ILUSTRASI Ibnu al-Nafis merupakan dokter pribadi sultan Ayyubiyah Mesir sekaligus kepala rumah sakit kerajaan setempat pada abad ke-13. | DOK WIKIPEDIA

Mujadid

Ibnu al-Nafis Meluruskan Teori Galenus

Al-Nafis menyimpulkan, darah di dalam bilik kanan jantung mengalir ke bilik kiri melalui paru-paru, bukan via lubang kecil seperti diduga Galenus.

Jim al-Khalili dalam The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance memuji Ibnu al-Nafis (1213-1288) sebagai ahli fisiologi terbesar dari abad pertengahan. John Freely dalam Light from the East menyebutnya “Ibnu Sina Kedua.” Semua apresiasi itu mengindikasikan besarnya pengaruh sang ilmuwan Muslim dalam bidang keilmuan medis.

Memang, ada perdebatan di kalangan penulis kekinian mengenai pengaruh langsung Ibnu al-Nafis terhadap para pakar kedokteran Eropa sejak Era Renaisans. Mohammed T Numan dalam “Ibn Al Nafis: His Seminal Contributions to Cardiology” (2014) menerangkan, Andrea Alpago (1450-1522) menerjemahkan Sharh Tashrih al-Qanun karya Ibnu al-Nafis ke dalam bahasa Latin.

Orang Italia itu bukanlah satu-satunya yang membawa ide-ide dan pemikiran sang ilmuwan Muslim ke Benua Biru. Humanis Spanyol, Michael Servetus (1511-1553) diketahui pernah memaparkan berbagai temuan Ibnu al-Nafis dalam Christianismi Restitutio yang terbit pada 1553. Anehnya, lanjut Numan, Servetus tidak menyebutkan nama sarjana Arab tersebut sebagai rujukannya.

Servetus diketahui pernah belajar di Universitas Padua, Italia. Koleganya, semisal Andreas Vesalius (1514-1564), juga sempat menjabarkan tentang sistem peredaran darah minor di karya mereka. Masih berkaitan dengan kampus yang sama, William Harvey tercatat sebagai mahasiswa Padua antara tahun 1597 dan 1602. Begitu kembali ke London pada 1628, ilmuwan Inggris itu menerbitkan Exercitatio Anatomica de Motu Cordis et Sanguinis in Animalibust (Risalah Mengenai Anatomi Gerakan Jantung dan Darah).

Ehsan Masood dalam Ilmuwan-ilmuwan Muslim memaparkan, beberapa karya Ibnu al-Nafis yang bertarikh 1242 ditemukan di Perpustakaan Negara Prussia, Berlin, Jerman. Dalam risalah tersebut, tampak deskripsi sang fisiolog Muslim tentang kritiknya terhadap Klaudius Galenus—yang meyakini bahwa darah merembes via satu bilik jantung ke bilik lainnya melalui lubang kecil yang membagi kedua bilik itu.

photo
Sistem faal menurut Klaudius Galenus. (Inzet: ilustrasi Klaudius Galenus dibuat pada abad ke-18) - (dok wikipedia)

Ibnu al-Nafis menulis, dirinya telah memeriksa banyak jantung, baik sendirian maupun dilihat sejumlah saksi. Dan, ia tidak menemukan adanya lubang, yang sebagaimana digambarkan Galenus. Al-Nafis pun menyimpulkan, darah di dalam bilik kanan jantung mengalir ke bilik kiri melalui paru-paru, bukan via lubang kecil yang dinyatakan tabib Yunani Kuno tersebut. Hal yang ditunjuk penulis Al-Syamiil fii al-Thibb (Risalah Komprehensif Mengenai Ilmu Medis) itu biasa disebut oleh para ilmuwan atau dokter era modern kini sebagai transit pulmonary atau sirkulasi darah minor.

Mengutip Seyyed Hossein Nasr dalam Science and Civilization in Islam (1968), berikut ini penjelasan dari Ibnu al-Nafis, sebagaimana diterjemahkan Heriyanto (2011).

“Darah dari bilik kanan jantung mengalir lewat alteri pulmonari (nadi paru-paru) menuju paru-paru untuk menyebar di sana dan bercampur dengan ‘udara’ sampai titik darah yang terakhir untuk dibersihkan. Darah lalu mengalir melalui vena pulmonari sampai ke bilik kiri jantung setelah bercampur dengan udara segar untuk membangkitkan sukma vital (vital spirit). Karena itulah, antara kedua pembuluh itu (arteri dan vena pulmonari) terdapat pembuluh-pembuluh kecil yang masih dapat dilihat.”

Yang dimaksud Ibnu al-Nafis dengan “sukma vital” itu adalah oksigen dalam peristilahan medis kini. Jadi, ia menemukan bahwa darah yang telah bercampur oksigen dari paru-paru masuk melalui vena pulmonari ke serambi kiri jantung. Darah bersih ini sampai ke bilik kiri, untuk kemudian dipompa ke seluruh tubuh.

Dengan penemuannya tentang mekanisme arteri dan vena pulmonari, Ibnu al-Nafis pun sampai pada deskripsi yang akurat mengenai fisiologi jantung. Ia dengan tepat menjelaskan fungsi masing-masing serambi dan bilik, baik pada sisi kiri maupun kanan, di dalam organ tersebut. Melalui eksperimen dan pengamatan langsung pula, ia menyatakan bahwa tidak ada saluran antara kedua bilik itu.

Alhasil, teori Galenus tentang “pori-pori tersembunyi” di dalam jantung terbantahkan. “Jadi, tentunya darah cair itu—yang bisa bercampur dengan udara—harus melewati urat nadi menuju paru-paru, di mana dia bercampur dengan udara dan menjadi encer. Kemudian, melalui pembuluh yang halus (vena pulmonari), dia mengalir ke bilik kiri jantung,” tulis Ibnu al-Nafis.

photo
Patung-dada Ibnu al-Nafis. Ilmuwan dari era keemasan peradaban Islam ini berjasa dalam mengungkapkan sistem peredaran darah jantung dan paru-paru. - (DOK WIKIPEDIA)

Maka, jelaslah bahwa al-Nafis telah mengoreksi kesalahpahaman yang pendahulunya, Galenus. Tabib yang berasal dari era peradaban Yunani Kuno itu hidup pada abad kedua Masehi. Galenos Pergamon, demikian nama aliasnya, menulis banyak risalah (treatises) anatomi, termasuk 17 jilid Tentang Kegunaan Bagian Tubuh Manusia serta Mengenai Doktrin-doktrin Hippokrates dan Plato.

Selama 600 tahun, pemikiran Galenus memengaruhi para dokter dan ahli ilmu faal. Gagasan-gagasannya cenderung menjadi kiblat atau bahkan dogma "tak terbantahkan" bagi sebagian besar ilmuwan pada masa itu demi menjelaskan fungsi organ-organ tubuh manusia.

Karya-karya Galenus untuk pertama kalinya diterjemahkan secara komprehensif ke dalam bahasa Arab pada abad kesembilan. Penerjemahnya adalah Hunain bin Ishaq, seorang Kristen Nestorian yang masyhur dengan julukan “Syekh Alih Bahasa” di Baghdad. Hasil kerja Ibnu Ishaq disambut positif para dokter di wilayah Kekhalifahan Abbasiyah. Bahkan, khalifah saat itu, al-Ma’mun mengangkatnya sebagai kepala seksi penerjemahan naskah-naskah non-Arab di Bait al-Hikmah.

 
Sudah ada beberapa sarjana Muslim yang mengkritik Galenus sebelum Ibnu al-Nafis melakukannya.

Sesungguhnya, sudah ada beberapa sarjana Muslim yang mengkritik Galenus sebelum Ibnu al-Nafis melakukannya. Misalnya, Abu Bakar al-Razi (865-935) yang menulis Al-Syukuk ‘alaa Jalinus (Keraguan-keraguan terhadap Galenus). Dalam buku tersebut, sosok yang dinamakan Rhazes oleh orang-orang Eropa itu meragukan teori Galenus tentang empat cairan utama tubuh (humor).

Dalam pandangan Galenus, yang diikuti para dokter-dokter Yunani klasik, ada keempat humor yang begitu menentukan kondisi manusia. Keempatnya adalah cairan empedu hitam (melaina chole), cairan empedu kuning (chole), lendir (phlegma), dan darah. Diasumsikannya bahwa kelebihan atau kekurangan salah satu dari keempat cairan tubuh itu pada diri seseorang akan memengaruhi kesehatan dan wataknya.

Sementara, Abdul Malik bin Zuhri (1094-1162) dipuji oleh Ibnu Rusyd (1126-1198) sebagai “dokter paling cemerlang sesudah Galenus.” Deskripsinya mengenai sakrum dinilai lebih akurat daripada tabib Yunani klasik itu. Sosok yang disebut Avenzoar itu juga menggambarkan tulang ekor sebagai tulang yang terpisah dari tulang punggung dan terdiri atas tiga bagian. Demikianlah, kritik Ibnu al-Nafis terhadap legasi ilmu dari peradaban Yunani Kuno merupakan satu mata rantai dari keseluruhan kajian yang dilakukan para ilmuwan Muslim pada masa keemasan Islam.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Biografi Ibnu al-Nafis, Sang Bapak Fisiologi Sirkulasi

Ia hidup 350 tahun sebelum William Harvey, ilmuwan yang sering diklaim Barat sebagai penemu teori sirkulasi paru-paru dan jantung.

SELENGKAPNYA

Langkah Cermat Sebelum Menjual Ponsel Kita

Simpan semua bukti transaksi jual beli gawai bekas dan beragam data penting yang terkait.

SELENGKAPNYA

Dorong Gencatan Senjata, Asisten Menlu Inggris Dipecat

Bristow mengatakan gencatan senjata penuh akan menyelamatkan nyawa

SELENGKAPNYA