Kereta Api Pangrango relasi Sukabumi-Bogor melintas di samping proyek pembangunan jalur rel ganda Bogor-Sukabumi di Cigombong, | Antara

Metro

20 Feb 2020, 02:00 WIB

Tak Banyak Penumpang di Stasiun Batutulis

Banyak beredar informasi stasiun Batutulis bakal digusur demi memuluskan proyek jalur ganda.

Stasiun Batutulis di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, tampak sepi pada Rabu (19/2) siang WIB. Tak terlihat penumpang yang naik atau turun dari kereta. Pada hari kerja, rata-rata penumpang hanya mencapai 35 orang per hari yang menuju rute Sukabumi.

"Kalau di hari weekday, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat, itu sehari gak sampai 50 orang. Itu sehari sekitar 35 orang," kata Restu Hayatri (26 tahun), petugas loket Stasiun Batutulis, saat ditemui Republika.

Sedikit berbeda pada akhir pekan, penumpang kereta Bogor-Sukabumi dan sebaliknya bisa lebih 50 orang per harinya. Biasanya, menurut Restu, banyaknya penumpang pada akhir pekan didominasi rombongan. "Weekend banyak yang memesan tiket skala besar."

Jumlah tersebut, kata dia, merupakan akumulasi dari enam perjalanan kereta, meliputi tiga dari Sukabumi menuju Bogor dan tiga rute sebaliknya. "Dari Bogor-Sukabumi pagi itu pukul 08.00 WIB, siang 13,21 WIB, dan 18.41 WIB. Sedangkan, dari Sukabumi pukul 05.15 WIB, siangnya pukul 10.25 WIB, dan sorenya jam 15.45 WIB," ucap Restu.

Restu tak menampik adanya kabar penggusuran Stasiun Batutulis. Dia menyebut, memang banyak beredar informasi stasiun berstatus cagar budaya ini bakal digusur demi memuluskan proyek jalur ganda (double track) Bogor-Sukabumi. "Kabar sudah denger. Tapi, belum tahu pastinya (kapan direlokasi)," ujar Restu.

Seperti stasiun kelas III pada umumnya, Stasiun Batutulis memang tak terlalu luas. Terdapat dua bangunan yang difungsikan secara berda.

Bangunan pertama dibagi menjadi tiga ruangan, yakni untuk penumpang yang menunggu kereta, ruang loket dan kepala stasiun, serta ruang petugas kemanan dan kamar kecil. Sementara itu, satu bangunan lain tertutup rapat dengan pagar yang dipergunakan untuk menyimpan mesin dan sebagai gudang.

Kusumah Hadi Winata (38), salah seorang penumpang yang menunggu kereta menuju Sukabumi, mengatakan, keberadaan Stasiun Batutulis sangat membantunya. Kusumah mengatakan, stasiun yang berdiri pada 1920 ini menjadi rujukan warga yang tinggal di Kecamatan Bogor Selatan.

Dia menjelaskan, dibandingkan naik angkot menuju Cigombong, misalnya, pilihan naik kereta lebih nyaman. "Misalnya, menuju Cigombong mending milih kereta daripada ngangkot," kata Kusuma.

Dia mengungkapkan, Stasiun Batutulis juga dapat memecah penumpukan penumpang di Stasiun Bogor maupun Stasiun Paledang. Karena itu, ia berharap Stasiun Batutulis harus tetap ada. "Rasanya jika hilang, itu orang selatan pasti lari ke Paledang," katanya.

Dia menjelaskan, keuntungan lokasi Stasiun Batutulis yang dapat diakses dengan angkot, bahkan angkot bisa menurunkan penumpang di depan stasiun, menjadi pertimbangan warga. Namun, Kusuma tidak memungkiri, tidak banyak penumpang yang naik dari stasiun ini. Meski begitu, jika proyek jalur ganda selesai, Kusuma meyakini lonjakan penumpang bakal terjadi di Stasiun Batutulis. "Nanti pastinya jadwal kan juga nambah, jadi penumpang pasti nambah juga," kata Kusuma.

Dia berpendapat, minimnya penumpang tak terlepas dari jadwal kereta yang hanya berangkat tiga kali sehari. Dia membandingkan jadwal kereta dengan KRL Commuterline di Stasiun Bogor yang datang setiap sekitar 30 menit, bahkan 10 menit pada jam sibuk. Terkait adanya relokasi, dia mendukung upaya tersebut. Terpenting, Stasiun Batutulis harus tetap ada. "Jangan sampi ke Paledang atau Ciomas kita naik keretanya," katanya berharap.

Menurut Kepala Dishub Kota Bogor Eko Prabowo, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah menganggarkan Rp 291 juta untuk kajian relokasi merelokasi Stasiun Batutulis. Eko mengakui, relokasi stasiun merupakan wewenang PT Kereta Api Indonesia (KAI).


×