Lelaki Tua Shalat Tarawih | Daan Yahya/Republika

Sastra

Lelaki Tua Shalat Tarawih

Cerpen Abul Muamar

Oleh ABU MUAMAR

Lelaki 65 tahun itu belum lagi menuntaskan nasinya saat azan Isya berkumandang. Sebenarnya kurang tepat jika disebut belum tuntas, sebab ia sudah menandaskan dua piring nasi dengan lauk sayur gulai daun singkong dicampur labu kuning dan ikan teri sambal. Nasi yang belum dituntaskannya itu adalah nasi tambuh yang kedua alias piring ketiga.

Sejak pagi ia sudah berniat untuk shalat Tarawih. Apalagi itu adalah malam Ramadhan terakhir. Maka dengan tergesa-gesa ia tuangkan nasi berkuah gulai itu dari bibir piring ke mulutnya, menghabiskannya dengan ligat, lantas bergegas berangkat ke mushala.

Ketika ia sampai di mushala yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumahnya, shalat Isya sudah berjalan dua rakaat. Jamaah sedang bersujud. Ia tidak langsung menyusul bersujud, melainkan menunggu sampai jamaah berdiri kembali. Yang datang terbilang ramai seperti malam pertama Ramadhan.

Sudah menjadi kelaziman di kampungnya, pada malam terakhir Ramadhan ramainya menyerupai malam pertama. Lima saf di mushala itu terisi penuh, termasuk shaf paling belakang yang diisi perempuan. Bahkan, beranda mushala itu juga penuh.

Lelaki itu shalat Isya di beranda. Namun, setelah shalat Isya selesai, ketika shalat Tarawih hendak dimulai dan sebagian anak-anak dan remaja memilih keluar untuk bermain, ia menyusup masuk ke dalam, dan bergabunglah ia di saf ketiga.

 
Lima shaf di mushala itu terisi penuh, termasuk shaf paling belakang yang diisi perempuan.
 
 

Di mushala itu, Tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan dilanjutkan tiga rakaat Witir. Begitulah dari dulu; sejak lelaki itu masih kecil hingga sekarang ia sudah bercucu dua.

***

Empat rakaat pertama Tarawih selesai. Aku menyusup masuk ke shaf paling belakang laki-laki. Tidak ada anak-anak lain selain aku. Mereka semua sudah pada bermain mercon di luar. Berlari ke sana berlari kemari.

Lelaki 65 tahun itu langsung mengetahui kehadiranku. Tidak ada yang memperhatikanku selain ia seorang. Ia memperhatikanku seperti memperhatikan dirinya sendiri. Aku malu dilihatinya. Dia tersenyum dan aku ikut tersenyum karena dia tersenyum.

Modin mengumandangkan seruan untuk dua rakaat selanjutnya, yakni rakaat kelima dan keenam atau dua rakaat yang ketiga. Jamaah menyahut dengan semangat. Aku pun tak mau kalah dan ikut menyahut meskipun lafaz yang kuucapkan asal bunyi saja. Tapi, aku tidak malu karena beberapa orang dewasa kuperhatikan juga banyak yang menyahut sembarangan.

 
Jamaah kembali berdiri dan mengangkat takbir. Lelaki itu masih terus memperhatikanku.
 
 

Jamaah kembali berdiri dan mengangkat takbir. Lelaki itu masih terus memperhatikanku. Entah mengapa, setiap shalat dimulai, aku jadi lesu dan mengantuk. Tapi, aku juga gelisah karena lelaki itu terus memperhatikanku, seakan-akan mengawasi gerakan shalatku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Barangkali ia ingin memarahiku karena shalat dengan lesu-lesuan. Namun, sepertinya dugaanku keliru karena ia tak kunjung menegurku bahkan ketika jeda antardua rakaat tiba.

Rakaat demi rakaat berlalu. Lelaki itu masih terus memperhatikanku, seakan-akan aku ini anaknya. Oh, bukan, bukan, aku jelas bukan anaknya. Setiap dua rakaat selesai, matanya selalu tertuju padaku. Aku jadi malu setiap kali ia lihati. Aku mencoba pura-pura khusyuk setiap kali matanya terarah padaku dan aku akan bergerak bebas ketika matanya tidak melirikku.

Ketika dua rakaat yang kesekian akan dimulai, lelaki itu lagi-lagi menyempatkan diri memperhatikanku. Ia baru akan menghadap ke depan jika aku sudah melipat tangan dengan benar dan salat dengan khusyuk, sampai-sampai ia sendiri tidak khusyuk. Setiap kali shalat berlangsung, dia selalu melirik ke arahku.

Pada rakaat yang entah keberapa, aku sudah tidak kuat lagi untuk terus berpura-pura khusyuk. Aku tak peduli. Saat jamaah sedang shalat dengan khusyuk (kecuali lelaki 65 tahun itu), aku tidur-tiduran atau cuma duduk sambil melipat-lipat peci. Lelaki itu masih terus memperhatikanku dan aku tidak peduli. Bahkan, ketika sedang sujud, diam-diam dia menyempatkan diri mengintip ke arah belakang untuk melihatku. 

 
Bahkan, ketika sedang sujud, diam-diam dia menyempatkan diri mengintip ke arah belakang untuk melihatku.
 
 

Pada rakaat kesekian, mungkin ke-11 dan 12 atau yang ke-13 dan 14, aku pindah ke depan, ke barisan di mana lelaki itu berada. Aku dan dia dipisahkan oleh tiga jamaah lain. Kali ini, aku menjelma remaja berumur 15 tahun, bukan lagi bocah kecil seperti tadi. Tinggi badanku hampir menyamai tinggi badan lelaki itu. Selesai dua rakaat yang kesekian, lelaki itu tampak seperti hendak menyapaku, namun ia sepertinya ragu. Dia khawatir dianggap tak khusyuk--walaupun sebenarnya memang begitu.

Doa di antara dua rakaat shalat selesai. Saat jamaah kembali berdiri, lelaki itu kulihat mencoba khusyuk dengan tidak memperhatikanku, dan sebagai gantinya ia shalat dengan memejamkan mata. Begitu dua rakaat selesai, aku kembali ke belakang, kembali menjadi anak kecil seperti semula, dan itu membuat lelaki itu semakin gelisah.

Tarawih terus berlanjut. Lelaki itu kembali melirik ke belakang dengan ujung matanya. Ketika dua rakaat kesekian selesai, saat ia menoleh ke belakang untuk melihatku, ia terkecoh. Aku kini berada di shaf paling depan. Aku menjadi bilal, mengumandangkan seruan-seruan Tarawih. Aku menjadi seorang remaja akhir yang hampir dewasa.

Lelaki itu terperanjat. Ia mengucek-kucek matanya saat melihatku ada di depan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memastikan apa yang ia lihat. Aku masih di depan, masih menjadi bilal. Kulantunkan seruan dan doa-doa Tarawih dengan suaraku yang merdu, keras, dan tegas. Lelaki itu terlihat tertunduk, entah malu atau bagaimana.

Tak percaya atas apa yang ia lihat, lelaki itu pergi ke kamar basuh dan membasuh wajahnya. Ketika ia masuk kembali ke dalam ruang shalat, aku kembali ke shaf paling belakang, menjadi anak kecil lagi.

 
Ketika ia masuk kembali ke dalam ruang shalat, aku kembali ke shaf paling belakang, menjadi anak kecil lagi.
 
 

Tarawih hampir selesai. Tinggal dua rakaat pamungkas. Dalam hitungan sepersekian detik ketika lelaki itu lengah, aku pindah lagi ke depan. Paling depan. Kali ini aku jadi imam. Lelaki itu semakin gelisah. Shalatnya semakin tak khusyuk saja. Tiba-tiba di tengah shalat, karena tak tahan dengan kegelisahannya, lelaki itu berteriak memprotes.

"Sebentar! Sebentar! Bagaimana Saudara-Saudara bisa membiarkan anak kecil jadi imam?"

Para jamaah terkejut, termasuk jamaah perempuan yang berada di shaf paling belakang yang dipisahkan dengan kain. Mereka pada mengintip, berjinjit dan mendongak, penasaran dengan apa yang terjadi di depan.

"Orang-orang di masjid ini sudah gila!" teriak lelaki itu lagi. Seluruh jamaah memandangnya. Sebagian jamaah marah. Sebagian lagi menenangkan yang marah.

"Pak, mohon tenang. Lihatlah baik-baik. Imam kita bukan anak kecil," seorang jamaah menegur lelaki itu dengan sopan.

Lelaki itu tersipu malu karena ketika dilihatnya kembali, yang jadi imam bukan aku. Aku memanfaatkan waktu ketika ia tertunduk untuk kembali lagi ke belakang dan berubah menjadi anak kecil lagi seperti semula.

 
Lelaki itu tersipu malu karena ketika dilihatnya kembali, yang jadi imam bukan aku.
 
 

Ketika Tarawih selesai, aku berubah menjadi sesosok laki-laki tua dan renta berumur 100 tahun. Kali ini, gantian aku yang memperhatikan lelaki itu. Ia terlihat malu karena kulihati, seperti saat aku berwujud bocah dan malu diperhatikannya. Sejurus kemudian, lelaki 65 tahun itu benar-benar berubah menjadi anak kecil, yang bahkan belum mengerti mengerjakan shalat, tapi merasa wajib untuk tetap datang ke mushala dan shalat. 

Tak mau berlama-lama menjadi lelaki tua renta, aku berubah menjadi lebih muda, menjadi seorang pria matang berumur 40 tahun. Kudekati lelaki itu, yang kini wujudnya berupa anak kecil dan kukatakan padanya, "Lama kau tak nampak. Ke mana saja?"

Ia terdiam agak lama sebelum menjawab. "Aku sibuk bekerja dan menimba ilmu. Membaca ratusan bahkan ribuan buku. Kini aku kaya dan banyak ilmu."

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali seperti sedia kala, menjadi pria 65 tahun. Sementara aku berubah menjadi anak kecil seperti semula.

Saat doa shalat Witir rampung, ia telah sadar. Ia telah ingat siapa sosok yang dilihatnya sepanjang Tarawih terakhir ini. Ia menangis menatap sajadahnya. Saat ia hendak menoleh kembali ke arahku, aku telah moksa. (*) 

Medan-Semarang, Mei 2016-Maret 2023

Abul Muamar, lahir di Perbaungan, Serdangbedagai, 1988. Membaca dan menulis prosa fiksi. Buku kumcernya, “Pacar Baru Angelina Jolie” (Gorga, 2019). Saat ini tinggal di Semarang.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Ada Mobil, Ada Garasi

Pemprov DKI Jakarta (kembali) menggencarkan kewajiban memiliki garasi sendiri.

SELENGKAPNYA

Fath Makkah, Kemenangan di Bulan Suci

Konteks awal Pembebasan Makkah adalah tercapainya Perjanjian Hudaibiyah.

SELENGKAPNYA

Hukum Mendahulukan Pembayaran Ongkos Haji daripada Zakat Mal

Apabila disandingkan, dana zakat dan dana haji pun terlihat tak seimbang.

SELENGKAPNYA