Foto Bung Karno berlagak enggan mendengarkan musik pada 1960-an. | istimewa

Teraju

Sukarno, Nehru, dan Ali Jinnah

Mengapa Indonesia mendukung Pakistan saat konfrontasi bersenjata dengan India?

Oleh SELAMAT GINTING

Presiden Sukarno pernah mengambil sikap hitam putih terhadap ketegangan India dan Pakistan. Bukan sikap abu-abu. Sukarno jelas-jelas mendukung Pakistan dibandingkan mendukung India saat perang kedua negara pada 1965 lalu.

"Hutang nyawa dan solidaritas Muslim!" Begitu kira-kira alasan Bung Karno untuk mendukung Pakistan dibandingkan mendukung India.

Seorang intelektual keturunan Pakistan di Indonesia, Azam Khan, dalam bukunya berjudul Peranan Pakistan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, menuturkan tentang kedekatan batin antara orang Pakistan dengan Indonesia saat terjadinya agresi militer yang dilakukan tentara Inggris yang bergabung dengan Belanda di bawah NICA, pada 1946-1948.

Bahkan, saat itu Presiden Sukarno nyaris terbunuh. Sukarno dikepung serdadu NICA dalam suatu insiden yang sangat serius. Saat itu, Bung Karno hendak berkunjung ke rumah Dokter R Soeharto di Jalan Kramat 128, Jakarta. Tiba-tiba serdadu-serdadu NICA mengurungnya. Si Bung tidak dapat keluar dari mobil untuk masuk ke halaman rumah sahabatnya itu.

Melihat hal tersebut, Dokter Soeharto menghubungi Tabib Sher di Senen Raya. Pada saat itu, di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan. Seketika pasukan Pakistan segera meluncur dan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir.

Kedua serdadu sudah dalam posisi steeling dan mengokang senjata. Posisi tentara India Muslim itu lebih menguntungkan karena mengepung pasukan NICA dari India non-Muslim. Pasukan India non-Muslim itu pun akhirnya keluar dari rumah Dokter Soeharto. Nyawa Sukarno yang sudah di ujung tanduk itu terselamatkan.

Bukan cuma Sukarno yang berutang budi. Bangsa ini juga berutang budi kepada India Muslim yang kemudian mendirikan negara sendiri dengan nama Pakistan. Pada 1946-1948 itu, banyak desersi yang dilakukan tentara Pakistan yang dibawa oleh Inggris ke Indonesia. Utamanya untuk membantu melanggengkan penjajahan Belanda di Indonesia.

Saat itu, jumlah tentara Pakistan sekitar 600 serdadu yang bergabung dalam pasukan Sekutu. Mereka membelot lalu memihak pejuang kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih, ikhlas, atau atas panggilan kesamaan agama Islam, mereka akhirnya bahu-membahu dengan pasukan republik berjuang melawan kaum penjajah.

Mereka turut bertempur antara lain di Surabaya, Medan, Bandung, dan Bukittinggi serta kota-kota lain. Pertempuran di kota-kota tersebut banyak menimbulkan korban dari pihak Belanda. Pasukan Pakistan yang membelot ke pihak Indonesia membawa segala peralatan perang, mulai dari mesiu, sejumlah mobil jip, truk, sampai bahan kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan lain-lain.

Tentara Inggris yang dibawa ke Indonesia untuk membantu Belanda terdiri atas pasukan tentara India Ghurka yang beragama Sikh, tentara Hindu India dan tentara Pakistan (Islam India). Namun, yang membelot dari tentara Inggris dan bergabung dengan tentara Indonesia hanyalah serdadu Muslim dari Pakistan dan bersama-sama tentara Indonesia berjuang melawan tentara Belanda dan Inggris. Tentara India yang beragama Hindu dan pasukan Gurkha yang beragama Sikh tetap bersama pasukan Belanda dan Inggris melawan pasukan Indonesia dan Pakistan.

Rupanya imbauan para pemimpin Indonesia saat itu mampu mengetuk hati Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah. Ia merupakan Presiden pertama Pakistan yang menyampaikan protes atas kekejaman kolonial Belanda dan Inggris terhadap Indonesia. Ia mengimbau seluruh umat Islam membantu perjuangan kemerdekaan RI.

