Tuhan Ambil Saja Ayahku | Daan Yahya/Republika

Sastra

Tuhan, Ambil Saja Ayahku

Cerpen Irwansyah

Oleh IRWANSYAH

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana wajah-wajah ceria itu berubah. Ingin menjadi anak yatim, empat kata itu yang membuat riuh ruangan kelas mendadak hilang ditelan dinding-dinding kusam dan berjamur.

Tidak seperti murid-murid lain yang disambut dengan tepukan tangan, aku justru disambut kebisuan. Keheranan itu berlompatan dari satu wajah ke wajah lain menanti penjelasanku.

Aku tidak seperti mereka yang begitu antusias menyebutkan cita-cita di depan kelas. Buatku, itu semua hanya sekadar lucu-lucuan. Aku hanyalah bocah yang setiap harinya menghabiskan waktu di bantaran sungai dan lampu merah.

Pada hari itu, aku disuguhi mimpi-mimpi yang terlihat indah melalui kata yang mereka sebut dengan cita-cita.

Debu-debu jalanan, deru kendaraan yang beradu bising dengan suara klakson dalam antrean, umpatan dan makian orang-orang yang tidak sabaran, tangisan pilu bocah-bocah menahan lapar, suara cempreng pengamen dengan tutup limun sebagai kecrekan, wajah lusuh pengemis yang berharap belas kasihan, aroma busuk dari sungai yang semakin menghitam adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam hidupku.

Di sebuah rumah di tepian sungai aku dilahirkan. Sungai yang menjadi surga bagi pengais rongsok dan ikan sapu-sapu. Kata ibu, aku biasa tidur dalam buaian kain sarung yang diikatkan dengan tali pada palang kayu penyangga atap. Ketika aku sudah bisa mendefinisikan rumah sebagai tempat tinggal, barulah aku menyadari, ternyata tidak ada jendela di rumah itu. 

 

 
Aku tidak seperti mereka yang begitu antusias menyebutkan cita-cita di depan kelas. Buatku, itu semua hanya sekadar lucu-lucuan.
 
 

 

Di rumah itu hanya ada pintu depan dan belakang yang terhubung dengan sungai melalui titian kayu. Dua pertiga lantai rumah disanggah tiang-tiang kayu yang menghunjam ke tepian sungai. Sebagian dari dinding terbuat dari tripleks yang sudah merekah ditingkahi waktu.

Ketika terik, larik-larik matahari terhunus melalui lubang-lubang yang bertaburan di atap seng bekas berwarna kecokelatan. Ketika hujan, mangkuk dan baskom berserakan di lantai menadah air yang terus menetes.

Kawanan tikus yang biasa berlarian di palang-palang atap pun mengenas. Mereka tidak pernah menemukan sisa makanan, kecuali hanya aroma ikan asin tanpa kepala yang ditutupi mangkuk, lalu ditindih gilingan batu. Laba-laba berperut bulat seperti terkantuk-kantuk bergelayutan pada jaringnya, tidak ada terlihat serangga yang mau menyinggahi.

Jangankan penghuni di dalamnya, rumah itu pun sepertinya kepayahan menahan sempit dan terimpit. Tidak ada celah dengan rumah tetangga di sebelah. Dinding sisi kanan dan kiri berbagi fungsi. Tidak ada halaman di depan.

Ketika membuka pintu, gang sempit yang hanya cukup untuk dua orang bersisian langsung menyambut. Hanya ada aroma pesing menyengat dan menguasai liang hidung di sepanjang gang itu.

Lalu, di dalam ruangan yang mereka sebut sebagai sekolah, aku diminta menyebutkan cita-cita?

Jika bukan karena kuatnya keinginan ibu, rasa-rasanya mustahil aku bisa berseragam putih merah.

“Kau harus sekolah, Tegar. Biar ibu yang cari uang.” Kalimat singkat itu yang selalu saja diucapkan ibu setiap kali aku menyampaikan niat ingin membantunya mencari lembaran-lembaran rupiah di jalanan. 

 

 
Aku tidak tega melihat wanita yang telah melahirkanku itu. Dia tidak memiliki waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.
 
 

 

Aku tidak tega melihat wanita yang telah melahirkanku itu. Dia tidak memiliki waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri. Setiap hari jari-jari tangannya dipenuhi kerutan karena terlalu lama terendam air.

Ketika malam, jari-jari itu kembali disibukkan menggaruk sela-sela jari kakinya karena kutu air beranak pinak. Dari pintu-pintu ke pintu, ibu menawarkan diri mencuci pakaian kotor. Kemudian, senyumnya merekah setelah menerima beras sekaleng susu dan daster bekas yang berlubang dari tempatnya bekerja.

Sementara, laki-laki yang biasa aku panggil dengan sebutan ‘Ayah’, aroma alkohol yang melekat di tubuhnya sangat akrab dengan penciumanku, tetapi tidak dengan tanggung jawabnya. Entah apa yang bisa aku banggakan darinya.

Kafe remang-remang dengan dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu menjadi tempat favoritnya. Menjelang pagi, pintu rumah nyaris roboh menerima gedoran kuat dari tangannya, kemudian disusul teriakan dan umpatan karena ibu tidak kunjung membukakan. Berikutnya, jejak biru akan tertinggal di wajah ibu.

Dialah yang tega membiarkan ibu menanggung jerih sepanjang hari. Rasa-rasanya tidak ada yang salah jika aku berharap agar Tuhan segera mengambil ayah. Aku yakin, menjadi anak yatim tidak akan lebih buruk dari keadaanku saat itu.

Kenapa Tegar ingin menjadi anak yatim?” Pertanyaan itu diutarakan Pak Naim, guruku. Ada kerutan di keningnya.

“Biar Tegar disayang banyak orang.” Itulah jawabanku. 

 

 
Aku sering melihat teman-teman mengaji, mereka yang tidak lagi memiliki ayah mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang.
 
 

 

Aku sering melihat teman-teman mengaji, mereka yang tidak lagi memiliki ayah mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang. Bahkan, kotak kaca bertuliskan ‘Infak Anak Yatim’ sengaja disediakan pengurus masjid, khusus untuk anak-anak yang tidak lagi mempunyai ayah. Menjelang Lebaran, teman-temanku akan mendapatkan amplop berisi uang yang terkumpul dari kotak kaca itu.

Sementara aku, orang-orang tetap melihatku sebagai seorang anak yang memiliki ayah. Mereka tidak peduli ketika ayahku tidak pernah memberikan selembar rupiah, atau sekadar membelai kepalaku saat akan berangkat ke sekolah.

“Tegar, pulang!”

Tidak berselang lama, seisi kelas dikejutkan dengan suara lantang ayahku yang sudah berdiri di bawah bingkai pintu kelas. Matanya memerah. Rambutnya berantakan. Beberapa kancing baju kemejanya tidak terpasang. Mulutnya terus meracau dan air liur bermuncratan. 

Tanpa mau menunggu lebih lama, ayah langsung menarik kasar tanganku. Tubuhku tersentak. Aku pun tidak sempat mengambil tas juga buku-buku yang ada di atas meja. Namun, setidaknya apa yang terjadi pada hari itu sudah cukup untuk menjawab keheranan Pak Naim dan teman-temanku kenapa aku ingin menjadi anak yatim.

 

 
Tanpa mau menunggu lebih lama, Ayah langsung menarik kasar tanganku. Tubuhku tersentak.
 
 

 

“Buat apa sekolah, hah?” 

Ibu tidak berani menjawab ketika pertanyaan itu dilontarkan ayah. Wanita yang tubuhnya kian layu itu memilih diam dan mendekapku. Aku bisa merasakan degup jantungnya. Saat semua beban tidak bisa lagi ditahan, setitik hangat air matanya jatuh mengenai wajahku. Jiwa itu rapuh ketika melihat usahanya untuk menyekolahkanku dipatahkan dan dicampakkan oleh suaminya sendiri.

“Bagus kau di lampu merah sana, Tegar. Bawa ini!” Stoples plastik dilemparkan Ayah tepat di depanku. “Sekolah tak bikin kau kaya!”

Kalimat itu teramat sering diucapkan ayah. Ada kekecewaan yang mendalam di dalam hatinya. Jauh-jauh dari ujung utara Pulau Sumatra sana, Ayah memboyong ibu menuju ibu kota ini dengan mengandalkan ijazah SMA.

Dua belas tahun bersekolah, baginya hanya kesia-siaan. Buang-buang uang. Tidak ada yang menjamin memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak setelah menyelesaikan pendidikan. Bahkan, sepetak sawah orang tua Ayah pun tergadai demi membiayai sekolahnya.

Ayah adalah satu dari jutaan orang yang datang dan menjejali kota ini dengan mimpi-mimpi indah. Ada harapan yang dia letakkan lebih tinggi dari gedung-gedung menjulang yang menantang langit. Namun, sayang, ijazah ayah tidak cukup ampuh untuk bertaruh nasib di kota ini.

 

 
Kalimat itu teramat sering diucapkan Ayah. Ada kekecewaan yang mendalam di dalam hatinya.
 
 

 

Tugu tinggi yang memamerkan bongkahan emas di puncaknya itu pun tertawa angkuh. Dari puncaknya, ia melihat satu per satu para perantau merengkuh kekecewaan. Kilau emasnya yang telah membuat banyak orang terpesona hingga rela meninggalkan kampung halaman.

Kota ini terlalu molek hingga mampu menggoda. Meskipun pada akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang harus rela melakukan apa saja agar bisa bertahan. Ayahku salah satunya, dia memulai karir sebagai tukang parkir. Kemudian, karena keahliannya dalam bela diri, jabatannya naik menjadi preman kecil-kecilan. Lalu, ayah memantapkan diri menjadi pengaman di sebuah kafe remang-remang di mana transaksi lendir biasa dijajakan.

Mas Anton, tetanggaku, nasib laki-laki itu terbilang lebih tragis. Gelar sarjana yang dia sandang tidak memberi manfaat apa-apa. Dia pun akhirnya menggeluti profesi sebagai penyandang disabilitas gadungan. Berbekal perban dan obat merah, Mas Anton membebat kakinya, kemudian bertingkah seperti orang yang tidak bisa berjalan.

Sementara Mas Wahyu, tidak lebih baik dari Mas Anton yang merupakan teman serumahnya. Laki-laki tamatan SMK itu ketika malam terpaksa mengubah sebutan ‘Mas’ di depan namanya menjadi ‘Mbak’.

Wajahnya pun dipoles bak wanita. Rambut palsunya panjang terurai. Pakaiannya tidak kalah menggoda dari wanita-wanita di jalanan yang menawarkan kenikmatan sesaat. Bermodalkan gitar betot yang terbuat dari tripleks dan dawai dari tali karet, Mas Wahyu menjual suara baritonnya di keramaian.

Lain lagi yang dialami Ningsih. Gadis belia yang baru beranjak remaja itu setiap malam dipaksa ibunya pergi bersama laki-laki yang tidak lebih muda dari ayahnya. Setiap kali dia menolak, maka ibunya tidak segan-segan memukul.

Aku pun mengalami hal seperti Ningsih. Ikat pinggang kulit milik Ayah tidak segan-segan mendarat di punggungku ketika aku bersikeras tetap ingin sekolah. Setelah melakukan itu, Ayah berlalu begitu saja tanpa mencoba membujukku yang meringkuk di sudut ruangan menahan nyeri.

 

 
Ibu yang memiliki cita-cita. Dia tidak ingin kegagalan dari suaminya mengadu nasib di kota ini menjadi kutukan yang diturunkan kepadaku.
 
 

 

Ibu yang memiliki cita-cita. Dia tidak ingin kegagalan dari suaminya mengadu nasib di kota ini menjadi kutukan yang diturunkan kepadaku. Namun, sayang seperti sabut kelapa kering yang terbawa arus sungai, cita-citanya dihanyutkan ayah.

Sia-sia usahanya menantang arus. Sungguh, ingin kusumpahi sungai itu jika saja tonggak-tonggak rumahku tidak menyentuh airnya. Entah sekongkol apa yang terjadi antara Ayah dan sungai busuk itu.

“Kau tahu kenapa ibu memberimu nama Tegar?”

Aku hanya menggeleng. 

“Karena Ibu yakin, kau punya kekuatan untuk menghadapi hidup.” Aku bisa merasakan jari telunjuk Ibu menekan pelan tepat di dadaku. “Ibu ingin, entah bagaimana caranya kelak, kau bisa kembali sekolah.”

Aku pun berjanji, suatu saat nanti, aku akan memberikan kebahagiaan untuk wanita yang telah melahirkanku. Aku ingin mewujudkan mimpi-mimpinya. Jari-jari kurusnya tidak akan kubiarkan selamanya jerih menyikat dan memeras pakaian. Begitu juga dengan daster bekas yang tidak terhitung ada berapa tambalan, suatu saat aku akan mengganti dengan yang baru.

 
Hari ini, di tepian sungai yang sama, aku bersama Ibu memandangi salah satu sisinya.
 
 

Tidak sampai satu bulan setelah ayah menjemputku di sekolah, Tuhan mengabulkan cita-citaku. Ayah meregang nyawa di meja kafe tempatnya bekerja. Sabetan benda tajam bersarang di kepalanya. Ibu menangisi laki-laki terkasihnya, meski aku tidak pernah melihat rasa yang sama dari sosok Ayah. Sementara aku ... aku tidak tahu apakah harus bersedih atau justru bahagia. Namun yang pasti, hanya berselang dua hari setelahnya, aku kembali ke sekolah.

“Teruslah bermimpi, Tegar, meskipun kau hanyalah seorang bocah jalanan.” Kalimat dari Pak Naim itu yang menyambutku pada hari pertama ke sekolah setelah kepergian ayah.

Hari ini, di tepian sungai yang sama, aku bersama ibu memandangi salah satu sisinya. Di sana, aku yakini dahulu rumahku pernah berdiri. Kini, tidak ada lagi yang tersisa dari rumah itu selain dari sepenggal kisah yang pernah aku jalani hingga meraih mimpi dan memenuhi janjiku kepada ibu. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kala Gembong Musyrikin Yakin Nabi tak Pernah Dusta

Umayyah bin Khalaf percaya bahwa Nabi SAW tak pernah berdusta, tapi enggan beriman.

SELENGKAPNYA

Agar-Agar Pantai Garut, Setipis Kertas

Agar-agar kertas merupakan bahan baku pembuat dodol puding.

SELENGKAPNYA

Sejarah Permulaan Penulisan Sirah

Penulisan biografi atau Sirah an-Nabawiyah menjadi perhatian para sarjana sejak abad-abad pertama Hijriyah.

SELENGKAPNYA