Warga melintasi pecinan di Incheon, Korea selatan, (14/2/2020). | Ahn Young-joon/AP Photo
23 Feb 2020, 16:57 WIB

Horor Korona dan Rasialisme Purba 

Media berbagai negara melaporkan Sinofobia akibat Covid-19.

 

 

 
Emosi manusia yang paling kuat dan tua adalah ketakutan, dan ketakutan yang paling kuat dan tua adalah ketakutan pada apa yang tidak diketahui.
HP Lovecraft
 

Kutipan dari penulis kisah horor HP Lovecraft merangkum situasi yang saat ini mencengkeram seluruh dunia. Dunia dirundung ketakutan yang disebabkan ketidaktahuan atas virus korona baru atau kini yang dinamakan Covid-19.

Virus yang berawal dari Wuhan, Cina, ini memicu kepanikan massal. Ketakutan dan kepanikan tidak hanya mendorong manusia untuk segera memecahkan masalah ini. Namun, sayangnya, virus itu juga memicu rasialisme.   

Terkait

Berbagai media di seluruh dunia melaporkan kasus rasialisme dan Sinofobia terhadap ras Cina atau Asia lainnya. Surat kabar Italia La Republica melaporkan sekolah musik bergengsi Santa Cecilia menghentikan sementara kelas mahasiswa dari Asia. 

  Pada 9 Februari lalu, the Guardian melaporkan kasus rasialisme terhadap warga keturunan Cina di Manchester, Inggris. Surat kabar Prancis Le Courrier menyebut Covid-19 sebagai "peringatan kuning" di halaman depan mereka.  

 Media Prancis lainnya, Le Monde, melaporkan seorang pegawai ras Asia diejek atasannya yang mengatakan "saya berharap keluarga kamu tidak membawa kembali virus". Canadian Broadcasting Corporation melaporkan mahasiswa Cina-Kanada dijauhi teman-temannya. Business Insider melaporkan bahwa di Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam ada toko yang memasang spanduk larangan masuk bagi warga atau turis Cina. Di Jepang, tagar #OrangCinaJanganDatangKeJepang menjadi trending topic. Di Singapura, petisi yang meminta pemerintah melarang turis Cina masuk ditandatangani ratusan ribu orang. 

  Laman Aljazirah memublikasikan kisah David Shao, seorang pekerja kesehatan dari Winnipeg, ibu kota Provinsi Manitoba, Kanada. Ia diejek rekan kerjanya dan diminta untuk "berhenti menyebarkan virus". Shao tidak sakit, tetapi ia satu-satunya keturunan Cina di tempat kerjanya. 

 Shao datang ke Kanada dari Shanghai pada tahun 1989. Ia tidak pernah mengunjungi Wuhan sama sekali. Sudah satu tahun terakhir ia tidak keluar negeri. Ejekan yang dipicu Covid-19 ini bukan pertama kali. Cemoohan tersebut pernah Shao dengar ketika SARS merebak tahun 2003 lalu. 

 Psikolog Michela Balconi dalam artikel "In the Face of Fear : Neuropychological Contributions and Empirical Evidences" di buku Psychology of Fear mengatakan, ketakutan adalah emosi utama final untuk menjamin perlindungan dan mencegah subjek terpapar oleh ancaman dari luar. Balconi mengatakan, ketakutan adalah respons emosional dalam menerima ancaman atau bahaya. Ia menulis, ketakutan adalah mekanisme bertahan hidup yang universal dalam merespons stimulus spesifik seperti rasa sakit atau ancaman dalam situasi tertentu. 

Dalam pengantar buku Phobias: The Psychology of Irrational Fear, Irena Milosevic dan Randi E McCabe menulis, ketakutan memang emosi purba yang sudah ada di dalam diri manusia sejak awal evolusi. Rasa takut membuat manusia lebih berhati-hati, waspada, dan memperhatikan sekitar. 

"Namun, ketika sistem peringatan ketakutan berjalan salah, contohnya ketika gagal merespons stimulus yang tak mengancam, konsekuensinya mungkin signifikan. Ketakutan yang maladaptif dapat memicu tekanan psikologis yang parah dan mengintervensi salah satu kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara normal," tulis Milosevic dan McCabe.   

Mereka menulis, ketakutan yang tidak beralasan dan tidak tepat disebut fobia. Milosevic dan McCabe mengatakan, topik fobia sangat laku keras di media. 

"Fobia juga menarik ketertarikan kami karena hal itu dapat membuat orang-orang yang berpikiran rasional dan membuat mereka meringkuk ketakutan walaupun mereka tahu ketakutan itu tidak didasari oleh ancaman nyata," kata Milosevic dan McCabe menambahkan.

Milosevic dan McCabe menulis, orang-orang yang memiliki fobia dapat mengalami penurunan fungsi sosial dan ekonomi yang signifikan. Bila level ketakutannya cukup tinggi, orang-orang yang mengalami fobia dapat menghindari berbagai aktivitas yang seharusnya mereka jalani. 

Mengutip artikel "The Economic Burden of Anxiety Disorders in the 1990s" di Journal of Clinical Psychiatry, Nancy L Kocovski dan Rebecca A Blackie menuliskan, setiap tahunnya Amerika Serikat rugi 40 miliar dolar AS karena gangguan kecemasan seperti fobia. The New York Times melaporkan pertumbuhan ekonomi Jepang melambat karena virus itu. The Straits Times juga menulis Singapura menurunkan prediksi pertumbuhan ekonominya karena Covid-19.

Menteri Ekonomi Prancis Bruno Le Maire sudah memprediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina dan dunia yang diakibatkan Covid-19 akan lebih parah dibandingkan SARS. Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow juga mengatakan, penyebaran virus korona baru di Cina "mungkin" dapat memukul produk nasional bruto Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun ini. 

Jika para ilmuwan benar, fobia dapat berdampak buruk terhadap ekonomi. Tentu Sinofobia yang dipicu Covid-19 juga hanya akan menambah beban ekonomi yang telah didorong virus itu. 

Pada 7 Februari lalu, situs Vox melaporkan Sinofobia yang diakibatkan Covid-19 makin buruk dengan teori-teori konspirasi. Salah seorang pendiri situs ekstrem kanan Amerika yang menggunakan nama samaran Tyler Durden mengunggah artikel berjudul "Apakah Orang Ini yang Ada di Balik Epidemi Virus Korona di Seluruh Dunia?". 

 Artikel itu berisi nama dan informasi pribadi seorang dokter dan peneliti Cina di Wuhan Institute of Virology. Artikel tersebut menuduh dokter itu bekerja sama dengan Pemerintah Cina untuk membuat senjata biologis. Institut pendidikan medis tinggi pun gagal menahan gelombang Sinofobia dan xenofobia ini. 

Fakta ada orang yang percaya rasialisme sesuatu yang "normal" menunjukkan Covid-19 bukan penyebab rasialisme. Namun, rasialisme hanya muncul kembali ketika krisis virus terjadi. 

 
Misinformasi ditambah ketakutan yang diprovokasi dapat membawa xenofobia yang sudah ada muncul ke permukaan. Sebagai manusia, kita takut pada hal-hal yang tidak kita ketahui. Namun, respons kita seharusnya dengan mengedukasi diri kita sendiri, tidak dengan menyebarkan dan memberikan oksigen pada ketakutan dan kesalahpahaman.
Edith Bracho-Sanchez, Columbia University Irving Medical Center

"Misinformasi ditambah ketakutan yang diprovokasi dapat membawa xenofobia yang sudah ada muncul ke permukaan. Sebagai manusia, kita takut pada hal-hal yang tidak kita ketahui. Namun, respons kita seharusnya dengan mengedukasi diri kita sendiri, tidak dengan menyebarkan dan memberikan oksigen pada ketakutan dan kesalahpahaman," kata asisten profesor dokter anak Columbia University Irving Medical Center, Edith Bracho-Sanchez, kepada Vox.   

Covid-19 hanya menjadi alasan untuk membenarkan Sinofobia. Jajak pendapat Pew Research Center tahun 2019 menunjukkan 40 persen dari 38.426 responden dari 34 negara di seluruh dunia memiliki pandangan buruk terhadap ras atau warga Cina. 

 Seperti Kanada, sebanyak 67 persen respondennya berpandangan negatif terhadap Cina. Jepang menjadi negara yang paling tidak menyukai Cina dengan angka 85 persen.   

Jajak pendapat ini dilakukan pada 13 Mei sampai 2 Oktober 2019, sebelum Covid-19 dilaporkan mewabah. Penelitian Pew Research Center memperlihatkan Sinofobia memang sudah ada dan Covid-19 hanya memperburuknya. n ed: yeyen rostiyani

photo
Pendatang dari Cina mulai diadang - (Antara)

Virus Pendongkrak Rasialisme

Rasialisme terhadap orang-orang Cina memburuk setelah virus korona baru atau Covid-19 mewabah, terutama setelah muncul rumor yang menyatakan tenggiling yang terancam punah merupakan inang perantara yang memungkinkan Covid-19 menyebar dari kelelawar ke manusia. Desas-desus ini berdasarkan temuan penelitian universitas Cina yang tidak dipublikasikan tetapi diumumkan melalui siaran pers.

Hingga saat ini belum ada bukti pasti yang menyatakan kebenaran rumor tersebut. Biolog konservasi alam dan pendiri Honduras Amphibian Rescue & Conservation Center Dr Jonathan Kolby prihatin dengan rasialisme yang disebabkan rumor tersebut, terutama unggahan di media sosial yang menyebut Covid-19 sebagai "pembalasan tenggiling". Dalam artikelnya di situs NBC News, Kolby menulis, ia khawatir gerakan cinta lingkungan dan konservasi alam mendorong narasi rasialis. Pengobatan tradisional Cina percaya bagian tubuh tenggiling dapat mengobati penyakit. "Masalah budaya yang sensitif lebih besar dibandingkan krisis virus korona saat ini dan hal itu harus dihentikan," tulis Kolby. 

Kolby mengatakan, tidak ada yang dapat membenarkan eksploitasi hewan dilindungi seperti yang sebagian masyarakat Cina lakukan. Namun, memahami krisi ini perlu perspektif yang benar. Kolby menambahkan, sangat mudah untuk menyalahkan orang lain merusak keanekaragaman hayati, terutama ketika orang-orang itu melakukan apa yang tidak dapat dimengerti.

"Jauh lebih sulit untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang kita semua sebabkan setiap hari melalui makanan yang kita makan, cara kita bepergian, dan kenyamanan makhluk yang menurut kita pantas dapatkan," kata Kolby menambahkan.

Kolby menjelaskan, tenggiling di Asia dan Sub-Sahara Afrika menjadi mamalia yang paling banyak diburu. Skala penyelundupan ilegal hewan itu mengancam kepunahan.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan delapan spesies tenggiling yang ada saat ini, yaitu empat di Afrika dan empat di Asia, sebagai hewan yang dilindungi. Banyak sisik tenggiling yang dihancurkan menjadi bubuk.

Pengobatan tradisional Cina yakin sisik tenggiling dapat mengobati semua penyakit dari cedera tulang sampai peradangan. Penelitian medis tidak membuktikan hal tersebut.

Menurut Kolby, fakta-fakta ini tidak pantas untuk menjadi pembenaran melakukan diskriminasi atau rasialisme terhadap warga Cina. Sebab, setiap budaya memiliki perspektif masing-masing tentang alam.

"Menyesuaikan standar moral kami pada perlakuan yang dapat diterima berdasarkan keuntungan ekonomi adalah hipokrit elitis," kata Kolby menegaskan.  

 

Potret Chinatown

 

Sinofobia di negara-negara Barat sudah mengakar berabad-abad lalu. Anggota Dewan Nasional Cina-Kanada cabang Toronto Edward Hon-Sing Wong menulis di Aljazirah bahwa Sinofobia di Amerika Utara tidak muncul bersama SARS atau virus korona baru yang kini disebut Covid-19.

 Namun, sejak Perang Opium pada awal abad ke-19, orang Cina sudah disebut sebagai "orang sakit dari Asia Timur". Orang-orang Cina dianggap tidak higienis dan kotor. Imigran Cina di Amerika Utara diasosiasikan dengan kejorokan dan dijangkiti penyakit. Wong mengatakan, pada akhir abad ke-19 sudah lumrah bila ada restoran milik warga kulit putih yang memasarkan rumah makan mereka tidak mempekerjakan orang Cina. 

Setelah memecat koki Cina, salah satu restoran di Victoria menyatakan "perut orang yang memiliki selera tinggi memberontak bila makan malamnya dimasak orang Cina". Persepsi orang Cina tidak bersih kerap berdasarkan buruknya kondisi lingkungan di Chinatown. 

Wong menulis, pada 1887 para wartawan menggambarkan Chinatown di Vancouver sebagai "perusak pemandangan" dan "memproduksi wabah". "Pada tahun 1890, selama wabah kolera di Vancouver, pers setempat meminta pemerintah bertindak terhadap Chinatown setempat," tulis Wong. 

Walaupun tidak adanya bukti kolera muncul dari permukiman orang-orang Cina itu, dewan kota Vancouver menjadikan Chinatown sebagai "entitas resmi" dalam laporan petugas kesehatan dan komisi kesehatan. Wong mengatakan, hal itu membuat Chinatown diawasi karena dianggap berpotensi melanggar hukum. 

Sementara itu, selain Chinatown, tempat lain yang dijadikan entitas resmi bukan permukiman warga tetapi tempat-tempat seperti saluran pembuangan limbah, tempat pemotongan hewan, dan peternakan babi. n 

 


×