Stik Mas fajar | Dokpri
11 Mar 2020, 02:00 WIB

Menangkap Peluang Bisnis Olahan Sayur

Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan perlu ditangkap pelaku bisnis kuliner.

 

Hanya modal nekat yang Fajar Heri Nurcahyo punya ketika menjajal bisnis kuliner olahan sayur. Pada 18 Juli 2011 Fajar ini mencoba peruntungan dengan meracik camilan stik berbahan dasar terigu dan sayur bayam. Ia mulai merintis usaha ini pascalulus SMA di Tegal, Jawa Tengah.

Fajar menuturkan, ide membuat stik bermula ketika berkunjung ke salah satu kerabatnya di Tegal, pascalulus SMA. Makanan stik dari bayam menjadi camilan warga di sana. Ia pun melihat cara bibinya mengolah bayam menjadi stik renyah dan nikmat.

Saat kembali ke Jakarta, Fajar memberanikan diri untuk berwirausaha. Salah satu dorongan terkuat adalah karena ia sempat gagal masuk perguruan tinggi setelah mengikuti seleksi empat kali. Mencari kerja berbekal ijazah SMA pun amat sulit.

"Modal awal Rp 40 ribu untuk beli bahan. Alat gilingnya pinjam punya kerabat," kata Fajar kepada Republika di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 
Produk stik bayam pertama yang ia racik dijual dalam kemasan 50 gram dan dititipkan ke warung di sekitar rumahnya. Saat itu, ia menitipkan 20 bungkus yang dijual Rp 500 per bungkus. Tanpa disangka, dagangannya habis dalam sepekan.
   

"Saya dapat untung bersih dari dagang pertama Rp 7.000. Itu benar-benar uang yang saya hasilkan dari kerja keras sendiri," ucap Fajar.

Melihat peluang dari bisnis yang sederhana, Fajar meneruskan usahanya hingga terus berkembang. Pelanggan terus bertambah dan produknya mulai dikenal di sekitaran Jakarta dan Depok meski belum memiliki merek khusus.

Namun, usaha yang ia rintis itu sempat dikelola oleh kedua orang tuanya. Sebab Fajar tetap harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. "Sempat saya tinggalkan dua tahun sejak berdiri karena saya kuliah di Solo. Tahun 2014 saya pulang liburan dan ternyata usaha ini masih diteruskan orang tua saya," kata Fajar.

Dari situ, Fajar mulai melihat ada peluang untuk lebih serius membesarkan bisnis stik olahan sayur. Singkat cerita, Fajar kembali melanjutkan kuliah dan membawa stik bayam buatannya untuk dipromosikan kepada mahasiswa dan teman-temannya. Perlahan tapi pasti, dari mulut ke mulut, stik bayam yang dipromosikannya makin dikenal luas.

Sampai-sampai, Fajar menuturkan, orang-orang yang ia kerap berikan secara gratis kemudian jadi memesan stik sayuran dalam jumlah besar. "Dari sinilah, pasar baru mulai muncul. Akhirnya, saya promosikan lewat media sosial seperti Whatsapp dan //Instagram//. Kadang-kadang order sampai lebih 100 bungkus dari mana-mana," ujar Fajar.

Penjualan jarak jauh dilakukan dengan pengiriman jasa ekspedisi. Ia juga melayani pembayaran tunai saat barang sampai ke tujuan (cash on delivery/COD) di Kota Solo. Semakin maraknya bisnis kuliner oleh anak muda, pada awal 2018 ia membuat desain logo, membuat merek 'Stik Mas Fajar' dan memperbaiki kemasan. Seluruh desain dan merek merupakan idenya pribadi.

Fajar juga menambah varian rasa. Berbekal ilmu kimia di bangku kuliah, ia membuat varian rasa bawang, wortel, kentang, dan keju. Stik olahan bayam, wortel, dan bawang dijual dalam kemasan 200 gram seharga Rp 14 ribu sedangkan kentang dan keju dipasarkan Rp 16 ribu per bungkus.

"Awalnya, saya rasa cukup bayam, tapi kayaknya harus ada pengembangan. Saya sampai buat penelitian dengan variabel lain. Muncullah rasa baru itu, alhamdulillah respons pasar baik," kata Fajar.

Pascamerebaknya jual-beli via daring, Stik Mas Fajar juga dipasarkan melalui niaga elektronik (e-commerce). Pasar Stik Mas Fajar setelah sembilan tahun berjalan sudah menjangkau kota-kota besar di Jawa, Bali, juga ke Kota Bandar Lampung, Medan, dan Makassar.

Menurutnya, banyak yang ingin menjadi reseller Stik Mas Fajar di luar Jawa. Tapi, masih terkendala oleh biaya pengemasan dan logistik yang cukup besar. Produk stik juga rentan hancur jika dikirim dalam partai besar. Karena itu, Fajar masih mencari solusi agar peluang itu bisa dipetik.

Meski begitu, Fajar menuturkan, rata-rata penjualan per bulan sudah mencapai 500 bungkus dari semua varian rasa. Dengan pencapaian, Fajar masih terus merambah pasar baru dan varian rasa lain untuk memanjakan konsumen.

Sehat dan terjangkau

Fajar pun mengungkapkan, sembilan tahun menjalankan bisnis stik olahan sayur bukan tanpa cobaan. Sejak memulai bisnis pada 2011, Fajar ingin mempertahankan nilai sehat dan alami. Stik Mas Fajar menghindari pengawet, pewarna, serta penguat rasa monosodium glutamat (MSG).

Namun, memang, kata Fajar, MSG tidak bisa terhindarkan sekalipun dari bahan sayuran itu sendiri. Sebagai strategi mempertahakan nilai sehat dan alami, Fajar mengatur kadar sayur secara tepat agar MSG yang terkandung tidak menganggu kesehatan. "Ada teknik mengolah khusus. Itulah MSG alami, bisa dimunculkan dan memberi rasa gurih pada makanan," kata Fajar.

Namun, ia mengaku, sering mendapat kritik dari konsumen. Mulai dari warna yang seperti serupa antarrasa, tampilan yang amat sederhana, serta produk yang hanya tahan 45 hari. Banyak pula yang meminta agar produknya dibuat varian rasa pedas dengan tambahan saus sambal atau bubuk cabai curah seperti jajanan.

"Kepada konsumen, saya cuma bilang kami ingin mempertahankan nilai sehat dan alami. Bagi saya, itu kekuatan produk," kata dia.

Meski begitu, Fajar tak menutup mata. Ia akan terus melihat peluang dan keinginan konsumen. Varian rasa akan terus ditambah sembari ia menemukan resep yang pas agar produk Stik Mas Fajar tetap sehat.

Ia mengakui, terdapat banyak produk stik olahan dan membuat persaingan bisnis menjadi ketat. Oleh sebab itu, Fajar menilai, perlu ada khas yang ditonjolkan dari produknya.

Mulai meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan perlu ditangkap oleh pelaku bisnis kuliner dengan menyediakan makanan ringan yang sehat dan berkualitas.

Selain sehat dan alami, Fajar mengatakan, harga stik yang ia pasarkan juga jauh lebih murah ketimbang produk lainnya. Rata-rata produk stik serupa dihargai lebih dari Rp 20 ribu per bungkus. "Ke depan, saya punya cita-cita kalau camilan warung itu bisa naik kelas dan bisa ekspor," ungkap Fajar. ed: fuji pratiwi

===========================

(BOX KREATIPRENEUR)

Mencari Investor dan Sertifikasi Halal

DEDY DARMAWAN NASUTION

Kepada //Republika//, pemilik bisnis Stik Mas Fajar, Fajar Heri Nurcahyo mengungkapkan, tengah mencari investor untuk memperkuat permodalan usahanya. Ia berencana membuka gerai khusus Stik Mas Fajar agar lebih dikenal masyarakat secara langsung. Sebab, selama ini, tempat pembuatan produk masih di rumahnya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Fajar pun belum mempekerjakan karyawan, bisnis masih dijalankan olehnya bersama orang tua dan adik-adiknya di rumah. Saat permintaan cukup banyak, ia memberdayakan ibu-ibu di kampungnya untuk membantu pengemasan.

Setidaknya, kata Fajar, diperlukan suntikan modal Rp 40 juta-Rp 60 juta untuk memperbesar usahanya. "Saya tidak tertarik menggunakan kredit perbankan, jadi saya sudah menjajaki dengan beberapa investor untuk pengembangan Stik Mas Fajar," kata dia.

Modal itu ia gunakan juga sekaligus untuk keperluan biaya sertifikasi halal. Meski awalnya tak memahami soal sertifikasi halal, setelah pemerintah mengumumkan wajib halal, para pelaku usaha mikro berlomba-lomba mendaftarkan produknya.

Antusiasme mengikuti sertifikasi halal dengan harapan bisa memiliki daya tawar yang lebih kuat di kalangan konsumen. Ia menargetkan, tahun ini, kemasan Stik Mas Fajar harus sudah dapat menampilkan label halal untuk menjamin kehalalalan produknya agar makin diterima para penyuka camilan.

"Ini rencana besar saya, punya outlet dan sertifikasi (halal). Kalau dua itu sudah tercapai, baru saya akan memperbesar promosi," ucap Fajar.

Secara paralel, produk Stik Mas Fajar juga tengah dalam proses pengurusan Izin Produk Industri Rumah Tangga (P-IRT), uji angka kecukupan gizi (AKG), serta pembelian alat produksi. Semua itu diharapkan bisa selesai dengan cepat untuk memperkuat posisi produk Stik Mas Fajar di pasar bebas.

Dirinya memahami, semakin besar usaha akan semakin besar pula risiko yang bisa terjadi. Terutama, soal risiko produk tidak habis terjual. Apalagi, Stik Mas Fajar hanya dapat tahan dalam waktu kurang dari dua bulan karena bebas bahan pengawet.

Namun, selama sembilan tahun menjalani usaha, rata-rata produk habis terjual dalam satu minggu untuk satu kali produksi. Strategi produksi yang digunakan adalah dengan memperhitungkan detail rata-rata penjualan dengan tingkat produksi.

Peningkatan produksi dilakukan jika terdapat peluang kenaikan permintaan pada saat-saat tertentu. Atau, Fajar mengencangkan intensitas promosi di media sosial ketika ingin meningkatkan penjualannya. Menurut dia, tidak sulit untuk mendapatkan pembeli dengan kelebihan produk Stik Mas Fajar yang ditonjolkan.

Sambil menanti investor dan kesiapannya membuka gerai, Fajar juga mulai melayani COD di area Jakarta dan Depok dengan tambahan biaya ongkos bahan bakar. Namun, mereka yang membeli dalam partai besar dengan minimal 50 bungkus akan mendapatkan diskon harga. n


×