Sejumlah model memakai busana karya sejumlah desainer tanah air pada gelaran Muslim Fashion Festival 2020 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (20/2). Thoudy Baday/Republika | Thoudy Baday/Republika

Modis

29 Feb 2020, 02:00 WIB

Membaca Gaya Busana Muslim 2020

Karakter dan identitas Muslimah di Indonesia sangat beragam yang berdampak pada bervariasinya model busana.

 

 

Berbicara soal tren busana, setiap tahunnya pasti lahir mode baru yang berbeda. Ada banyak faktor yang mendorong perubahan hingga menciptakan tren. Beberapa faktor tersebut antara lain faktor lingkungan, teknologi, gender, dan manusia.

Saat ini, kepedulian mengenai lingkungan semakin meningkat, termasuk di industri fesyen. Kepedulian akan lingkungan menciptakan empat kelompok perubahan yang membentuk tren, yaitu kelompok essential, spiritual, exploitation, dan exploration.

 

Berdasarkan beberapa pengelompokan tersebut, Fashion Consultant Indonesia Trend Forecasting (ITF) Dina Mediani mengungkap beberapa tren yang diprediksi akan banyak muncul beberapa tahun ke depan (2021-2022). Menurut dia, desain-desain dengan tema, seperti soft minimal, light, clean, fresh and simple, serta wavy, dan tema-tema urban, retro, authentic/naïve, casually wacky, dan boxy bakal menjadi tren mode busana tahun ini.

 

“Tren ini terutama untuk kelompok essential/melalui penggunaan cutting yang loose dan simpel dengan warna-warna  soft, pale, dan natural,” kata Dina Mediani dalam acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

 

Tren untuk kelompok spiritual akan didominasi oleh tema-tema budaya dengan kearifan lokal dan bernuansa alam. Tema tren untuk kelompok exploitation terlihat dari desain-desain yang serbamaksimal atau bahkan hiperbola. Sedangkan, untuk kelompok exploration, tema desain akan banyak dipengaruhi oleh teknologi dan mengesankan desain yang eksentrik, futuristik, radikal, absurd, dan dreamy.

Sementara itu, pada tahun 2020, jenama busana Muslim Dauky akan tetap konsisten menghadirkan busana dengan desain simpel dan motif 'aman'. Warna yang digunakan akan tetap dominan warna dasar, zaitun, juga kuning mustard.

 

Vice President Dauky, Tika Mulya, mengatakan, desain busana simpel sangat ideal dikenakan oleh Muslimah yang aktif dan ingin stylish, tapi enggan ribet. "Karena, sekarang itu kan semua orang aktif. Ada yang kerja, jadi influencer, working mom, dan mereka itu ingin pakai busana yang stylish, namun tidak mau ribet. Warna basic juga memudahkan di-mix and match," kata Tika di area MUFFEST.

Meski cuttingan-nya simpel, Dauky tetap menambahkan beberapa aksen sederhana untuk mempercantik pakaian. Misalnya, dengan menambahkan tali pada bagian depan dan pemanis lainnya.

 

Dalam MUFFEST 2020, bekerja sama dengan fashion influencer dari New York, Dauky membawa sekitar 20 koleksi terbarunya bertemakan Manhattan dan Brooklyn. "Koleksi ini menggambarkan wanita Muslimah punya tempat di mana pun dia mau. Mereka bisa hidup bebas, mau kerja dan shalat bisa," kata Tika.

Sementara itu, untuk tren scarf, Dauky tetap memainkan desain print digital dengan memainkan geometrisnya degan desain abstrak yang dinamis.

 

Tidak jauh beda dengan Tika, desainer busana Muslim dari Jawa Tengah Ina Priyono juga akan menghadirkan busana dengan warna-warna yang cerah, seperti warna oranye, kuning mustard, dan warna berani lainnya. Menurut Ina, busana dengan warna cerah secara khusus membidik para Muslimah milenial. Meski demikian, Ina juga bakal tetap memproduksi pakaian dengan warna-warna earth tone.

 

“Warna-warna tanah tetap diproduksi untuk Muslimah dewasa. Nah, untuk desain akan bergantung pada umur atau sasaran pembeli, tapi pada umumnya, desainnya sudah pada berani, misalnya garis-garis hijau, kuning, hitam, dan merah,” kata Ina saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

 

Ina yang sudah berkecimpung di dunia mode sejak 2013 itu tetap mengingatkan agar para Muslimah tetap membeli fesyen yang sesuai dengan karakter. Dia mengaku, karakter dan identitas Muslimah di Indonesia sangat beragam yang berdampak pada bervariasinya model busana. “Muslim di Indonesia tipikalnya beragam, identitasnya beragam. Justru itu yang membuat kita harus tahu pasar kita ke mana,” kata Ina.

 

Warna hit 2020

Di sisi lain, pada era digital dengan teknologi yang terus berkembang dengan cepat, masyarakat tampaknya condong ke arah warna yang menenangkan dan memiliki kualitas perlindungan yang kokoh.

 

“Kita hidup di masa yang membutuhkan waktu dan keyakinan. Itulah sebabnya mengapa keteguhan dan kepercayaan diri yang diekspresikan oleh warna biru yang solid dapat dipilih dan diandalkan,” kata Direktur Eksekutif Pantone Colour Institute, Leatrice Eiseman, seperti dilansir dari Independent.

 

Pantone yang merupakan lembaga spesialis pengaturan warna asal Amerika Serikat (AS) ini memang memprediksi warna biru klasik yang menonjolkan kesan sejuk dan berwibawa menjadi warna yang akan hit sepanjang tahun 2020. Ini menandai ketujuh kalinya warna biru dipilih oleh Pantone sebagai warna yang bakal tren sejak tahun 1999 dengan warna Cerulean, yaitu rona biru cerah, Aqua Sky (2003), dan Blue Turquoise dua tahun kemudian.

 

Eiseman mengungkapkan, warna biru klasik menjadi sebuah penggambaran dunia tak berbatas, pikiran terbuka, komunikasi, hingga kepercayaan diri menyambut hari baru. Hal-hal tersebut jadi penanda perkembangan zaman pada era digital yang serbacepat dan tak terbatas.

 

“Warna Pantone of the Year menyoroti hubungan antara tren warna dan apa yang terjadi dalam budaya global kita pada saat tertentu, warna yang mencerminkan perasaan setiap individu, dan menjawab apa yang dibutuhkan di era sekarang,” kata Wakil Presiden Pantone Colour Institute Laurie Pressman.

 

Masih terkait dengan teknologi dan era digital, berbagai industri fesyen dan kalangan desainer memanfaatkan platform dari e-commerce untuk akses yang lebih mudah bagi masyarakat mendapatkan karya-karya desainer. Tika ataupun Ina sepakat, penjualan daring dan luring saling mendukung.

 

Menurut Tika, adanya gerai atau butik sangat menunjang terjalinnya interaksi dengan pelanggan sekaligus memfasilitasi pelanggan yang ingin mengeksplorasi koleksi Dauky lebih dekat. Penjualan melalui daring pun tentu memberikan keuntungan yang luar biasa karena jangkauannya yang luas.

 

Ina juga memiliki pemahaman yang sama bahwa penjualan daring lebih menjanjikan. Namun, keberadaan gerai fisik tetap penting guna menjalin kedekatan dengan pelanggan. “Kita bisa berbincang langsung dengan pengunjung, berdiskusi, dan berbagi terkait produk yang kami buat ini.”

 

Sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat, dia juga menggaet sejumlah UKM binaan pembatik di Semarang. Ina langsung mengajarkan desain, strategi pemasaran, juga pengelolaan keuangan. Bagi dia, pembinaan jadi ajang bakti terhadap negeri dengan harapan makin banyak pengusaha lokal yang bisa go-international. n 

 

 

Tetap Trendi Berbalut Busana Muslim

 

Tren busana Muslim makin berkembang pesat di Indonesia. Bahkan, busana Muslim tidak lagi dipandang jadul dan ketinggalan zaman karena busana Muslim mulai memiliki tempat di hati para pencinta mode.

 

Mode busana Muslim yang trendi, anggun, tapi tetap sesuai syariat Islam kian dibutuhkan masyarakat. Namun, di balik semua tren busana tersebut, setiap Muslimah juga tetap bisa memilih gaya busana yang merepresentasikan tiap-tiap karakter dan kepribadiannya.

 

Fashion Blogger Muslim Qonitah al-Jundiah atau akrab disapa Thatal punya caranya sendiri untuk tetap stylish dengan balutan busana yang sesuai syariat. Mode busananya simpel, dengan memainkan perpaduan warna dan mix and match-nya jadi andalan Thatal.

 

Namun, bagi alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu, kenyamanan adalah yang terpenting. Busana yang sesuai syariat dengan sendirinya akan memberikan kenyamanan. "Ketika kita berbusana sesuai syariat, dada ketutup, pakaian tidak menerawang, pasti itu nyaman. Twist-nya tergantung gaya masing-masing. Intinya berpakaian itu membuat kita tenang dan nyaman," kata dia di acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020 di JCC Senayan, beberapa waktu lalu.

 

Sebagai seorang influencer, Thatal berperan memberikan inspirasi fesyen hijab kepada para pengikutnya di media sosial. Beberapa tahun lalu, dia sering membuat video tutorial berhijab. Kini, Thatal lebih sering membagikan ide tentang outfit of the day (OOTD) atau gaya busananya sehari-hari. "Kini orang juga bukan hanya follow aku karena busana saja. Namun, sekarang udah hampir semua hal yang aku sharing," kata Thatal.

 

Diwawancarai secara terpisah, selebritas Tanah Air Risty Tagor juga tak jauh berbeda dengan Thatal. Muslimah yang konsisten bersyar'i ini mengaku, selalu mengutamakan kenyamanan dalam mengenakan pakaian. "Yang pasti nyaman karena kegiatan aku juga lumayan, jadi pakaian yang nyaman itu penting," kata Risty, juga dalam kesempatan yang sama.

 

Risty juga memperhatikan bahan dan potongan busana. Misalnya, bahan pakaiannya yang adem, potongannya sederhana, tapi tetap gaya. Dia juga senang mengenakan pakaian yang mendukung aktivitas bekerja dan kegiatan lainnya. "Jadi, meskipun tren sedang seperti itu, tapi kalau aku nyaman dan bajunya menunjang aktivitasku, aku akan tetap memakainya," kata pemilik jenama fesyen Muslim bernama Ristyland.

 

Meski kini sudah tidak aktif di dunia hiburan, followers Risty di Instagram mencapai 1,8 juta. Melalui platform Instagram, Risty sering berbagi tips berbusana dalam kesehariannya atau kala berlibur bersama buah hati.

 

Tak cukup di situ, dia masih konsisten mengampanyekan busana syar'i sebagai media mempermudah ibadah, terutama shalat. Selama ini, kata dia, cukup banyak Muslimah yang melewatkan shalat karena alasan mukena kotor, bau, dan lainnya.

 

"Jadi, dengan kita bisa menggunakan baju syar'i dan menggunakan kaus kaki, enggak ada alasan lagi untuk tidak shalat. Dengan pakaian ini, di mana pun kita tetap bisa beribadah," kata Risty. n


×