Ekonomi
Sukuk Ritel Masih Menarik
Investor harus memiliki tujuan atas instrumen investasi yang dipilih.
JAKARTA -- Meski tren imbal hasilnya turun, surat berharga syariah negara (SBSN) dinilai masih menarik bagi investor. Salah satu sebabnya adalah kondisi ekonomi yang saat ini melambat.
Sukuk Ritel seri SR-012 yang baru saja diluncurkan Kementerian Keuangan menawarkan imbal hasil 6,30 persen per tahun, lebih rendah dari SR-011 tahun lalu sebesar 8,05 persen per tahun.
Obligasi ritel seri Saving Bond Ritel (SBR)-009 yang diluncurkan pada Januari lalu punya kupon yang sama, yakni 6,30 persen. Seri yang tidak bisa dijual kembali ini mencapai penjualan Rp 2,25 triliun.
Perencana keuangan, Widya Yuliarti, menilai SBSN masih menjadi instrumen menarik untuk investasi ritel. Imbal hasil yang ditawarkan masih cukup signifikan jika merujuk pada kondisi ekonomi saat ini.
"SR-012 masih menarik, imbal hasilnya senilai 6,30 persen. Mengingat juga sekarang ada perlambatan ekonomi, SR bisa menjadi salah satu alternatif investasi," kata Widya kepada Republika, Selasa (25/2).
SR-012 cocok bagi segmen ritel, terutama untuk masyarakat yang ingin berinvestasi sekaligus berkontribusi terhadap negara. Skema syariah SR juga menjadi daya tarik.
Dalam perlambatan ekonomi, lanjut Widya, masyarakat tetap harus konsisten pada portofolio investasinya. Widya mengatakan, investor harus memiliki tujuan dan menyesuaikan profil risiko dengan instrumen investasinya.
Pada awal pekan ini hingga 18 Maret 2020, Kemenkeu mulai menawarkan SR-012 yang menggunakan akad ijarah asset to be leased. SR-012 dapat dibeli dengan minimal Rp 1 juta. Imbal hasil akan Kemenke bayarkan secara periodik setiap bulan pada tanggal 10.
Analis fixed-income MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra, menyampaikan, SR-012 masih menarik untuk investor. Jika dibandingkan rata-rata suku bunga deposito 12 bulan sebesar 5,6 persen, SR012 masih memberi penawaran bagus (good deal).
"Setelah pajak sebesar 15 persen, dalam satu tahun SR-012 masih menawarkan imbal hasil sebesar 5,35 persen. Sementara deposito yang dikenakan pajak sebesar 20 persen imbalan per tahunnya sebesar 4,48 persen," kata Adi pada Republika, Selasa (25/2).
Terlebih, dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 4,75 persen, Adi menilai, suku bunga deposito ke depan akan kembali mengalami penurunan. Transmisi pada bunga deposito lebih cepat daripada bunga kredit.
Adi memperkirakan jumlah penghimpunan dana dari penawaran SR-012 akan mengalami penurunan dibandingkan penawaran SR-011 yang mencapai Rp 21 triliun. Hal ini karena seiring dengan melandainya imbal hasil surat berharga negara (SBN) dalam setahun terakhir.
Meski demikian, SBN ritel masih menjadi instrumen yang prospektif untuk investasi. Misalnya, Sukuk Tabungan, Sukuk Ritel maupun Saving Bond Ritel, dan Obligasi Negara ritel. Alternatif produk lainnya, kata dia, bisa instrumen ETF berbasis obligasi yang diterbitkan oleh asset management ataupun Efek Beragun Aset-SP yang diterbitkan oleh PT Sarana Multigriya Finansial (Persero).
"Return instrumen-instrumen itu bisa diperhitungkan dengan tingkat risiko yang lebih rendah," kata Adi. n
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
