Pengunjung menjajal proses transaksi penukaran botol plastik menggunakan Reverse Vending Machine di stan Republika ESGNow saat acara Anugerah Syariah Republika 2023 di Jakarta, Kamis (30/11/2023). | Republika/Thoudy Badai

Iqtishodia

ESG, Kinerja, dan Keberlanjutan Perusahaan

Penerapan ESG dapat memberikan manfaat, baik bagi perusahaan, investor, dan masyarakat.

OLEH Dr Ujang Sehabudin (Dosen Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan
Fakultas Ekonomi dan Manajemen FEM IPB University dan Manajer Sekolah Vokasi IPB University Kampus Sukabumi)

 

ESG adalah singkatan dari environmental, social, and governance, dan mewakili serangkaian kriteria yang digunakan investor dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengevaluasi kinerja dan keberlanjutan perusahaan. Ketiga faktor ini dianggap penting dalam menilai dampak etika dan sosial dari suatu bisnis selain kesuksesan finansialnya.

Penilaian faktor lingkungan, antara lain, berupa jejak karbon perusahaan, konsumsi energi, pengelolaan limbah, penggunaan air, dan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Selanjutnya, faktor sosial bertujuan menjelaskan hubungan perusahaan dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan komunitas di mana perusahaan beroperasi.

Faktor sosial mencakup praktik ketenagakerjaan, keberagaman dan inklusi, hubungan karyawan, hak asasi manusia, keamanan produk, dan keterlibatan masyarakat. Perusahaan yang mengutamakan tanggung jawab sosial sering kali dipandang lebih disukai oleh para pemangku kepentingan.

 

 

Perusahaan yang mengutamakan tanggung jawab sosial sering kali dipandang lebih disukai oleh para pemangku kepentingan.

 

Sedangkan governance (tata kelola) berfokus pada struktur dan proses yang memandu pengambilan keputusan dan akuntabilitas perusahaan, mencakup komposisi dan independensi dewan direksi, kompensasi eksekutif, hak pemegang saham, transparansi, dan praktik bisnis yang etis. Tata kelola yang kuat dipandang sebagai perlindungan terhadap perilaku tidak etis dan membantu memastikan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.

Konsep ESG banyak digunakan oleh investor, manajer aset, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membuat keputusan yang lebih tepat dalam mengalokasikan sumber daya sehingga dapat meningkatkan kinerja bisnis dan keberlanjutan perusahaan. Perusahaan yang menerapkan konsep ESG sering kali dianggap lebih tangguh dan memiliki posisi yang lebih baik untuk mencapai kesuksesan jangka panjang, karena mereka dipandang lebih mampu menghadapi tantangan lingkungan dan sosial, serta dikelola dengan prinsip tata kelola yang kuat.

Investor dapat menggunakan berbagai sistem pemeringkatan, indeks, atau kerangka ESG untuk menilai dan membandingkan perusahaan berdasarkan kriteria ini. Tujuannya adalah mendorong dunia usaha untuk mengadopsi praktik berkelanjutan, mendorong perilaku perusahaan yang bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan.

Penerapan dan integrasi prinsip-prinsip ESG dapat memberikan manfaat, baik bagi perusahaan, investor, dan masyarakat secara keseluruhan. Pertama, manajemen risiko. Faktor-faktor ESG dapat berfungsi sebagai indikator potensi risiko dan peluang bagi dunia usaha. Perusahaan yang secara proaktif mengelola risiko lingkungan dan sosial, serta mempertahankan praktik tata kelola yang kuat, sering kali lebih siap menghadapi tantangan, perubahan peraturan, dan gangguan pasar.

Kedua, kinerja jangka panjang. Perusahaan yang memprioritaskan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial mungkin akan mengalami kinerja keuangan jangka panjang yang lebih baik. Hal ini karena perusahaan-perusahaan tersebut sering kali lebih tangguh, menarik investor yang memiliki kesadaran sosial, dan memiliki posisi yang lebih baik untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar.

 

 

Faktor-faktor ESG dapat berfungsi sebagai indikator potensi risiko dan peluang bagi dunia usaha

 

Ketiga, penghematan biaya. Menerapkan praktik ramah lingkungan, seperti efisiensi energi dan pengurangan limbah, dapat menghasilkan penghematan biaya. Kebijakan yang bertanggung jawab secara sosial, seperti praktik ketenagakerjaan yang adil dan program kesejahteraan karyawan, dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi pergantian pekerja, sehingga berkontribusi terhadap efisiensi biaya secara keseluruhan.

Keempat, peningkatan reputasi. Perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab lingkungan dan sosial, serta praktik tata kelola yang baik, dapat meningkatkan reputasi perusahaan. Persepsi masyarakat yang positif dapat berujung pada peningkatan loyalitas pelanggan, peningkatan nilai merek, dan hubungan yang lebih baik dengan komunitas di lokasi perusahaan beroperasi.

Ketertarikan dan retensi bakat merupakan manfaat ESG berikutnya. Banyak karyawan, terutama generasi muda, semakin termotivasi untuk bekerja di perusahaan yang sejalan dengan nilai-nilai mereka. Menekankan praktik-praktik ESG dapat membantu menarik dan mempertahankan talenta terbaik, sehingga berkontribusi terhadap angkatan kerja yang lebih terlibat dan termotivasi.

ESG bermanfaat dalam hal Kepatuhan dan penyelarasan peraturan

 

 

Selanjutnya, ESG bermanfaat dalam hal Kepatuhan dan penyelarasan peraturan. Praktik tata kelola yang kuat memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan mengurangi risiko masalah hukum. Perusahaan yang proaktif dalam mengatasi permasalahan lingkungan dan sosial memiliki posisi yang lebih baik untuk beradaptasi terhadap peraturan yang terus berkembang dan ekspektasi pemangku kepentingan.

Inovasi dan Efisiensi merupakan manfaat ESG lainnya. Konsep keberlanjutan mendorong inovasi perusahaan dalam mencari solusi yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial. Dorongan untuk berinovasi ini dapat menghasilkan peningkatan efisiensi operasional dan keunggulan kompetitif di pasar.

Manfaat ESG selanjutnya adalah keterlibatan pemangku kepentingan. Inisiatif ESG mendorong komunikasi dan keterlibatan yang transparan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, karyawan, investor, dan komunitas lokal. Hal ini dapat membangun kepercayaan dan membina hubungan positif yang sangat penting untuk kesuksesan jangka panjang.

Selain itu, ESG juga mendorong kepemimpinan global. Perusahaan yang memimpin praktik ESG dapat memposisikan diri mereka sebagai pemimpin industri dalam tanggung jawab perusahaan.

Peran kepemimpinan ini dapat menarik perhatian positif dari pelanggan, investor, dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga berkontribusi terhadap dampak global yang positif. Penerapan prinsip-prinsip ESG dapat berkontribusi pada model bisnis yang lebih berkelanjutan, bertanggung jawab, dan tangguh, memberikan manfaat bagi perusahaan, investor, dan masyarakat dengan mengatasi tantangan lingkungan, mendorong kesejahteraan sosial, dan memastikan tata kelola perusahaan yang efektif.

Tantangan

Meskipun penerapan prinsip-prinsip ESG menawarkan banyak manfaat, terdapat juga berbagai tantangan yang mungkin dihadapi perusahaan ketika mencoba menerapkan praktik-praktik ESG. Pertama, kurangnya standardisasi.

Tidak adanya metrik dan kerangka pelaporan yang terstandardisasi dapat menyulitkan perusahaan untuk mengukur dan membandingkan upaya mereka secara akurat. Kurangnya standar yang konsisten menghambat kemampuan investor dan pemangku kepentingan untuk menilai dan mengukur kinerja ESG di berbagai perusahaan dan industri.

 

 

Pelaporan ESG memerlukan data yang andal dan komprehensif

 

Kedua, kualitas dan ketersediaan data. Pelaporan ESG memerlukan data yang andal dan komprehensif, yang sering kali mencakup berbagai faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola. Banyak perusahaan menghadapi tantangan dalam mengumpulkan, memverifikasi, dan melaporkan data ini secara akurat. Terbatasnya ketersediaan data yang relevan dapat menghambat kredibilitas pengungkapan ESG.

Tantangan ketiga adalah orientasi keuangan jangka pendek. Beberapa perusahaan mungkin memprioritaskan tujuan keuangan jangka pendek dibandingkan tujuan keberlanjutan jangka panjang karena tekanan dari pemegang saham yang berfokus pada keuntungan jangka pendek. Pola pikir yang demikian dapat menghambat upaya untuk berinvestasi dalam praktik berkelanjutan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Tantangan selanjutnya adalah biaya penerapan. Penerapan praktik-praktik ESG yang kuat mungkin memerlukan investasi awal yang signifikan dalam bidang teknologi, sistem, pelatihan, dan proses. Beberapa perusahaan mungkin menganggap biaya-biaya ini sebagai kendala, terutama jika mereka fokus pada tujuan keuangan jangka pendek.

Tantangan berikutnya adalah kurangnya keahlian ESG. Memahami dan menangani isu-isu ESG secara efektif sering kali memerlukan pengetahuan dan keahlian khusus. Banyak perusahaan mungkin kekurangan sumber daya internal atau keahlian yang diperlukan untuk mengembangkan dan melaksanakan strategi ESG yang komprehensif.

Resistensi terhadap perubahan merupakan tantangan lainnya. Resistensi budaya dan organisasi terhadap perubahan dapat menjadi hambatan bagi keberhasilan implementasi inisiatif-inisiatif ESG. Perusahaan dengan praktik yang sudah mengakar dan budaya perusahaan tradisional mungkin merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan pendekatan baru yang berfokus pada keberlanjutan.

