Sosialisasi Pembukaan Rekening Daring Bank Syariah Mandiri, di Malang Town Square, Jawa Timur, Jumat (14/2/2020). | Ari Bowo Sucipto/Antara
25 Feb 2020, 02:00 WIB

Bank Syariah Jemput Dana Murah

Bank syariah tidak boleh sekadar jualan, tetapi harus kompetitif.

 

 

 

JAKARTA -- Salah satu keluhan terhadap bank syariah adalah persoalan margin pembiayaan yang tidak kompetitif akibat struktur dana yang didominasi dana mahal dari deposito. Namun, bank syariah terus melalukan perbaikan struktur dana dengan meningkatkan dana murah dari tabungan dan giro.

Terkait

Analis Kebijakan Pendalaman Pasar Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Bazari Azhar Azizi, menyampaikan, banyak potensi yang belum tergarap oleh bank syariah. Bank syariah di Indonesia perlu menggandeng lebih banyak instansi dan komunitas untuk meningkatkan dana murah dari tabungan dan giro (CASA). 

"Mestinya bank-bank syariah coba lebih gencar lagi melakukan pendekatan dan jemput bola," kata Azhar kepada Republika, Senin (24/2).

 
Komunitas Muslim yang ada masih banyak yang belum disentuh. Selain itu, jemput bola ke kementerian dan lembaga-lembaga negara lainnya juga perlu dijajaki. Menurut dia, banyak instansi yang mengaku belum pernah didatangi bank syariah.
 
 

Secara prinsip dan legal, penetrasi bank syariah ke banyak lembaga sudah dibuka pintunya oleh Kementerian Keuangan, salah satunya sebagai bank penyalur gaji (BPG), baik untuk BUMN maupun swasta.

Peningkatan CASA yang terdiri atas tabungan dan giro di perbankan syariah terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Menurut data OJK, dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah per November 2019 tercatat Rp 275 triliun, naik dari Rp 257 triliun per Desember 2018.

Porsi tabungan dan giro, baik wadiah maupun mudharabah, terus meningkat setiap tahun. Pada November 2019, porsinya mencapai Rp 174 triliun (64 persen), naik dari Rp 158 triliun pada Desember 2018 (61 persen).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Achmad Kusna Permana menyampaikan, bank syariah sudah mengejar ketertinggalannya. Asbisindo mengakui, lima tahun lalu pelaku industri bank syariah punya isu dari sisi keberadaan produk, fitur, dan teknologi yang masih tertinggal. Kini, hal-hal itu sudah teratasi.

 
Dahulu, industri sulit berkembang karena produk bank masih sulit dijangkau. Jaringan, mobile banking, dan ATM masih sangat minim sehingga masyarakat enggan mengakses bank syariah. Ada celah yang sangat besar dalam level layanan antara bank syariah dan konvensional.
 
 

Saat ini hampir semua layanan bank konvensional ada padanannya di bank syariah. Mayoritas bank juga bisa menggunakan sumber daya dari induknya yang konvensional sehingga layanan syariah mudah diakses.

Otoritas telah memberikan kemudahan bagi anak usaha syariah untuk menggunakan sumber daya induk. Selama tidak bertentangan dengan sisi kesyariahan, sumber daya bisa dimanfaatkan. 

Akses yang mudah ini kemudian meningkatkan sisi pendanaan. Sejumlah alasan lain seperti tingkat literasi dan tren juga membuat nasabah melirik bank syariah sehingga penghimpunan DPK terus meningkat.

"Kalau kita lihat rasio dana murah (CASA) meningkat dibanding beberapa tahun lalu, dari 20-30 persen hingga kini sudah 40-50 persen," kata Permana.

Permana menyampaikan, asosiasi telah mengimbau pada anggota bahwa pola “berjualan” kini sudah tidak bisa hanya mengandalkan kesyariahan. Hal itu juga harus dibarengi dengan peningkatan layanan dan daya saing.

Ia menyadari masih ada yang perlu diperbaiki, seperti pricing atau tingkat imbal hasil yang masih lebih tinggi daripada bank konvensional. Menurut dia, bank syariah perlahan mengatasinya dengan peningkatan CASA. 

Permana tidak menapik karena dari sisi usia, industri konvensional sudah jauh lebih dahulu dibanding industri syariah. Namun, ia optimistis percepatan akan dilakukan, apalagi dengan dukungan dari pemerintah yang berpihak pada industri. n


×