Sunarsip | Daan Yahya/Republika

Analisis

Anomali: Amerika Downgrade, Rupiah Melemah?

Pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya bukan anomali.

Oleh SUNARSIP

Lembaga pemeringkat, Fitch, pada Selasa 1 Agustus 2023 lalu menurunkan (downgrade) peringkat surat utang jangka panjang Amerika Serikat (AS) dari AAA menjadi AA+ dengan outlook stabil.

Menurut Fitch, penurunan peringkat AS ini mencerminkan kenaikan risiko fiskal yang berasal dari kenaikan beban utang pemerintah dan erosi kepercayaan terhadap manajemen fiskal akibat berulangnya kebuntuan politik (standoffs) dan resolusi terkait penetapan pagu utang yang terjadi di menit-menit terakhir.

Perlu diketahui, pada Mei lalu, Fitch telah menempatkan surat utang AS peringkat “AAA” ke dalam “negative watch”. Penempatan tersebut sebagai “hukuman” akibat pertarungan politik yang alot di Senat (DPR-nya AS) terkait penetapan pagu utang.

 
Presiden Biden menandatangani penetapan pagu utang pada 2 Juni 2023 lalu. Namun, Fitch tampaknya melihat kesepakatan ini terlambat, karena mendekati batas akhir 5 Juni 2023.
 
 

 

Kesepakatan memang akhirnya terjadi. Presiden Biden menandatangani penetapan pagu utang pada 2 Juni 2023 lalu. Namun, Fitch tampaknya melihat kesepakatan ini terlambat, karena mendekati batas akhir 5 Juni 2023. Kesepakatan juga belum definitif, karena kesepakatan bipartisan (Demokrat dan Republik) hanya menangguhkan batas utang hingga Januari 2025.

Penurunan peringkat utang AS seperti ini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Pada 2011, hal yang sama juga terjadi.

Saat itu, lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+ sebagai dampak dari kontroversi berkepanjangan mengenai kesepakatan pagu utang dan risiko gagal bayar (default) AS. AS memang berhasil menghindari risiko gagal bayar. Namun, S&P melihat risiko politik yang tinggi sebagai bagian dari alasannya.

Akibat penurunan peringkat utang oleh Fitch tersebut, pasar keuangan AS, baik saham maupun obligasi, langsung jatuh. Indeks harga saham di bursa AS turun. Harga obligasi di AS juga turun tercermin dari kenaikan imbal hasil (yields).

Sehari sebelum rilis Fitch, yield obligasi jangka panjang (10 tahun) Pemerintah AS (US Treasury) berada di level 3,93 persen, lalu meningkat menjadi 4,19 persen (4 Agustus 2023). Kenaikan yield US Treasury tersebut menandakan harga obligasi turun dan terdapat persepsi adanya peningkatan risiko.

Menariknya, meskipun peringkat surat utang AS turun, nilai tukar dolar AS justru menguat terhadap mata uang lainnya terutama dengan mata uang negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah.

Sejak 2 Agustus 2023 lalu, nilai tukar rupiah memperlihatkan pelemahan. Bila pada 1 Agustus 2023 nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.117 per dolar AS, pada 3 Agustus 2023 melemah menjadi Rp 15.198 per dolar AS meskipun kembali menguat menjadi Rp 15.168 per dolar AS (4 Agustus).

 
Beberapa kalangan menilai fenomena ini sebagai anomali. Logikanya memang, ketika prospek ekonomi AS dinilai lebih buruk semestinya nilai tukar dolar AS melemah.
 
 

Beberapa kalangan menilai fenomena ini sebagai anomali. Logikanya memang, ketika prospek ekonomi AS dinilai lebih buruk semestinya nilai tukar dolar AS melemah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nilai tukar mata uang negara lain justru melemah terhadap dollar AS.

Penulis melihat bahwa kondisi ini sebenarnya bukan anomali. Karena pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS terjadi terutama pada emerging market. Pelemahan nilai tukar emerging market sebenarnya terdapat alasannya.

Pertama, penurunan peringkat surat utang AS berpotensi meningkatkan risiko bagi ekonomi emerging market. Ini mengingat, emerging market umumnya memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap ekonomi AS khususnya ekspor.

Bila outlook ekonomi AS dinilai buruk, maka hal itu dapat berakibat buruk bagi prospek perdagangan emerging market dengan AS. Potensi peningkatan risiko terhadap emerging market membuat para investor mengalihkan portofolionya ke aset yang dinilai lebih aman (safe-haven asset), dalam hal ini aset dolar AS.

Kedua, penguatan dolar AS terhadap mata uang emerging market sebenarnya logis, bila dilihat dari sudut para investor portofolio. Penurunan peringkat surat utang AS mendorong kenaikan yield obligasi Pemerintah AS.

Inflasi AS saat ini (Juni 2023) berada di level yang cukup rendah, sebesar 2,97 persen (year on year). Bila para investor menaruh investasinya ke obligasi AS dengan yield saat ini sebesar 4,19 persen, berarti mereka menikmati selisih (spread) positif sebesar 1,22 persen. Cukup tinggi.

Tentu, keputusan investor tersebut ada risiko. Ini mengingat, membeli surat utang dengan peringkat yang lebih rendah dibanding sebelumnya, berarti membeli surat utang yang berisiko lebih tinggi.

Namun demikian, penurunan peringkat tidak membuat obligasi AS turun kelas menjadi junk bond (obligasi sampah). Peringkat AA+ saat ini masih menempatkan surat utang AS sebagai instrumen investasi yang aman. Sehingga, meski peringkat turun, peluang gagal bayar kecil sekali.

 
Penurunan peringkat tidak membuat obligasi AS turun kelas menjadi junk bond (obligasi sampah). Peringkat AA+ saat ini masih menempatkan surat utang AS sebagai instrumen investasi yang aman.
 
 

Dengan penurunan peringkat tersebut, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan (The Fed Fund Rate atau FFR) pada rapat bank sentral AS 20 September mendatang, kini hidup kembali. Padahal sebelumnya, para trader menilai bahwa level suku bunga FFR yang ditetapkan pada rapat FOMC Juli lalu akan menjadi yang tertinggi selama 2023.

Bila FFR naik pada September nanti, investor yang menaruh dananya di pasar keuangan AS saat ini akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Dengan kata lain, saat ini adalah waktu yang tepat masuk ke AS dan menarik diri dari emerging market.

Dengan situasi ini, apa yang perlu dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk mengelola ekspektasi terhadap nilai tukar rupiah?

Penulis berpendapat, BI sebaiknya wait and see terlebih dahulu terkait dengan perkembangan di AS, sambil memonitor dan fokus mengendalikan inflasi di dalam negeri. Dengan kata lain, situasi di AS belum perlu disikapi dengan menaikkan suku bunga acuan (BI7DRR) demi menjaga agar spread antara suku bunga acuan dengan inflasi menarik.

Ini mengingat, bila inflasi dapat dikendalikan ke level yang lebih rendah, spread positif pada suku bunga acuan akan meningkat kembali sehingga menjadi daya tarik bagi investor asing masuk kembali ke pasar keuangan kita.

BI perlu terus berada di pasar, bila diperlukan melakukan operasi pasar. Dalam rangka ini, BI perlu memperkuat cadangan devisanya dengan memperluas basis sumber cadangan devisanya.

Kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) perlu diperkuat efektivitasnya melalui perluasan features, cakupan sektoralnya, dan bank-bank pelaksana DHE. Koordinasi terkait dengan rencana sektor fiskal masuk ke pasar melalui penerbitan surat utang juga perlu dilakukan untuk menentukan ukuran (size) dan waktu (timing) yang tepat.

Penulis melihat bahwa persepsi negatif yang dibangun para pelaku pasar terkait dampak penurunan peringkat surat utang AS cenderung berlebihan. Kalau kita melihat sejumlah indikator ekonomi global, baik di sektor riil dan sektor finansial, sejauh ini memperlihatkan kondisi yang memiliki potensi ke arah positif.

Pada Juli lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan outlook-nya terkait dengan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2023. Pada April lalu, IMF memproyeksikan ekonomi global tahun ini tumbuh 2,8 persen.

Namun, pada Juli lalu IMF menaikkannya menjadi 3,0 persen. Kenaikan outlook antara lain berasal dari AS yang sebelumnya diproyeksikan tumbuh 1,6 persen menjadi 1,8 persen.

Indikator di sektor perdagangan global juga memperlihatkan tanda-tanda positif. Pada Mei 2023, indeks aktivitas bongkar muat kontainer global (Container Throughput Index) naik dibanding April 2023. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan oleh aktivitas peti kemas di Cina yang naik signifikan. Tekanan terkait supply chain juga mereda, sebagaimana terlihat dari angka Global Supply Chain Pressures Index yang sudah di bawah angka nol.

 
Pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya bukan anomali. Pelemahan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi negatif yang berlebihan dari para pelaku pasar dan aksi ambil untung (profit taking).
 
 

Di sektor keuangan juga demikian. Berdasarkan indeks yang dikeluarkan bank sentral New York, AS memiliki probabilitas resesi sangat kecil, hanya 5,93 persen.

Tekanan terhadap sektor finansial global juga mereda, sebagaimana terlihat dari angka Global Financial Stress Index yang rendah. Inflasi di berbagai negara juga berada dalam tren menurun. Aktivitas manufaktur, khususnya di emerging market, juga berada dalam zona ekspansi sebagaimana terlihat dari angka Manufacturing PMI.

Dengan kata lain, pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya bukan anomali. Pelemahan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi negatif yang berlebihan dari para pelaku pasar dan aksi ambil untung (profit taking).

BI memang berkewajiban menjaga stabilisasi nilai tukar. Namun tentunya, tidak at all cost demi memberi “pemanis” (berupa kenaikan suku bunga) kepada para pelaku pasar. Sebab, bila itu dilakukan terdapat risiko yang justru berpotensi lebih merugikan, khususnya bagi perbankan dan dunia usaha yang saat ini sedang dijaga momentum pertumbuhannya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kabut Perang Rusia-Ukraina 

Bahkan sebelum perang dimulai, kebingungan dan kontradiksi merajalela.

SELENGKAPNYA

Tak ada Shalat Jumat di Gurugram

Larangan shalat berjamaah sebelumnya sudah dialami Muslim Gurugram.

SELENGKAPNYA

Denmark dan Swedia Merasa Terancam

Kedua negara memperketat perbatasan setelah pembakaran Alquran.

SELENGKAPNYA