|

Jawa Barat

19 Feb 2020, 19:24 WIB

Bisnis Tahu Mahrup Cibogo Meneruskan Jejak Orang Tua

Kualitas tahu diupayakan terus terjaga.



Bicara soal produksi tahu di Kota Bandung, maka yang biasanya muncul adalah nama Cibuntu. Daerah itu memang sudah puluhan tahun dikenal sebagai sentra pembuatan tahu. Namun, masih ada lokasi lainnya yang menjadi tempat produksi makanan berbahan dasar kedelai ini.

Salah satunya berada di kawasan Jalan Cibogo, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi. Pabrik tahu Cibogo ini dipelopori oleh Mahrup (almarhum) dan mulai beroperasi pada sekitar 1979. Mahrup memulai usaha produksi tahu ini bertepatan dengan pembangunan pertama Pasar Sarijadi. Kala itu, pabrik Mahrup disebut merupakan satu-satunya produsen tahu di Cibogo.

Kisah tersebut dituturkan oleh salah satu penerus usaha Mahrup, Asep Suherman (47 tahun). Menurut pria yang akrab disapa Suhe itu, sang bapak awalnya berjualan sayuran. Mahrup lantas mempelajari pembuatan tahu dari mertuanya, yang merupakan orang Cibuntu. "Belajar ke mertua cara membuat tahu, dan lanjut membuat pabrik di Cibogo tahun 1979," kata Suhe, generasi kedua yang melanjutkan bisnis tahu Cibogo ini, saat di temui awal Februari lalu.

Suhe menyebut, pembukaan pabrik tahu kuning di Cibogo mendapat respons baik. Menurut dia, banyak konsumen yang datang langsung ke pabrik untuk membeli tahu. Seiring perjalanan waktu, usaha tahu Cibogo yang dijalankan Mahrup ini kian dikenal ma syarakat. "Saat itu dikenal tahu Cibogo Ban dung, dan cepat menyebar," kata dia.

Sejalan dengan usaha orang tuanya, Suhe pun mulai menggeluti usaha bisnis tahu. Bersama sang istri, Agustin Marliana, usaha pembuatan tahu diseriusinya mulai sekitar 2010. Pada masa itu, Suhe berusaha mempe lajari seluk-beluk bisnis tahu yang sudah lama dijalankan orang tuanya.

Ayah Suhe meninggal pada 2002, dan ibunya pada 2014. Pada 2015, Suhe lantas tu run langsung meneruskan bisnis tahu orang tuanya ini. Sembari juga menjalani pekerjaan sebagai pembuat karikatur untuk salah satu media massa nasional. "Saya mengerjakan pekerjaan kantor di rumah dan mengelola per usahaan bapak," ujar dia.

Bersama lima saudaranya, Suhe mengelola tempat produksi tahu, yang luasnya berkisar sepuluh kali empat meter persegi itu. Ada empat pekerja yang terlibat dalam produksi tahu ini. Suhe mengaku terus berupaya men jaga kualitas tahu yang dihasilkan, sebagai mana dilakukan orang tuanya. Ia mencon toh kan dari sisi proses produksinya. "Contoh, di pa brik lain, satu kali adonan bisa memasuk kan kacang 12 sampai 14 kilogram. Kalau kita 10 kilogram, dengan waktu pakai dan pro duk si, serta biaya produksi yang sama," kata dia.

Suhe menjelaskan, langkah itu dilakukan melihat kemampuan pekerja dalam mengaduk adonan. Meskipun hasil produksi bisa menjadi lebih sedikit, menurut dia, kualitas tahu ku ning yang dihasilkan lebih maksimal dan terjaga. "Sejauh ini, kualitas tahu kuning dijaga dan dipertahankan," ujar Suhe.

Menurut Suhe, dalam waktu setengah hari pabriknya bisa memproduksi sekitar 3.500 ta hu. Jika produksi berjalan 24 jam, bisa dua ka li lipatnya. Soal harga tahu kuning ini, ia me nyebut terbilang lebih mahal dari pabrik lain. "Saya membuat tahu diutamakan kuali tas, otomatis harga agak mahal," kata dia.

Suhe mencontohkan, tahu yang dijual dari pa briknya untuk konsumen dihargai Rp 600 per potong. Sementara pabrik lain disebutnya ber kisar Rp 400 per potong. Adapun untuk reseller dihargai Rp 500 per potong. Menurut dia, sekitar 80 persen tahu yang diproduksinya habis terjual di pabrik. Sisanya disebut dijual di wilayah Pasar Cibogo dan sekitarnya. Ia me ngatakan, tahunya ini banyak disalurkan kon sumen rumahan, restoran, kafe, dan juga ho tel.

Selain informasi dari mulut ke mulut, per kem bangan internet dan media sosial dirasa turut membantu pemasaran tahu Mah rup Cibogo. Suhe mengatakan, pada akhir pekan, biasanya ada konsumen dari Jakarta yang mencari tahunya. Melihat potensi pasar, ia bersama sang istri meresponsnya dengan membuka gerai oleh-oleh tahu Mahrup Cibogo di kawasan Jalan Cibogo Atas Nomor 150.

Di gerai itu tahu dijual, baik yang masih mentah ataupun sudah digoreng. Bukan hanya tahu kuning, ada juga varian tahu keju dan tahu susu, serta olahan tahu. Tahu keju dan ta hu susu dihargai sekitar Rp 2.000 per po tong nya. Untuk memperluas pemasaran, Suhe pun mendaftarkan gerainya pada dua aplikasi jasa beli-antar makanan. Menurut dia, banyak konsumen yang membeli lewat aplikasi ini. "Alhamdulillah, omzet per bulan sampai di angka Rp 35 juta, sedangkan bersihnya Rp 15 juta sampai 17 juta," ujar dia.

Tidak selalu untung, Suhe pun mengaku usaha tahu pernah merugi. Salah satunya ter kait kerja sama dengan agen, yang meng gu na kan sistem ambil barang terlebih dulu dan pembayaran di akhir. Ternyata, banyak agen yang tidak membayar. Akhirnya, kata dia, tidak balik modal, yang nilainya berkisar Rp 150 juta. Pengalaman itu membuatnya belajar dan melakukan pembenahan. "Saya menata lagi dan mulai berjalan lagi. Marketing seka rang langsung ke konsumen, tidak melalui agen. Kalau ada, saya yang pegang," kata Suhe.

Saat ini, Suhe mengaku tengah menjalan kan kerja sama dengan pemerintah kecamatan untuk mendukung program Kementerian So sial. Melalui program itu, tahu menjadi ba gian dari makanan yang dibagikan kepada masya rakat kurang mampu. Ia mengaku diminta menyiapkan sekitar 13 ribu potong tahu per bulannya.

Ke depan, Suhe menilai, bisnis tahu me miliki prospek untuk terus berkembang. Selain bergizi, kata dia, makanan ini pun tidak mem bosankan, dan bisa dikonsumsi kalangan manapun.


×