Warga mengikuti Pink Parade di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan yang diikuti ratusan peserta itu merupakan kampanye gerakan melawan kanker payudara. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. | ANTARA FOTO

Medika

Deteksi Dini Penanganan Kanker adalah Kunci

Sekitar 43 persen kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini.

Sekitar 43 persen kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini. Kanker payudara saat ini menempati urutan pertama terkait jumlah kanker terbanyak di Indonesia serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker. Data Globocan pada 2020 menunjukkan, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus.

Jumlah ini berarti 16,6 persen dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Sementara itu, untuk jumlah kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa kasus. Padahal sekitar 43 persen kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.


Dokter spesialis bedah onkologi di RS Siloam MRCCC Samuel J Haryono menggarisbawahi pentingnya tes genetik dalam upaya pencegahan dan penanganan kanker payudara. Dia menyoroti signifikansi berbagi data genetik serta memberikan penekanan pada manfaat yang dapat diperoleh melalui pemahaman lebih mendalam tentang faktor genetik yang memengaruhi kanker. “Penyakit ini memiliki penyebab yang bervariasi, termasuk faktor genetik gaya hidup dan hormonal,” kata Samuel dalam acara MammoReady di Jakarta, Sabtu (21/10/2023).

photo
Jakarta Goes Pink 2015: Peserta mengikuti jalan santai dalam kegiatan Jakarta Goes Pink 2015 di kawasan Senayan Jakarta, Ahad (4/10). Berkenaan dengan bulan peduli kanker payudara, komunitas peduli kanker payudara Lovepink mengadakan kampanye selama satu bulan penuh selama Oktober 2015. Yasin Habibi/ RepublikaJakarta - (Republika/ Yasin Habibi)

Samuel menjelaskan, dengan bantuan tes genetik, pasien mampu memahami faktor risiko yang dapat atau tidak dapat mereka kendalikan. Dia mengelompokkan faktor risiko ini menjadi dua kategori, yaitu faktor risiko yang dapat dikelola, seperti pola makan dan gaya hidup, dan faktor risiko yang tidak dapat dikelola, seperti mutasi genetik tertentu.


Mutasi genetik, dia , dapat memengaruhi tingkat risiko terkena kanker, sehingga melalui tes genetik, pasien bisa mengidentifikasi faktor-faktor ini. Lebih lanjut, Samuel membicarakan sejumlah faktor risiko yang melibatkan genetik, termasuk riwayat keluarga, mutasi genetik tertentu, radiasi, dan faktor-faktor reproduksi.


Dia menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan pola makan dalam mengelola risiko kanker. Dalam konteks pencegahan, Samuel menyebutkan, pola makan sehat dan olahraga dapat membantu mengurangi risiko.


Dia juga menggarisbawahi signifikansi terapi hormonal dan faktor reproduksi dalam hubungannya dengan kanker payudara. Samuel juga menekankan pentingnya skrining kanker yang dapat membantu mendeteksi kanker pada tahap awal.

photo
Warga mengikuti Pink Parade di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan yang diikuti ratusan peserta itu merupakan kampanye gerakan melawan kanker payudara. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. - (ANTARA FOTO)


Ada konsep precision therapy, yang melibatkan penanganan kanker yang lebih tepat sasaran berdasarkan pemahaman genetik individu. Samuel mengatakan, pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor genetik yang memengaruhi kanker dapat membantu individu untuk mengambil tindakan proaktif dalam menjaga kesehatan mereka.


Selain itu, berbagi data genetik dapat mendukung penelitian kanker dan membantu dalam pengembangan terapi yang lebih efektif. Menyambut Bulan Kesadaran Kanker Payudara, usaha rintisan uji genetik di Asia Tenggara, NalaGenetics, telah merilis MammoReady.


Ini merupakan sebuah tes prediksi risiko kanker payudara yang mengintegrasikan analisis DNA komprehensif berdasarkan tiga jenis risiko utama, yaitu risiko poligenik, risiko klinis, dan risiko monogenik. Risiko poligenik memberikan skor yang memperkirakan risiko perkembangan penyakit kanker payudara dalam lima tahun ke depan.


Sementara risiko monogenik mempertimbangkan faktor-faktor kesehatan tertentu dengan memeriksa gen seperti BRCA1 dan BRCA2, yang berperan penting dalam kanker payudara. Terakhir, risiko klinis mengevaluasi individu berdasarkan faktor risiko klinis dan genetik, mengkategorikan mereka sebagai berisiko tinggi atau rata-rata.

CEO dan Co-founder NalaGenetics, Levana Sani menjelaskan produk MammoReady adalah hasil inovasi yang terinspirasi oleh pengalaman pribadi tim yang memiliki latar belakang dalam kesehatan dan kanker. “Kami menyadari betapa pentingnya deteksi dini penyakit, terutama kanker payudara, dalam mengetahui risiko dan langkah-langkah yang perlu diambil,” kata Levana dalam kesempatan yang sama.

Biaya Pengobatan Kanker di Indonesia - (Republika)

 
Tes prediksi ini merupakan langkah awal, di mana NalaGenetics sedang mempertimbangkan pengembangan serupa untuk berbagai penyakit lainnya. NalaGenetics berkomitmen untuk meningkatkan hasil pasien dan mempromosikan perawatan preventif di wilayah Asia Tenggara.


Peluncuran Tes Prediksi Risiko Kanker Payudara MammoReady diharapkan akan memberikan dampak signifikan pada industri bioteknologi dan masyarakat umum. "Sebagai anggota keluarga pasien kanker payudara, saya sangat berharap bahwa tes ini akan memberikan jawaban dan rekomendasi untuk tindakan preventif,” ujar Levana.

Tes MammoReady dikembangkan dengan menggunakan teknologi dan data genomik terbaik yang sesuai dengan populasi di Indonesia. Sehingga memberikan nilai prediksi positif yang mendekati hasil skrining Mammogram.

 

kanker di Indonesia - (Republika)

  ​


Tes ini dapat memberikan rekomendasi tentang frekuensi kunjungan ke dokter, usia awal untuk melakukan mammogram, serta resep obat dan prosedur pencegahan kanker, tentu saja dengan persetujuan dokter dan pasien. Risk Prediction Product Manager NalaGenetics, Eric Aria Fernandez menjelaskan, hasil prediksi dari MammoReady dibagi menjadi dua kategori, yaitu average atau rata-rata dan elevated atau meningkat.


Kategori average menunjukkan, risiko kanker payudara setara dengan risiko masyarakat umum, sementara kategori elevated menunjukkan risiko yang lebih tinggi dari masyarakat umum. Eric menekankan, ini adalah prediksi, bukan diagnosa.


Hasil memberikan rekomendasi mengenai tindakan yang sebaiknya didiskusikan dengan dokter yang berwenang. Tes prediksi risiko kanker payudara MammoReady dirancang untuk kemudahan penggunaan, hanya melalui tiga langkah sederhana, yaitu pengumpulan sampel dengan swab non-invasif yang dapat dilakukan di rumah, pengujian genetik, dan penerimaan hasil. Hasil tes tersedia dalam waktu empat sampai enam pekan melalui file PDF dan aplikasi seluler NalaGenetics.

 

 

 
Penyakit ini memiliki penyebab yang bervariasi, termasuk faktor genetik gaya hidup dan hormonal. 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Pusat Kanker Komprehensif, Strategi Tingkatkan Pengendalian Kasus

Hampir sepertiga hingga setengah kanker di Indonesia dapat dicegah.

SELENGKAPNYA

Kebiasaan Mager dan Peluang Hadirnya Kanker

Gaya hidup yang meliputi pola makan buruk dan kurang aktivitas, berpotensi menimbulkan kanker di usia 50 tahun ke bawah.

SELENGKAPNYA