Atas jasanya yang luar biasa, pada Desember 1996 Presiden Soeharto memberikan Bintang Adi Purna, bintang RI kelas satu, kepada almarhum Muhammad Ali Jinnah. Ia dianggap berjasa luar biasa untuk negara dan bangsa Indonesia.

Jasa lain dari Ali Jinnah adalah mengeluarkan perintah menahan sejumlah pesawat Belanda dan Inggris. Pesawat itu bermuatan senjata yang akan dibawa ke Jakarta, akhir 1947. Persenjataan ini untuk mendukung kegiatan agresi Police Action. Police action adalah tindakan agresi yang dilakukan tentara sekutu Inggris membantu tentara Belanda untuk kembali menjajah Indonesia yang telah merdeka.

Pro-Pakistan

Dalam perang India melawan Pakistan pada 1965, Presiden Sukarno mengirimkan kekuatan armada Angkatan Laut Indonesia untuk membantu Pakistan melawan India yang lebih kuat dalam persenjataannya. Mengetahui Indonesia mengirimkan dua kapal selam dan kapal perang patroli di selatan Pakistan, India kecewa dan berpikir ulang untuk berkonfrontasi dengan Pakistan.

Kekuatan militer Indonesia saat itu termasuk yang diperhitungkan dunia. Belanda saja takut dan hengkang dari Irian Barat, apalagi India. Begitulah kira-kira konstelasi kekuatan militer dunia era tersebut.

Sebenarnya, bukan semata-mata membela Pakistan, Sukarno juga sedang menggertak India yang memiliki perbatasan laut dengan Indonesia. India takut Pulau Nicobar yang memiliki batas maritim dengan landas kontinen yang terletak pada titik-titik koordinat tertentu di kawasan perairan Samudra Hindia dan Laut Andaman akan dicaplok Indonesia.

Sikap Sukarno tersebut sangat membekas dan membuat sakit hati pendiri negara India Jawaharlal Nehru. Padahal, Presiden Sukarno bersama Josep Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), U Nu (Birma), Muhammad Ali Jinnah (Pakistan), dan Nehru (India) adalah tokoh-tokoh besar di balik Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955. KAA merupakan cikal bakal Gerakan Non Blok (GNB), penentang Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.

Maka tidak mengherankan jika ketika pada 2011 melakukan liputan ke India, penulis sama sekali tidak melihat nama jalan Sukarno di negeri Nehru tersebut, berbeda dengan di Pakistan yang begitu menghormati Bung Karno. Dua tempat di Pakistan dinamai Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar dan Soekarno Bazar di Lahore. Penamaan itu tidak terlepas dari sepak terjang kedua negara.

Begitu juga di museum-museum India, foto Presiden Sukarno nyaris hanya berupa foto-foto kecil berukuran 5x10 cm. Seperti dilupakan begitu saja peran Indonesia untuk India.

Indonesia sebenarnya bukan tidak pernah membantu India. Bahkan, dalam kondisi dikepung Belanda, pada 1946 Indonesia melakukan diplomasi beras. Indonesia mengirimkan 500 ton beras untuk membantu India, negeri dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Padahal, saat itu Indonesia juga sedang mengalami krisis ekonomi yang parah.

India pun membalas jasa Indonesia dengan cara mengusir kapal-kapal Belanda di pelabuhan India. Kapal-kapal itu diketahui membawa tentara Belanda yang akan menyerang Indonesia.

Disadur dari Harian Republika Edisi Jumat, 20 Januari 2017.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Patung Soekarno Dinilai Berpotensi Jadi Berhala

Patung Soekarno setinggi 100 meter akan dibangun di area perkebunan Walini, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.

SELENGKAPNYA

Megawati dan Menjamurnya Patung Bung Karno

IKADI Jabar menilai menghormati Bung Karno tak perlu dengan patung.

SELENGKAPNYA

Sukarno dan Patung-Patungnya

Sukarno sang pecinta patung, kini banyak didirikan patungnya.

SELENGKAPNYA