Warga mengambil air bersih dari galian sungai kering di Dusun Ketro Barat, Karangrayung, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (6/9/2023). Warga Dusun Ketro Barat terpaksa menggali sungai yang kering untuk mendapatkan air bersih saat musim kemarau. Menurut warga, d | Republika/Wihdan Hidayat

Sains

Modifikasi Cuaca, Bukan Membuat Hujan

Meski orang mengenal dengan hujan buatan, tetapi BRIN tidak bisa membuat hujan.

Anda tentunya pernah mendengar tentang bagaimana mengubah cuaca. Penyemaian awan adalah cara umum untuk mengubah cuaca. 

Dilansir Now, Senin (25/9/2023), ide penyemaian awan bukan untuk menciptakan awan dari udara tipis, melainkan untuk memeras setiap tetes hujan dari awan yang terbentuk secara alami. Penyemaian awan bekerja dengan menambahkan zat ke awan dengan menembakkannya dari tanah atau menjatuhkannya dari pesawat.

Udara sudah mengandung uap air, tapi penyemaian awan dapat mendorong air mengembun hingga jatuh dari langit. Biasanya, ketika udara naik ke atmosfer, ia mendingin dan membentuk partikel yang disebut inti es, yang berkumpul membentuk awan.

photo
Pengendara melintasi jalan yang masih tergenang banjir di Jalan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Ahad (7/5/2023). Banjir akibat luapan air Sungai Citarum yang dipicu curah hujan yang tinggi kembali merendam sejumlah wilayah di Kecamatan Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Saat ini banjir berangsur-angsur surut, tapi dengan intensitas hujan yang masih tinggi, warga dan petugas terkait tetap waspada jika ketinggian air citarum kembali meningkat. - (Edi Yusuf/Republika)

Jika jumlah tetesan awan ini cukup banyak, mereka akan bertambah besar hingga menjadi cukup berat. Sehingga akan jatuh ke tanah dalam bentuk presipitasi, yang ditentukan oleh suhu dan kondisi lainnya.

Metode ini juga menambahkan “benih” akan memberikan dorongan pada awan dengan menciptakan inti es yang tumbuh lebih cepat dan lebih besar dari biasanya. Sementara itu, di Indonesia terdapat teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Ini bukanlah hal baru bagi Indonesia karena sejak 1977, TMC sudah dimulai. Kala itu, proyek tersebut lebih dulu dikenal dengan istilah hujan buatan. 


Dilansir dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ide itu muncul saat mantan presiden Republik Indonesia (RI) Soeharto melihat pertanian di negara Thailand cukup maju. Setelah diamati, majunya pertanian Thailand disebabkan pasokan kebutuhan air pertanian dibantu oleh modifikasi cuaca. 


Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN Budi Harsoyo saat ditemui di Posko TMC yang berlokasi di Wing Udara 1 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Kamis (29/12/2022) menyebutkan, setelah melakukan percobaan hujan buatan 1977, baru 1978 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berdiri dan proyek hujan buatan saat itu berada pada Direktorat Pengembangan Kekayaan Alam (PKA).


Tahun 1985, kemudian berdiri UPT Hujan Buatan berdasarkan SK Menristek/Ka BPPT No. 342/KA/BPPT/XII/1985. Lalu tahun 2015, mulai dikenal istilah Teknologi Modifikasi Cuaca sesuai dengan Peraturan Kepala BPPT No 10 Tahun 2015 yang mengubah nomenklatur UPT Hujan Buatan menjadi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca.

Pada 2021 setelah terintegrasi ke BRIN, kini pelayanan TMC berada di Laboratorium Pengelolaan TMC di bawah Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset dan Kawasan Sains dan Teknologi. Harsoyo menjelaskan, pengaplikasian TMC berkembang untuk memitigasi bencana karena dalam satu dekade terakhir frekuensi bencana hidrometeorologi semakin meningkat, baik kebakaran hutan dan lahan, longsor, maupun banjir.

Tren permintaan TMC kemudian meluas sesuai kebutuhan. Mulai dari untuk penanggulangan kebakaran hutan dan pembasahan lahan gambut, penanggulangan banjir dan pengurangan curah hujan ekstrem, hingga pengamanan infrastruktur serta acara besar kenegaraan. 

photo
Kondisi kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir pekan lalu. Malaysia mengintensifkan hujan buatan untuk menangani kabut asap. - (Vincent Thian/AP)


Pertama kali, operasi TMC diaplikasikan untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan SEA Games XXVI Palembang 2011. Hal ini bertujuan untuk mengurangi curah hujan. 

Selanjutnya dilakukan untuk penanggulangan banjir Jakarta pada 2013, 2014, dan 2020. Selain itu, operasi TMC juga diaplikasikan untuk Moto GP Mandalika 2022, hingga yang terakhir KTT G20 2022. 

Prematurkan Hujan 


Kemudian, bagaimana cara kerja operasi TMC? Operasi TMC pada dasarnya dilakukan untuk memprematurkan kejadian hujan yang seharusnya secara alami turun di daerah target. Kemudian, potensi awan hujan dijatuhkan di luar target sehingga dapat mengurangi intensitas hujan di daerah target.

Hal itu dilakukan dengan memicu potensi awan hujan yang ada di atmosfer dengan menebar garam ke dalam awan hujan. Sehingga bisa turun jatuh menjadi hujan di tempat tertentu yang diinginkan sesuai kebutuhan dan tujuan. 


Dalam melakukan operasi TMC, lanjut Harsoyo, BRIN bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). BMKG berperan terutama dalam memasok data serta informasi cuaca, awan dan arah angin. 


Sedangkan TNI AU menyediakan armada pesawat, khususnya untuk operasi TMC yang bertujuan dalam mitigasi bencana. Biasanya radar cuaca BMKG menginformasikan keberadaan awan target dan arah kekuatan angin ke pilot. 

Kemudian pesawat Casa yang membawa muatan garam (NaCl) akan menyemai awan hujan target, di mana posisi pesawat selalu berada di antara arah angin dan awan hujan target. “Hujan sebisa mungkin diturunkan sebelum awan tiba di daerah target sehingga intensitas hujan di daerah target berkurang,” kata Harsoyo. 

Kendati demikian, Harsoyo menjelaskan, TMC ini meski orang mengenal dengan hujan buatan, BRIN tidak bisa membuat hujan. Itu yang perlu dicatat dan dipahami. “Kalau kami diminta melakukan operasi TMC untuk mengisi waduk pada saat musim kemarau yang dalam kondisi kering dan tidak ada potensi awan, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Ini yang kita sampaikan terutama kepada stakeholder,” ujarnya. 

Di sisi lain, Harsoyo menjelaskan, TMC sebenarnya sudah mulai dikembangkan mulai dikembangkan dengan metode penyemaian dari darat melalui menara ground based generator (GBG). Namun, sejauh ini baru bisa diimplementasikan untuk pengisian waduk. 

Hal ini karena menara ditempatkan di daerah topografi tinggi dan menggunakan bahan semai dalam bentuk flare yang dibakar dengan berisi garam KCL. Fungsinya untuk menambah inti kondensasi jika dimasukkan ke dalam awan. 


Dia menyebutkan kelebihan menara GBG ini adalah biaya operasional lebih murah dan dapat beroperasi 24 jam. Tetapi, kekurangannya, yaitu sifatnya statis, jadi operasi TMC hanya bisa dilakukan saat ada awan yang mendekat ke menara saja. 

 

 

 
Hujan sebisa mungkin diturunkan sebelum awan tiba di daerah target, sehingga intensitas hujan di daerah target berkurang. 
 
BUDI HARSOYO, Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN. 
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kapan Musim Hujan Tiba di Jabodetabek? Jangan Lupa Bawa Payung 

BMKG juga mengimbau agar masyarakat lebih siap dan antisipatif terhadap bencana hidrometeorologi.

SELENGKAPNYA

Hujan Misterius di Tasikmalaya, Ada Apa?

Hujan misterius hanya mengguyur satu rumah di Margalaksana.

SELENGKAPNYA

Hujan Ekstrem Topan Doksuri di Beijing Picu Banjir Bandang

Zhuozhou berada di provinsi Hebei, yang telah menanggung beban badai terburuk yang melanda Cina utara.

SELENGKAPNYA