Relawan Tanggap Bencana Baznas di Turki | Dok Baznas

Zakat

Berjibaku di Turki, Relawan RI Menembus Suhu Nol Derajat

Mau tak mau, pakaian yang digunakan wajib tiga lapis. Dari jaket, celana, sarung tangan, hingga kaos kaki.

OLEH UMAR MUKHTAR

Ahmad Fikri berjalan di tengah heningnya gedung-gedung di Kota Gaziantep, Turki. Di sisi jalan yang dilintasi, sebagian besar bangunan hancur rata dengan tanah. Hanya sedikit bangunan yang masih tetap teguh berdiri meski ditusuk dinginnya suhu udara.

Di seberang jalan, tampak gedung berlantai enam yang masih berdiri, tetapi kosong tanpa penghuni. Gedung-gedung yang semula berpenghuni kini sunyi akibat diguncang gempa dahsyat yang melanda Turki dan Suriah.

Di jalan raya yang dilalui Fikri, hanya segelintir kendaraan yang melintas. Tak lain adalah ambulans maupun kendaraan bantuan, yang hilir mudik berusaha menyelamatkan helaan napas setiap penyintas gempa.

photo
Relawan Tanggap Bencana Baznas di Turki - (Dok Baznas)

Ahmad Fikri menjadi salah satu bagian dari tim Baznas Tanggap Bencana untuk Turki dan Suriah. Dia dipercaya sebagai ketua. Fikri mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi tim relawannya adalah suhu dingin yang mencapai nol derajat. Mau tak mau, pakaian yang digunakan wajib tiga lapis. Dari jaket, celana, sarung tangan, hingga kaus kaki.

"Di tengah suhu yang sangat rendah, pakaian kami berlapis-lapis. Saya pribadi, jaket bulu angsa dua lapis, jaket windbreaker satu lapis. Kaus kaki tiga lapis, celana tiga lapis. Karena suhunya nol derajat dan dirasakan seperti minus 3 derajat. Ini kondisi yang sangat tidak normal bagi orang Indonesia," katanya kepada Republika, Kamis (16/2/2023).

 
Di tengah suhu yang sangat rendah, pakaian kami berlapis-lapis.
AHMAD FIKRI Ketua Tim Baznas Tanggap Bencana untuk Turki dan Suriah
 

Fikri berkomunikasi dengan Republika melalui panggilan video. Tubuhnya tampak menebal karena berlapis-lapis pakaian yang dikenakan, dari kepala hingga ujung kaki. Leher dibabatkan kain syal dan bagian atas kepala tertutup kain kupluk tebal. Dari seluruh bagian tubuhnya, yang terbuka hanya wajah, dengan kacamata hitam yang menutupi matanya untuk menghalau debu.

Pada malam hari, Fikri harus sering berkumpul di perapian untuk menghangatkan tubuh. Biasanya dia ikut di perapian di tempat pengungsian atau di posko Indonesia. Perapian ini menggunakan kayu-kayu yang telah dikumpulkan sebelumnya dan dibakar di dalam drum atau tong.

Hampir sepekan Fikri dan tim relawan Baznas dari Jakarta berada di Turki. Selama beberapa malam, mereka tidur di sebuah aula yang terbuka sehingga suhu dingin yang menusuk itu tak dapat terhindarkan. "Dan malam ini (Kamis 16 Februari 2023), tidur di dalam tenda," ujarnya.

Fikri menuturkan, tim relawan Baznas di Turki terdiri atas lima orang dari Indonesia. Ada 20 relawan lainnya dari kalangan mahasiswa Indonesia di Turki yang merupakan binaan Baznas. Tim fokus mendistribusikan berbagai bantuan yang menjadi kebutuhan darurat bagi para penyintas gempa di Turki. Secara bertahap, bantuan telah didistribusikan ke beberapa wilayah di Turki, seperti Ahlat dan Hatay.

Bantuan yang diberikan, Fikri menjelaskan, yaitu berupa jenis makanan olahan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Turki. Di antaranya, makanan siap saji berbahan gandum disertai susu, juz, dan keju. Para pengungsi Turki juga diberikan pakaian musim dingin, syal, sarung tangan, kaus kaki, kain penutup kepala, tisu basah, dan sabun.

photo
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI melepas Tim Baznas Tanggap Bencana untuk membantu para penyintas gempa di Turki dan Suriah, di kantor Baznas RI, Jakarta, Jumat (10/2/2023). - (Dok. Baznas)

Tim relawan Baznas juga telah melakukan asesmen terkait kebutuhan para penyintas gempa. Tim juga sudah bertemu dengan pihak dari Kementerian Sosial Turki yang menangani bencana gempa saat ini. Otoritas Turki menyampaikan, para pengungsi masih sangat membutuhkan tenda darurat dan pakaian musim dingin.

Fikri menjelaskan, saat ini para pengungsi Turki tinggal di dalam tenda milik mereka yang hanya dapat menampung satu atau dua keluarga. Di dalam tenda terdapat pemanas dan di area sekitarnya telah berdiri dapur umum. Pasokan kayu untuk perapian juga sudah disiapkan. Namun, Fikri mengakui, keadaan ribuan pengungsi Turki itu masih terbatas.

"Kemampuan tenda mereka, untuk menahan suhu dingin, meski sudah ada pemanas, akan jauh berbeda dengan kondisi normal sebelum gempa. Hari ini bahkan nol derajat. Ratusan ribu pengungsi ada dalam kondisi ini. Pastinya mereka tidak biasa hidup di luar rumah dalam jangka waktu yang sudah lebih dari sepekan," kata dia. 

Angka kematian akibat bencana gempa bumi yang melanda wilayah Turki dan Suriah diperkirakan melonjak secara drastis. Selain itu, jumlah warga yang terdampak dan membutuhkan bantuan telah mendekati 870 ribu jiwa.

Gempa Dahsyat Turki-Suriah - (Republika) 

Kepala Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan Martin Griffiths memperkirakan, jumlah korban tewas akibat gempa yang mengguncang Turki dan Suriah dapat berlipat ganda atau menembus 50 ribu jiwa. Sejauh ini, total kematian di kedua negara tercatat telah mencapai 28 ribu orang.

“Saya pikir sulit untuk memperkirakan dengan tepat karena kita masih perlu mencari di bawah reruntuhan. Tapi, saya yakin, jumlahnya akan berlipat ganda atau lebih. Kita belum benar-benar menghitung jumlah korban tewas,” kata Griffiths dalam sebuah wawancara dengan Sky News, Sabtu (11/2).

Griffiths tiba di di Provinsi Kahramanmaras yang menjadi pusat gempa Turki pada Sabtu lalu. Dia memantau kondisi korban dan kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa.

"Segera, pencarian dan penyelamatan orang-orang akan memberi jalan bagi badan-badan kemanusiaan, yang tugasnya menjaga jumlah luar biasa dari mereka yang terkena dampak (gempa) untuk bulan-bulan berikutnya," kata Griffiths dalam sebuah video yang diunggah ke akun Twitter-nya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Perjalanan Dajjal, dari Bermuda ke Pulau tak Berpenghuni

Awalanya ia dilahirkan di keluarga penyembah berhala

SELENGKAPNYA

DK PBB Siapkan Resolusi Hentikan Israel

Indonesia mengecam pengesahan pemukiman ilegal Yahudi.

SELENGKAPNYA

Laut Cina Selatan Memanas Lagi

As dan Filipina akan menggelar latihan militer besar-besaran.

SELENGKAPNYA