas putri. Tapi hasilnya kurang optimal karena berbagai keterbatasan yang mereka hadapi," kata Kusnaeni, Selasa (20/2/2024).

Ia berpendapat kedatangan Satoru bukan satu-satunya modal untuk mengembangkan kualitas para srikandi Merah Putih. Ia mendesak berbagai pihak terkait agar segera menyelenggarakan kompetisi.

Kompetisi sangat penting untuk melahirkan bakat-bakat pilihan. Keadaan demikian, memudahkan pelatih saat harus melakukan pemilihan pemain.

"Sekali lagi, tidak akan banyak progres yang bisa dibuat Satoru jika kompetisi sepak bola putri tidak digelar. Tugas PSSI dan PT LIB untuk mendorong klub-klub Liga 1 dan Liga 2 mulai menghidupkan pembinaan sektor putri mereka," ujar Bung Kus.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat