Suasana aktivitas di Pesantren Wisata Pabangbon, Kabupaten Bogor. | Tangkapan layar youtube Pesantren Wisata Paba

Iqtishodia

Menilik Pengembangan Wisata Halal di Pesantren Wisata Pabangbon

Pesantren Wisata Pabangbon mematuhi persyaratan untuk menjadi destinasi wisata syariah.

OLEH Atikah Syahidah Yusmanika Putri (Alumni Mahasiswa Ekonomi Syariah FEM IPB); Dr. Neneng Hasanah, Yekti Mahanani (Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB)


Sektor pariwisata telah menjadi salah satu industri yang memberikan dukungan bagi perekonomian global. Di Indonesia, pariwisata menjadi salah satu sektor andalan dalam meningkatkan pendapatan nasional dan penyumbang devisa negara (Umagapi dan Ambarita 2018).

Berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Pariwisata 2019, sektor pariwisata di Indonesia menyumbang devisa negara sebesar 5,5 persen atau sejumlah Rp 280 triliun. Bersamaan dengan perkembangan industri pariwisata, muncul istilah baru dalam industri pariwisata, yaitu pariwisata syariah (Rimet 2019).

Menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, Indonesia menjadi tujuan pariwisata halal terbaik di dunia. Pada tahun yang sama, Provinsi Jawa Barat berhasil meraih penghargaan sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan, menurut Indonesia Muslim Travel Index (IMTI).

Salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak adalah Kabupaten Bogor, yaitu 4.867.370 orang (BPS Jawa Barat 2021). Kabupaten tersebut selain memiliki penduduk Muslim terbanyak, juga memiliki potensi sumber daya alam yang bagus, salah satu potensinya berada di daerah Kecamatan Lewiliang.

 
Pesantren Wisata Pabangbon memiliki beberapa wahana yang menjadi ciri khas, seperti arena berkuda dan arena memanah.
 

Objek wisata yang terletak di Kecamatan Leuwiliang dan sudah beroperasi sejak 1 Juli 2021, yaitu Pesantren Wisata Pabangbon. Pesantren Wisata Pabangbon memiliki beberapa wahana yang menjadi ciri khas, seperti arena berkuda dan arena memanah.

Pesantren Wisata Pabangbon mematuhi persyaratan untuk menjadi destinasi wisata syariah, termasuk menjaga kebersihan dan sanitasi, menghormati nilai-nilai sosial budaya sesuai prinsip syariah, menyediakan fasilitas untuk ibadah, menyajikan makanan dan minuman yang halal, serta menghindari kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah. Hal ini menjadikan Pesantren Wisata Pabangbon berpotensi menjadi destinasi wisata halal yang dapat dikembangkan.

Untuk mengetahui sejauh mana potensi dan hal-hal apa yang perlu dikembangkan oleh Pesantren Wisata Pabangpon dillakukan penelitian oleh FEM IPB. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik non-probability sampling menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel secara sengaja. Responden yang diwawancarai, yaitu tujuh orang narasumber yang kompeten di bidangnya dan memiliki pengetahuan terkait objek yang diteliti.

photo
Jaringan ANP - (IPB)

Dalam penelitian ini, metode analisis data yang digunakan adalah analytic network process (ANP) dengan pendekatan SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Metode analytic network process (ANP) adalah metode yang dapat mewakilkan tingkat kepentingan berbagai aspek dengan memperhatikan keterkaitan antarkriteria (Vanany 2003). Analytic network process (ANP) mampu mencari tahu keterkaitan antarkriteria serta melengkapi kekurangan dari AHP (Girsang et al. 2019).

Tahap awal dalam pengolahan data yaitu dengan menggunakan aplikasi Software Super Decisions 2.10 dengan membuat model jaringan ANP yang berisi tujuan, kriteria, sub-kriteria, dan alternatif strategi.

Jaringan ANP menunjukkan empat elemen analisis, yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Variabel dibentuk sesuai dengan hasil wawancara dengan para narasumber yang merupakan pakar di bidangnya, kemudian dimasukkan ke dalam kuesioner.

Setelah model SWOT dan jaringan ANP terbentuk, selanjutnya melakukan kuantifikasi terhadap nilai prioritas masing-masing aspek dan elemen. Nilai prioritas (geometric mean) didapatkan dari pengisian kuesioner perbandingan berpasangan (pairwise comparison) oleh para responden. 

photo
Aspek SWOT - (IPB)


Dari keempat aspek SWOT diketahui bahwa aspek peluang memiliki nilai prioritas tertinggi sebesar 0,43794. Urutan prioritas aspek SWOT, yaitu peluang sebesar 0,43794, kekuatan sebesar 0,24369, kelemahan sebesar 0,21897, dan ancaman sebesar 0,09938. Pada perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan para responden didapatkan nilai W sebesar 0,526531.

Hal itu menunjukkan bahwa sebesar 52 persen responden sepakat bahwa aspek peluang menjadi aspek prioritas dalam mengembangkan wisata halal di Pesantren Wisata Pabangbon, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. 

Aspek kekuatan

photo
Aspek kekuatan - (IPB)

Dari keempat aspek kekuatan diketahui urutan prioritas aspek kekuatan. Pertama, secara geografis, pilihan usaha yang dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya alam sebesar 0,31273. Kedua, terdapat taman dan pemandangan alam yang indah sebesar 0,31082.

Ketiga, Pesantren Wisata Pabangbon menjadi wadah untuk berinfak sebesar 0,19413. Adapun aspek keempat, pesantren memiliki potensi tenaga kerja (santri) yang dapat dimaksimalkan untuk mendukung keberlangsungan usaha pesantren sebesar 0,18233.

Pada perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan para responden didapatkan nilai W sebesar 0,577778. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 57 persen responden sepakat dengan hasil prioritas dalam aspek kekuatan, sedangkan sisanya memberikan jawaban yang berbeda. 


Aspek kelemahan

photo
Aspek kelemahan - (IPB)

Dari keempat aspek kelemahan diketahui urutan prioritas aspek kelemahan. Pertama, pihak pengelola Pesantren Wisata Pabangbon belum memiliki networking yang baik dengan pihak-pihak yang berkepentingan sebesar 0,36945. Kedua, Pesantren Wisata Pabangbon masih dalam tahap penataan sehingga infrastruktur masih belum memadai sebesar 0,31592.

Aspek kelemahan selanjutnya adalah objek wisata yang tersedia di Pesantren Wisata Pabangbon masih terbatas sebesar 0,31463. Pada perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan para responden didapatkan nilai W sebesar 0,142857. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 14 persen responden sepakat dengan hasil prioritas dalam aspek kelemahan, sedangkan sisanya memberikan jawaban yang berbeda. 

Aspek peluang

photo
Aspek peluang - (IPB)

Dari keempat aspek peluang diketahui urutan prioritas aspek peluang. Pertama, wahana yang beragam di Pesantren Wisata Pabangbon memunculkan keingintahuan masyarakat untuk berkunjung sebesar 0,30442. Kedua, target pasar dari Pesantren Wisata Pabangbon, yaitu sekolah-sekolah Islam karena sesuai dengan objek wisata, yaitu wisata edukatif di lingkungan pesantren sebesar 0,26749.

Selanjutnya, masih sedikitnya jumlah wisata edukatif di Kabupaten Bogor sebesar 0,2247. Keempat, Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak di Provinsi Jawa Barat sebesar 0,20339.

Pada perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan para responden didapatkan nilai W sebesar 0,249335. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 25% responden sepakat dengan hasil prioritas dalam aspek peluang, sedangkan sisanya memberikan jawaban yang berbeda. 

Aspek ancaman

photo
Aspek ancaman - (IPB)

Aspek selanjutnya yang ditelaah adalah aspek ancaman. Pada aspek ini, terdapat tiga urutan prioritas aspek ancaman. Pertama, kurangnya literasi dan pengetahuan masyarakat sekitar destinasi wisata terkait konsep halal sebesar 0,3842. Kedua, munculnya pesaing yang mengangkat konsep wisata edukatif seperti Pesantren Wisata Pabangbon sebesar 0,38341.

Aspek ketiga, akses menuju Pesantren Wisata Pabangbon masih terkendala sebesar 0,23239. Pada perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan para responden didapatkan nilai W sebesar 0,265306. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 26 persen responden sepakat dengan hasil prioritas dalam aspek ancaman, sedangkan sisanya memberikan jawaban yang berbeda. 

Prioritas strategi pengembangan

Terkait strategi pengembangan, setidaknya ada lima urutan prioritas strategi pengembangan wisata halal di Pesantren Wisata Pabangbon. Strategi pertama, membuat beberapa jenis paket wisata yang sesuai dengan target pasar dengan nilai geometric mean sebesar 0,26334.

Kedua, mempromosikan di website dan media sosial dengan nilai geometric mean sebesar 0,23193. Ketiga, menciptakan inovasi layanan terkait produk dan jasa halal dengan nilai geometric mean sebesar 0,20683. Keempat, melakukan pengembangan penataan infrastruktur dan objek wisata dengan nilai geometric mean sebesar 0,17448.

photo
Pesantren wisata - (IPB)

Adapun prioritas kelima adalah meningkatkan literasi masyarakat terkait konsep wisata halal dengan nilai geometric mean sebesar 0,12342. Perhitungan rater agreement para responden didapatkan nilai W sebesar 0,314286. Hal ini berarti bahwa sebesar 31 persen setuju dengan prioritas strategi yang telah dihasilkan, sedangkan sisanya memberikan jawaban yang variatif.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat