Kilang minyak (ilustrasi) | Republika

Kabar Utama

10 Mar 2020, 02:00 WIB

Pemerintah Didorong Turunkan Harga BBM 

 

JAKARTA -- Perang produksi minyak antara Arab Saudi-Rusia dan kekhawatiran atas penyebaran virus korona baru (Covid-19) membuat harga minyak dunia turun drastis. Per Senin (9/3), harga minyak dunia berada pada level 36 dolar AS per barel dari biasanya pada kisaran 60 dolar AS per barel. 

Anjloknya harga minyak dunia dinilai memberikan ruang bagi pemerintah dan PT Pertamina (Persero) menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan, pemerintah bisa mendorong Pertamina menurunkan harga BBM nonsubsidi dan yang bersubsidi. 

"Dengan penurunan harga minyak dunia mencapai rata-rata 40 dolar AS per barel, Pertamina bisa menurunkan harga semua jenis BBM," kata Fahmy, kemarin. 

Menurut Fahmy, penurunan harga BBM di tengah anjloknya harga minyak dunia mesti dipertimbangkan. Pertamina, kata dia, jangan hanya menaikkan harga BBM pada saat harga minyak dunia sedang tinggi. "Tapi, juga harus menurunkan harga BBM pada saat harga minyak dunia turun," ujar Fahmi.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (9/3) pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 turun 20,52 persen ke level 35,97 dolar AS per barel. Sementara, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2020 anjlok 20,49 persen ke level 32,82 dolar AS per barel.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN 2020), asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditetapkan sebesar 63 dolar AS per barel. Namun, realisasi harga rata-rata ICP pada Februari 2020 sebesar 56,61 dolar AS per barel, turun 8,77 AS per barel dari posisi Januari 2020 yang mencapai 65,38 dolar AS per barel. Itu belum serendah harga minyak dunia yang menjadi acuan pasar internasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhir pekan lalu mengumumkan, penyebaran virus Covid-19 di berbagai negara di dunia mengakibatkan kekhawatiran atas kondisi ekonomi global dan penurunan permintaan minyak mentah. Selain itu, disebabkan sentimen negatif pasar atas ketidakpastian sikap Rusia terhadap rencana OPEC+ untuk melakukan tambahan pemotongan produksi minyak mentah sebesar 600 ribu barel per hari.

Arab Saudi juga menolak keras usulan pengurangan produksi oleh OPEC. Arab Saudi bahkan ingin meningkatkan produksi lebih dari 10 juta  barel per hari (bph) pada April dengan potongan harga untuk semua kadar minyak mentah dan semua tujuan. Harga yang ditawarkan mulai dari 6 dolar AS hingga 8 dolar AS per barel. Langkah Arab Saudi merupakan respons setelah kesepakatan pembatasan produksi antara OPEC dan Rusia atau disebut sebagai OPEC+ berakhir pada Maret.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, turunnya harga minyak dunia berdampak keras pada sektor hulu migas. Namun, di sisi hilir, kondisi ini merupakan berkah bagi masyarakat.

Jika kondisi harga minyak dunia yang anjlok berlangsung lama, ada peluang bagi pemerintah dan Pertamina menurunkan harga BBM. "Saya kira ini menjadi berkah secara tidak langsung. Ke depan, harga BBM akan turun dan jelas ini pasti akan disambut oleh masyarakat," ujar Mamit, Senin (9/3).

Ia menilai, penurunan harga BBM di tengah harga minyak dunia yang anjlok bisa menjadi stimulus ekonomi bagi masyarakat. Turunnya harga BBM bisa meningkatkan daya beli masyarakat yang sedang lesu karena perekonomian dunia yang sedang melemah. 

"Harapannya dengan kondisi BBM murah, bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain itu, juga dengan murahnya harga minyak, setidaknya bisa mengurangi defisit transaksi berjalan karena harga minyak murah," kata Mamit.

Namun, kata Mamit, kondisi ini juga perlu disikapi secara bijak oleh masyarakat. Meski nantinya ada penurunan harga BBM, masyarakat harus bijak mengonsumsi energi agar angka impor minyak tak meledak. "Asal jangan harga minyak murah, kita justru boros energi dan akhirnya impor kembali meningkat," ujar Mamit.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah belum membuat skenario apa pun di tengah kondisi harga minyak dunia yang sedang anjlok. Menurutnya, pemerintah masih harus melihat pergerakan harga.  "Nanti akan kita bahas. Masih kita kaji dan lihat pergerakannya. Belum ada skenario apa-apa," ujar Arifin di Kementerian ESDM, Senin (9/3).

Ia mengatakan, keputusan untuk menurunkan harga minyak atau tidak harus terlebih dahulu dikoordinasikan dengan berbagai pemangku kepentingan. Namun, menurut dia, penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara. 

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Ego Syahrial memprediksi, penurunan harga minyak tidak akan lama. Ia menegaskan, pergerakan harga minyak tidak bisa dilihat hanya saat mengalami penurunan. "Ya, kan pergerakannya naik-turun. Kita lihat saja dulu," kata dia. 

Pertamina enggan mengomentari peluang penurunan harga BBM. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyerahkan semua keputusan harga BBM kepada pemerintah. "Bukan di Pertamina, harga itu kan di pemerintah," ujar Nicke. 

Stimulus

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, anjloknya harga minyak dunia berpotensi menjadi stimulus bagi ekonomi Indonesia, terutama dari sisi impor migas. Beban anggaran pemerintah untuk biaya impor mungkin saja turun dengan tren ini. 

Sri mengatakan, nilai impor minyak mentah Indonesia cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impornya pada Januari 2020 mencapai 514 juta dolar AS atau 3,6 persen dari total impor saat itu yang sebesar 14,27 miliar dolar AS. 

Penurunan harga minyak juga menjadi indikator akan adanya tren penurunan beban PT Pertamina (Persero), pihak yang mengimpor minyak mentah. "Saya harap ini akan terlihat dari neraca Pertamina," ujarnya ketika ditemui di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (9/3). 

Namun, Sri belum bisa memetakan seberapa besar penurunan beban pemerintah. Sebab, besarnya dampak tren penurunan harga minyak dunia pada Indonesia harus dilihat secara jangka waktu. Apakah hanya bersifat jangka pendek, yang berarti dalam hitungan bulanan akan kembali ke normal, atau justru agak lebih panjang, yaitu hitungan kuartalan hingga semesteran. 

Sri menilai, penentuan jangka waktu itu harus dilihat dari reaksi Rusia terhadap langkah Arab Saudi yang berani dan terbilang mengagetkan. Yaitu, memberikan potongan harga minyak lebih dalam sehingga terjadi perang harga.

Sri memastikan, dinamika dari harga minyak dan pasar minyak dunia ini menjadi salah satu poin yang diperhatikan pemerintah secara serius. Kegagalan dua produsen terbesar minyak dunia, yaitu Arab Saudi dan Rusia, untuk mencapai kesepakatan dalam mengurangi produksi menjadi faktor penyebabnya. n

 


×