 
Memahami dan menangani isu-isu ESG secara efektif sering kali memerlukan pengetahuan dan keahlian khusus
 

Tantangan lainnya yang harus mendapat perhatian adalah investor jangka pendek. Beberapa perusahaan menghadapi tekanan dari investor berorientasi jangka pendek yang memprioritaskan keuntungan finansial jangka pendek dibandingkan tujuan keberlanjutan jangka panjang. Tekanan ini mungkin membuat perusahaan enggan melakukan investasi pada praktik-praktik ESG yang mungkin memerlukan waktu lama untuk menghasilkan manfaat finansial yang terukur.

Ketidakpastian Peraturan sering kali menjadi kendala dalam implementasi ESG. Dinamika peraturan terkait ESG yang berubah secara cepat, sering kali menyulitkan perusahaan untuk mengembangkan strategi jangka panjang dan mengalokasikan sumber daya secara efektif.

Tantangan lainnya adalah kesulitan dalam mengukur dampak sosial. Meskipun faktor lingkungan dan tata kelola dapat diukur dengan lebih mudah, pengukuran dampak sosial dari aktivitas perusahaan sering kali lebih rumit. Menentukan efektivitas inisiatif sosial dan dampaknya terhadap masyarakat dapat menjadi suatu tantangan dan mungkin berbeda-beda antar pemangku kepentingan.

Kekhawatiran greenwashing merupakan tantangan ESG lainnya yang perlu diantisipasi. Beberapa perusahaan mungkin menghadapi skeptisisme dari para pemangku kepentingan mengenai upaya-upaya ESG mereka.

Greenwashing atau praktik menyampaikan kesan yang salah mengenai tanggung jawab lingkungan, dapat menurunkan kepercayaan jika para pemangku kepentingan menganggap bahwa inisiatif ESG tidak memiliki substansi yang jelas.
Untuk mengatasi berbagai tantangan/kendala tersebut, diperlukan upaya bersama dari perusahaan, investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi dan pengembangan kerangka kerja standar, serta peningkatan transparansi dan komunikasi, dapat berkontribusi pada keberhasilan integrasi prinsip-prinsip ESG ke dalam praktik bisnis. Selain itu, pendidikan dan pelatihan dapat membantu membangun keahlian yang diperlukan dalam organisasi untuk menavigasi kompleksitas penerapan ESG.

Peningkatan efektivitas ESG memerlukan komitmen kepemimpinan yang kuat terhadap prinsip-prinsip ESG dari para eksekutif puncak dan dewan direksi antara lain dengan mengintegrasikan pertimbangan ESG ke dalam misi, visi, dan nilai-nilai perusahaan, kemudian mendefinisikan dengan jelas tujuan, target, dan indikator kinerja utama (KPI) untuk setiap komponen ESG dalam proses pengambilan keputusan di seluruh fungsi bisnis.

Peningkatan efektivitas ESG memerlukan komitmen kepemimpinan yang kuat

 

 

Selanjutnya, perusahaan harus senantiasa melakukan komunikasi dengan pemangku kepentingan, termasuk investor, karyawan, pelanggan, pemasok, dan komunitas lokal, untuk memahami harapan dan kekhawatiran mereka serta menumbuhkan inisiatif-inisiatif ESG.

Perusahaan senantiasa melakukan penilaian secara menyeluruh terhadap risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang terkait dengan bisnis, serta memasukkan kriteria ESG ke dalam manajemen rantai pasokan, pengembangan produk, dan operasi sehari-hari.

Selanjutnya, untuk meningkatkan efektivitas ESG diperlukan sistem yang kuat untuk mengumpulkan, mengelola, dan melaporkan data ESG perlu dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja standar, sehingga tercipta transparansi dan komparabilitas.

Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah memberikan program pelatihan dan pendidikan bagi karyawan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu ESG perlu digalakkan. Mendorong partisipasi karyawan dalam inisiatif keberlanjutan dan mengumpulkan umpan balik mengenai peluang perbaikan, sehingga dapat menumbuhkan budaya inovasi untuk mengembangkan produk, layanan, dan proses yang berkelanjutan.

Terakhir, mengembangkan program yang dapat memberikan ruang bagi partisipasi masyarakat yang lebih luas sehingga tercipta kontribusi positif, terutama bagi komunitas lokal sekitar perusahaan. Perusahaan memberikan dukungan terhadap inisiatif sosial dan kegiatan filantropi yang selaras dengan nilai dan prioritas perusahaan.

Dengan demikian, penerapan strategi ESG secara efektif memerlukan pendekatan holistik dan terintegrasi yang selaras dengan nilai-nilai perusahaan, melibatkan pemangku kepentingan, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat