ILUSTRASI Dalam sejarah Islam, tercatat sejumlah kejadian gempa yang berlangsung pada masa daulah Muslim. | DOK EPA-EFE SEDAT SUNA

Dunia Islam

Kejadian Gempa Dalam Sejarah Islam

Kalangan sarjana Muslim mencatat, sejumlah gempa pernah terjadi dalam sepanjang sejarah Islam.

Sebagai sebuah kejadian besar, gempa yang terasa mengguncang atau bahkan destruktif tentunya menjadi perhatian kalangan penulis. Sejumlah sarjana Muslim pun mencatat adanya musibah demikian, baik yang dirasakannya sendiri maupun yang kabarnya sampai pada mereka. Bahkan, catatan itu muncul sehubungan dengan masa kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, Al-Da'a wa al-Dawa'a, mengutip sebuah hadits mursal yang diriwayatkan Ibn Abi al-Dunya.

Terjemahannya berbunyi, “Bumi pernah berguncang pada masa Rasulullah SAW. Beliau meletakkan tangannya di atas bumi dan bersabda, ‘Tenanglah! Belum tiba saatnya bagimu.’ Kemudian, beliau menoleh kepada para sahabat seraya memberi tahu, ‘Allah ingin agar kalian melakukan sesuatu yang membuat-Nya ridha. Karena itu, buatlah agar Dia ridha kepada kalian!’”

Seperti dijelaskan al-Biruni, tahun kelima dari hijrahnya Rasulullah SAW disebut sebagai “Tahun Gempa". Masyarakat Arab tradisional menamakan—tidak sekadar mengurutkan—tahun kesatu, tahun kedua, dan seterusnya dalam sistem penanggalan. Biasanya, mereka menamakan suatu tahun dengan merujuk pada sebuah peristiwa historis yang terjadi di dalamnya.

Misalnya, tahun kelahiran Nabi SAW disebut sebagai “Tahun Gajah” karena pada saat itu Ka’bah menjadi target serangan pasukan bergajah yang berarak dari Yaman. Tahun ke-10 sejak hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah dinamakan sebagai “Tahun Perpisahan". Sebab, di dalamnya terjadi haji terakhir (haji wada’) Rasulullah SAW.

 
Gempa kembali mengguncang Madinah pada zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. 
 
 

Kembali ke persoalan gempa. Bencana ini kembali mengguncang Madinah pada zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Menurut riwayat yang sama, sahabat bergelar al-Faruq itu menyeru kepada penduduk setempat, “Wahai manusia, gempa ini tidak terjadi kecuali karena perbuatan kalian! Demi Zat Yang menggenggam jiwaku, jikalau ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal di sini bersama kalian.”

Umar bin Khaththab pada saat itu pun secara spontan mengenang kejadian serupa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW di Madinah. Sang khalifah merasa bahwa Allah SWT sedang mengingatkan kaum Muslimin sepeninggalan Nabi SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Maka dari itu, tidak ada yang terucap di lisannya selain peringatan kepada sekalian umat Islam agar segera meninggalkan kebiasaan buruk dan bertobat dengan sungguh-sungguh demi keridhaan Sang Pencipta.

 
Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi, mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian.
 
 

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, Al-Jawab al-Kafy, berkomentar, “Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi, mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.”

Gempa bumi juga menggoyang wilayah kaum Muslimin generasi berikutnya. Pada saat itu, Umar bin Abdul Aziz tampil selaku khalifah dari Dinasti Umayyah. Dia mengambil kebijakan yang sejalan dengan apa yang telah dilakukan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab. Diserukannya kepada penduduk agar sama-sama bermunajat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya.

Selanjutnya, pemimpin yang terkenal akan sifat zuhudnya itu mengirimkan surat kepada seluruh wali negeri. Isinya mengingatkan para bawahannya itu, “Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini merupakan teguran dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Ensiklopedia Medieval Islamic Civilization menyebutkan bahwa komunitas Muslim sudah sejak awal memiliki kewaspadaan terhadap bencana alam. Beberapa wilayah Muslim juga pernah dilanda gempa bumi skala besar.

