Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/2). | Prayogi/Republika
02 Mar 2020, 08:26 WIB

Resesi Covid-19

 

 

Oleh: Iman Sugema

Dalam beberapa pekan terakhir ini, indeks harga saham di berbagai belahan dunia mulai berjatuhan. Beberapa mata uang mulai mengalami depresiasi karena spekulasi tentang sejauh mana virus korona akan menyebar.

Terkait

Bahkan, negara-negara yang masih terbebas dari penyebaran virus korona sudah mulai merasakan imbas ekonominya. Tidaklah berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa efeknya terhadap perekonomian jauh lebih luas daripada penyebaran virus itu sendiri. Setidaknya, itulah yang sedang kita saksikan sampai detik ini.

Tentu adalah hal yang wajar jika pasar modal dan pasar valuta yang mendapatkan guncangan terlebih dahulu. Kedua pasar ini memang sarat dengan spekulasi dan ekspektasi. Ketika terjadi sebuah ketidakpastian, maka para pemain di bursa akan mengambil langkah seribu untuk secepat-cepatnya keluar dari posisi long atau panjang.

Dalam situasi seperti ini, siapa yang keluar lebih dulu maka dialah yang akan selamat dari rontoknya harga saham dan valuta. Jadi, sepanjang masih belum ada kepastian tentang sejauh mana virus akan menyebar, sepanjang itu pula para pemain di pasar modal akan dihantui dengan potensi kerugian jangka pendek.

 
Sebagaimana telah saya tulis di harian ini sebulan yang lalu, dampak virus korona terhadap perekonomian dunia sangat bergantung pada seberapa luas penyebarannya dan seberapa lama penyakit ini dapat ditanggulangi. Makin lama, makin dahsyat pengaruhnya terhadap perekonomian dunia.
   

Yang harus kita ingat adalah dua hal. Pertama, Cina merupakan lokomotif ekonomi dunia. Dalam beberapa dekade terakhir ini, Negeri Tirai Bambu telah berevolusi menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Resesi ekonomi di Cina tentu akan menyebabkan resesi global. Setiap 1 persen kontraksi ekonomi Cina, pada saat yang sama akan terjadi kontraksi ekonomi dunia sebesar 0,2 persen.

Tentunya kita tidak berharap bahwa akan terjadi kontraksi besar-besaran. Namun, itu sangat bergantung pada kecepatan penanganan virus. Inilah faktor risiko terbesar yang dihadapi ekonomi dunia saat ini.

Faktor risiko ini sudah mulai diantisipasi oleh pelaku pasar dan dimanifestasikan dalam bentuk penurunan harga saham dan gejolak nilai tukar. Sebagaimana kita ketahui bersama, harga saham dan nilai tukar merupakan leading economic indicator, setidaknya dalam jangka waktu tiga sampai enam bulan mendatang. Rontoknya harga saham saat ini merupakan cerminan kekhawatiran tentang ketidakpastian yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Tentunya kekhawatiran itu saat ini sudah mulai terlihat realitasnya. Selain ekonomi Cina yang hampir dipastikan akan mengalami resesi, beberapa wilayah bahkan akan mengalami resesi yang jauh lebih dalam daripada Cina. Wilayah tersebut terutama yang memiliki karakteristik sebagai hub transportasi internasional seperti Singapura dan Dubai atau yang merupakan destinasi pengunjung mancanegara seperti Arab Saudi.

Harap dicatat bahwa pergerakan manusia antarnegara akan berkurang secara tajam. Bukan hanya dari dan ke Cina yang akan menurun, tetapi pada umumnya setiap orang akan mengurangi aktivitas bepergian ke luar negeri, terutama ke wilayah penyebaran virus. Oleh karena itu, di berbagai negara, kita akan menyaksikan merosotnya jumlah penumpang udara dan okupansi hotel.

Selanjutnya, kita juga akan menyaksikan semakin merosotnya perdagangan dunia dari dan ke wilayah yang terindikasi infeksi virus. Semakin luas cakupan penyebarannya, semakin dalam kemerosotan perdagangan.

Bahkan, bisa jadi kita akan menyaksikan kelangkaan beberapa jenis barang tertentu. Untuk bawang putih, misalnya, kelangkaan itu sudah kita rasakan. Bukan hanya karena impor tidak berjalan, melainkan juga karena dilakukannya penimbunan oleh para spekulan. Antisipasi terjadinya kelangkaan pada masa yang akan datang selalu memicu penimbunan, karena itu kemudian harga melambung sekarang.

Kelangkaan berbagai jenis barang kelak akan menjadi berita harian yang bertubi-tubi. Saat ini, skalanya masih relatif terbatas karena produsen masih memiliki stok di gudang. Pada akhirnya, stok akan habis dan inflasi akan terjadi di seluruh dunia.

Inflasi dunia menimbulkan dilema tersendiri. Sementara kenaikan harga menimbulkan penurunan daya beli, bank sentral perlu memacu pertumbuhan ekonomi dengan cara menurunkan suku bunga. Nah, persoalan baru kemudian timbul karena berbagai negara besar sudah kehilangan amunisi untuk menurunkan suku bunga. Di Amerika Serikat, misalnya, suku bunga hanya sekitar 1,4 persen saja. Ruang untuk penurunan suku bunga sudah hampir habis.

Di lain pihak, investasi asing juga akan cenderung berkurang. Sebagian karena melakukan wait and see atau menunggu kejelasan arah perkembangan ekonomi dunia. Sebagian lagi karena harus menumpuk cadangan cash supaya bisa melalui masa-masa sulit. Kreditor juga akan memupuk cadangan kerugian dan karena itu pemberian kredit baru akan terbatas.

Hampir bisa dipastikan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada aliran investasi asing dan perdagangan internasional akan menjadi negara yang paling terdampak. Di kawasan ASEAN, misalnya, Singapura, Malaysia, dan Thailand akan terdampak lebih buruk daripada Indonesia.

Satu-satunya harapan bagi penduduk dunia adalah agar wabah korona ini bisa cepat berlalu. Para ahli di seluruh dunia sekarang ini sedang berkonsentrasi untuk menemukan cara menghentikan penyebaran korona. Semoga saja dalam waktu tak lama lagi vaksin korona akan ditemukan oleh salah satu ahli virus, entah di negara mana pun.

Oh ya, ada satu pesan dari Warren Buffett, salah satu orang terkaya di dunia, untuk Anda yang memiliki uang banyak. Menurut dia, penurunan harga saham hanyalah fenomena sementara. Prospek ekonomi dunia dalam jangka panjang tidak akan terpengaruh.

Dalam jangka pendek, ekonomi dunia memang akan menggigil sejalan dengan persebaran penyakit. Namun, begitu penyebaran virus dapat dihentikan atau dikendalikan, tren ekonomi dunia akan kembali ke trek semula dengan cepat. Implikasinya, bagi Anda yang memiliki uang, inilah saatnya untuk mengintensifkan investasi. Mumpung harga saham sedang turun. Selalu ada kesempatan dalam kesempitan. n


×