KH Djazuli Utsman | DOK TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE

Mujadid

KH Djazuli Utsman, Pendiri Ponpes Ploso

KH Djazuli Utsman pernah berguru pada Hadratus Syekh Hasyim Asyari.

KH Djazuli Utsman lahir pada 16 Mei 1900 di Kediri, Jawa Timur. Namanya dikenang terutama sebagai pendiri Pondok Pesantren al-Falah, Ploso, daerah setempat.

Muhammad Nurul Ibad dalam Perjalanan dan Ajaran Gus Miek menjelaskan, Kiai Djazuli Utsman merupakan putra Raden Mas Muhammad Utsman, seorang penghulu kecamatan setempat. Adapun ibunya bernama Mas Ajeng Muntaqinah, yang merupakan keturunan mubaligh. Alhasil, Djazuli sejak kecil tumbuh dalam pengasuhan orang tua yang religius dan berpendidikan.

Saat berusia anak-anak, Djazuli Utsman mengenyam pendidikan formal. Mulai dari tingkat sekolah dasar (Sekolah Rakjat) hingga menengah, yakni Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara SMP) dan Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Ia juga sempat belajar di Sekolah Kedokteran Pribumi (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/STOVIA) Batavia (Jakarta).

Belum cukup lama menempuh pendidikan di kota, orang tuanya kedatangan tamu, seorang ulama. Namanya, KH Muhammad Ma’ruf dari Kedunglo, Kediri. Dai karismatik itu merupakan murid Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Saat bertamu, Kiai Ma’ruf menyarankan agar Djazui dikirimkan ke pesantren saja untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Sebab, dalam pandangannya pemuda yang sedang di rantau itu lebih cocok belajar di pesantren, alih-alih pendidikan tinggi yang belum tentu mengajarkan nilai keislaman.

 
Dalam pandangannya pemuda yang sedang di rantau itu lebih cocok belajar di pesantren.
   

Mendapatkan nasihat itu, RM Muhammad Utsman lantas mengirimkan surat ke Batavia. Isinya meminta Djazuli agar kembali ke Ploso. Sebagai seorang anak yang berbakti, pemuda ini akhirnya pulang kampung. Sejak saat itu, ia mulai belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, utamanya di sekitar Karesidenan Kediri.

Awalnya, ia mondok di Pesantren Gondanglegi, Nganjuk, yang diasuh KH Ahmad Sholeh. Di sanalah ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alqur’an, khususnya tajwid. Selain itu, ilmu tata bahasa Arab, terutama dengan Kitab Jurumiyah, juga mulai dikuasainya.

Setelah memahami ilmu nahwu, ia lanjut mempelajari ilmu sharrof selama setahun di Pondok Sono, Sidoarjo. Ia juga sempat belajar di Sekarputih, Nganjuk, pada lembaga yang diasuh KH Abdul Rohman. Pesantren yang didirikan KH Ali Imron di Mojosari, Nganjuk, menjadi tempatnya berlabuh kemudian. Waktu itu, pesantren tersebut dipimpin KH Zainuddin.

Selama di Pesantren Mojosari, Djazuli Utsman hidup sangat sederhana. Setiap hari, ia hanya memakan sepiring kecil nasi dengan lauk pauk seadanya, seperti jantung pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak.

Di tengah kehidupan yang serba terbatas itu, ayahnya meninggal dunia. Untuk menopang biaya hidup di pondok, Djazuli membeli kitab-kitab kuning bekas. Dengan teliti, ia memperjelas bacaannya. Lantas, ia menjual kitab-kitab yang telah diperbaiki tampilannya itu. Hasilnya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari di pondok.

Naik haji

Saat masa belajar di Mojosari, Djazuli mendapatkan rezeki tak terduga. Ia berkesempatan untuk menunaikan haji. Selama di Tanah Suci, lelaki asal Ploso itu tak langsung pulang sesudah musim haji usai. Ia meneruskan rihlah keilmuan dengan belajar pada sejumlah ulama di Masjidil Haram. Di antara guru-gurunya adalah Syekh al-Alamah al-Alaydrus.

 
Ia meneruskan rihlah keilmuan dengan belajar pada sejumlah ulama di Masjidil Haram.
   

Di Makkah, Djazuli hanya bertahan dua tahun. Sebab, kondisi setempat kala itu kian memburuk. Kudeta yang dilancarkan kelompok Wahabi pecah pada 1922. Sejak saat itu, Dinasti Saud berkuasa. Dalam kecamuk perang saudara antarsesama Arab itu, Djazuli bersama lima kawannya menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW di Madinah.

Akan tetapi, mereka lantas ditangkap pihak keamanan saat dalam perjalanan. Djazuli dan kawan-kawan dipaksa pulang ke negeri asalnya lewat mediasi konsulat Belanda di Jeddah. Akhirnya, Djazuli kembali ke Ploso. Salah satu oleh-oleh yang dibawanya ialah kitab berjudul Dalailul Khairat.

Setelah tiba di Tanah Air, KH Djazuli Utsman masih haus akan ilmu pengetahuan. Selang satu tahun kemudian, pada 1923 ia pun kembali meneruskan perjalanan menuntut ilmu. Kali ini, Tebuireng di Jombang menjadi pilihannya untuk memperdalam ilmu hadis. Waktu itu, pondok pesatren itu berada di bawah pimpinan Syekh KH Hasyim Asya’ri, sang pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Atas arahan sosok bergelar Hadratus Syekh itu, Djazuli tidak hanya mengaji, melainkan juga mengajar para santri di sana.

photo
ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan sosok KH Hasyim Asyari. - (DOK ANTARA MOCH ASIM)

Ia mulai mengajar Tafsir Jalalain di Tebuireng. Tidak hanya itu. Sering kali Djazuli mewakili lembaga dalam kegiatan bahtsul masa’il  yang diselenggarakan di berbagai daerah, seperti Kenes, Semarang, atau Surabaya.

Setelah dirasa cukup belajar dan mengabdi di Tebuireng, Djazuli kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke Pesantren Tremas yang diasuh KH Ahmad Dimyathi, adik kandung Syeikh Mahfudz at-Tarmasi. Tak berapa lama kemudian, ia pun pulang ke kampung halaman, Ploso, Kediri.

Mendirikan pesantren

Setelah melanglang buana dari satu pesantren ke pesantren lainnya, KH Djazuli Utsman akhirnya mulai mengamalkan ilmunya. Pada pertengahan 1924, ia merintis sebuah pondok pesantren di tanah kelahirannya.

Mula-mula, lembaga yang didirikannya itu menerima sekitar 12 orang santri. Dengan tekad yang kuat, pada 1 Januari 1925 Kiai Djazuli mengajukan surat permohonan pemantauan kepada pemerintah kolonial Belanda. Proses itu sebagai cara formal untuk mendirikan bangunan madrasah baru demi memperluas kapasitas pesantren.

 
Dalam usia muda, 25 tahun, Kiai Djazuli Utsman telah menjadi seorang tokoh yang dihormati.
   

Dalam usia muda, 25 tahun, Kiai Djazuli Utsman telah menjadi seorang tokoh yang dihormati masyarakat. Cerita tentang berdirinya madrasah itu sudah terdengar di kalangan luas. Maka, makin banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anak mereka ke pesantren di Ploso itu.

Madrasah tersebut belum berupa gedung permanen. Wujunya masih seadanya. Malahan, kadangkala serambi masjid dipakai untuk tempat belajar-mengajar. Oleh karena itu, Kiai Djazuli berupaya untuk menyediakan ruang belajar yang memadai.

Akhirnya, rencana pembangunan gedung madrasah dimatangkan. Dengan segenap jerih payah, Kiai Djazuli berkeliling desa guna mengumpulkan dana demi mewujudkan rencana tersebut.

Ia mengayuh sendiri sepedanya. Berpuluh‑puluh kilometer jarak ditempuh. Sejak Kediri, Tulungagung, Trenggalek, hingga Blitar. Usahanya tak sia‑sia. Ternyata, ada banyak hartawan dan dermawan mengulurkan tangan, sehingga pembangunan madrasahnya segera bisa direalisasikan.

Banyaknya santri yang menetap sudah tak tertampung lagi, sehingga timbullah permasalahan lagi yaitu pengadaan asrama bagi para santri. Pada 1928, dibangunlah asrama pertama yang diberi nama Pondok Darussalam. Setahun berikutnya, Pondok Cahaya didirikan sebagai tempat mujahadah bagi para santri.

Pada 1939, Kiai Djauzli membangun lagi Kompleks Andayani. Gedung asrama itu terdiri atas dua lantai, dilengkapi sebuah mushola di depannya. Dengan tersedianya berbagai sarana dan prasarana itu, para santri akhirnya bisa lebih fokus dalam belajar. Barawal dari gedung-gedung itulah, Pondok Pesantren al-Falah bisa menjadi besar seperti sekarang ini.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Timnas Indonesia Haru Puas Imbang dengan Palestina

Laga FIFA matchday ini berakhir dengan skor kacamata 0-0.

SELENGKAPNYA

Filosofi Taman Dalam Peradaban Dunia

Tiap peradaban cenderung menampilkan filosofi tertentu dalam membangun taman.

SELENGKAPNYA

Riwayat Taman Dalam Sejarah Dunia

Mulai dari Taman Gantung Babilonia hingga era Islam, di antara filosofi taman ialah membawa 'kepingan surga' ke bumi.

SELENGKAPNYA