Dampak yang dideritanya cenderung sama dengan negeri-negeri lain yang sempat mengalaminya. Hanya saja, dalam konteks abad pertengahan, bencana demikian ikut memperlemah struktur sosial dan politik umat Islam.

Sebagai contoh, Suriah yang dilanda banyak gempa sepanjang akhir abad ke-11—yakni pada tahun-tahun 1050, 1063, 1068, 1069, 1086, dan 1091 Masehi. Penduduk setempat banyak yang menjadi korban tewas. Banyak bangunan dan rumah-rumah warga yang hancur atau bahkan rata dengan tanah.

Aktivitas ekonomi dan keamanan pun mengalami kekacauan dalam rentang waktu yang cukup lama. Akhirnya, pada awal abad ke-12 M, pasukan Salib dapat dengan relatif mudah menjebol pertahanan Suriah dan menaklukkannya.

Dalam catatan cendekia

Para sarjana Muslim pada abad pertengahan memandang fenomena gempa bumi secara berlainan. Beberapa menyebut secara sekilas saja musibah tersebut tanpa merasa perlu menyelidikinya lebih jauh.

Namun, tidak sedikit yang menggambarkan kejadian gempa dengan begitu detail, antara lain, untuk mengenang keluarga atau komunitasnya pasca-bencana. Misalnya, Usama ibn Munqidh, seorang penyair dari abad ke-12 yang menggubah sebuah sajak panjang setelah dia kehilangan banyak sanak familinya dalam gempa yang mengguncang Suriah.

Sejumlah ilmuwan Muslim juga menulis secara khusus tema gempa bumi—di luar pelbagai bencana lainnya, seperti wabah kelaparan atau sampar. Sebut saja al-Kindi (801-873), filsuf pertama dari Dunia Islam dan sejarawan Ibn Asakr (1105-1176) yang membahas gempa di Mesir pada 952. Selain itu, terdapat Jalaluddin al-Suyuti (1445-1505), seorang sarjana dari Mesir yang membuat daftar kejadian musibah di salah satu bukunya.

Banyak penulis Muslim dari masa silam yang berpendapat bahwa gempa bumi disebabkan pergerakan gas di bawah permukaan tanah yang tidak bisa mencair atau pun keluar. Tokoh-tokoh yang mengambil dugaan semacam itu antara lain adalah al-Kindi, al-Biruni, dan Ibnu Sina. Mereka tetap mempercayai takdir Allah di balik segala sesuatu.

Namun, penjelasannya tentang gempa diawali dengan hipotesis demikian, bahwa ada gas yang bergerak-gerak di dalam tanah. Oleh karena itu, mereka dapat dikatakan ikut merintis penyelidikan ilmiah atas peristiwa gempa tektonik dan vulkanik.

Agak berbeda daripada mereka, beberapa mengawali pemaparannya tentang kejadian gempa dengan mengingatkan pembacanya akan kekuasaan Allah. Al-Suyuti, misalnya, menyatakan bahwa bencana ini terjadi sebagai akibat dari dosa-dosa penduduk yang menghuni titik pusat gempa dan sekitarnya.

Selain itu, penulis yang sama juga menghubungkannya dengan tanda-tanda datangnya kiamat besar, sebagaimana disinggung dalam Alquran dan Sunnah. Surah al-Zalzalah, yang secara harfiah berarti ‘gempa’, umpamanya, juga kerap dikutip untuk mendukung keterhubungan antara gempa dan situasi (menjelang) Hari Akhir.

Sejumlah Gempa Dahsyat Dalam Catatan Sejarah

Sejarah mencatat, sejumlah gempa dahsyat pernah menghantam pelbagai belahan dunia.

SELENGKAPNYA

Dermawannya Muslim Inggris, Uang Zakat Capai Rp 2,4 Triliun

Semakin banyak Muslim Inggris yang sadar akan adanya permintaan dalam komunitas mereka sendiri.

SELENGKAPNYA

Israel Renggut Kebahagiaan Ramadhan Anak-Anak Palestina

Puluhan anak-anak dan remaja ditangkap pasukan Israel Ramadhan ini.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya