PM Israel Benjamin Netanyahu selepas terpilih kembali pada Desember 2022 lalu. | EPA-EFE/ARIEL SCHALIT / POOL

Kabar Utama

Setelah Indonesia, Israel Coba Dekati Saudi

Kerja sama dengan Saudi juga untuk mengadang Iran.

TEL AVIV – Israel terus berupaya meluaskan jangkauan hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Islam. Arab Saudi dan Indonesia jadi sasaran utama pemulihan hubungan diplomatik mereka.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, pemerintahannya sedang bekerja untuk mencapai kesepakatan damai dengan Arab Saudi. Isu normalisasi hubungan diplomatik antara kedua negara tersebut sudah berhembus sejak tahun lalu.

Netanyahu mengungkapkan, mencapai kesepakatan dengan Saudi akan menjadi “lompatan kuantum” diplomatik. “Menjalin hubungan yang hangat dengan Arab Saudi akan mengubah hubungan Israel dengan seluruh dunia Arab,” ucapnya, Ahad (19/2), dilaporkan Times of Israel.

Menurut Netanyahu, jika Israel bisa menormalisasi hubungan diplomatik dengan Saudi, hal itu akan mengakhiri konflik Israel-Arab. Oleh sebab itu, normalisasi relasi dengan Riyadh bakal meluncurkan perubahan bersejarah dalam posisi Israel di Timur Tengah. 

photo
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) memimpin rapat kabinet mingguan, diapit oleh sekretaris kabinet Yossi Fuchs, di kantor perdana menteri di Yerusalem, (5/2). - (EPA-EFE/GIL COHEN-MAGEN )

“Ini (normalisasi hubungan dengan Saudi) adalah tujuan yang sedang kami kerjakan secara paralel dengan tujuan menghentikan Iran. Keduanya saling terkait,” kata Netanyahu, dikutip Jerusalem Post

Dia menjelaskan, dunia Arab mengakui keunggulan ancaman Iran. Netanyahu mengatakan, Iran, yang telah dipandang sebagai “musuh bersama” telah membawa dunia Arab lebih dekat ke Israel.

Saat ini Israel diketahui telah menjalin normalisasi diplomatik dengan empat negara Muslim, yakni Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Sudan, dan Maroko. Kesepakatan normalisasi dengan keempat negara tersebut dicapai pada September 2020. Tokoh yang menjembatani dan memediasi proses normalisasi tersebut adalah mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Tahun lalu, Pemerintah Arab Saudi kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu disampaikan seusai kunjungan Presiden AS Joe Biden ke negara tersebut setelah sebelumnya melawat ke Israel dan Palestina. “Kami telah mengatakan bahwa Arab Saudi mendukung Inisiatif Perdamaian Arab. Faktanya, kami menawarkannya. Kami telah menjelaskan bahwa perdamaian datang pada akhir proses ini, bukan pada awalnya," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam sebuah wawancara khusus dengan CNN, 16 Juli 2022.   

photo
Presiden AS Joe Biden (kiri) bersalaman tinju dengan Pangeran Saudi Muhammad bin Salman, di Istana Al-Salam, Jeddah, Arab Saudi, Jumat (15/7/2022). - ((Bandar Aljaloud/Saudi Royal Palace via AP))

Inisiatif Perdamaian Arab, yang lahir pasca perhelatan KTT Beirut tahun 2002, berisi penawaran normalisasi dunia Arab dengan Israel. Syaratnya, Israel harus angkat kaki dari wilayah yang didudukinya, termasuk Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Lebanon. Palestina pun mesti menjadi negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Secara keseluruhan, terdapat 10 poin penawaran dalam inisiatif itu. 

Daya tawar inisiatif tersebut mulai rampung setelah UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan memutuskan melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel pada 2020. Sejak saat itu, Israel berusaha melobi lebih banyak negara Arab dan Muslim untuk mengikuti jejak keempat negara tersebut. 

Dalam kunjungannya ke Saudi pada Jumat 15 Juli 2022 lalu, Joe Biden dikabarkan turut membawa misi itu, yakni mencoba meyakinkan Riyadh agar membuka pintunya bagi Israel. Namun dalam pernyataan bersama kedua negara, AS dan Saudi menegaskan bahwa mereka mendukung penerapan solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. 

“Mengenai masalah Israel-Palestina, kedua belah pihak menggarisbawahi komitmen abadi mereka untuk solusi dua negara, di mana negara Palestina yang berdaulat dan bersebelahan hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan dengan Israel, sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah Israel-Palestina sesuai dengan parameter yang diakui secara internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab,” demikian bunyi pernyataan bersama AS-Arab Saudi. 

Perjalanan Abraham yang kontroversial - (Republika)  ​

Hubungan Indonesia

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah bulan lalu menegaskan Indonesia tidak akan menjalin relasi diplomatik dengan Israel. Komentarnya itu merespons pernyataan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid yang berharap dapat membuka hubungan diplomatic dengan Indonesia dan Arab Saudi.

“Dukungan Indonesia untuk keadilan dan kemerdekaan Palestina tidak berubah,” kata Teuku kepada Republika, Rabu (26/1).

Soal normalisasi hubungan dengan Israel, menurut Teuku sikap dan posisi Indonesia sudah jelas. Sebelum hal itu terjadi, Palestina harus terlebih dulu memperoleh kemerdekaan berdasarkan kesepakatan solusi dua negara dan merujuk pada beragam resolusi PBB berikut parameternya. “Hal ini yang terlebih dahulu ingin dipastikan Indonesia sebelum membicarakan hal-hal lainnya,” ujarnya.

photo
Korban Penjajahan Israel - (Republika)

Sebelumnya, Yair Lapid mengatakan, negaranya berharap dapat membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia dan Israel. Namun menurutnya, kesepakatan semacam itu akan memakan waktu.

Lapid mengungkapkan, saat ini Israel sedang berupaya merangkul lebih banyak negara agar bergabung dalam Abraham Accords, yakni kesepakatan perdamaian yang sudah terlebih dulu tercapai dengan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko. “Jika Anda bertanya kepada saya negara-negara penting mana yang sedang kita lihat, Indonesia adalah salah satunya, Arab Saudi tentu saja. Tapi hal-hal ini membutuhkan waktu,” ucapnya di Radio Angkatan Darat Israel, Selasa (25/1).

Menutup Mulut Daun

SELENGKAPNYA

Dua Pekan Pasca Gempa, Warga Mengais Barang Tersisa

Mereka mengais baranga yang tersisa di tengah upaya pencarian korban yang tertimbun.

SELENGKAPNYA

Sepurba Sangiran

Wilayah sangiran merupakan deposit fosil purba terkemuka.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya