Guru-guru dan pelajar Palestina berunjuk rasa mengecam pembakaran Alquran dengan menginjak bendera Swedia di Gaza, Selasa (24/1/2023). | EPA-EFE/MOHAMMED SABER

Kabar Utama

Boikot Produk Swedia-Belanda Diserukan

Kepolisian Swedia disebut membela pembakar Alquran.

KAIRO -– Protes terhadap pembakaran Alquran oleh politikus sayap kanan di Belanda dan Swedia dinilai tak cukup lewat kecaman. Universitas Al-Azhar sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua menyerukan kepada masyarakat Arab dan Islam untuk memboikot semua jenis produk Belanda dan Swedia.

"Al Azhar menekankan perlunya masyarakat Arab dan Islam untuk melakukan boikot ini dan untuk menunjukkan kepada anak-anak mereka, pemuda, dan wanita bahwa setiap keengganan atau kelalaian dalam hal ini merupakan kegagalan eksplisit untuk mendukung agama Allah yang telah diridhai atas mereka," demikian pernyataan Al-Azhar tersebut dilansir Elbalad, Rabu (25/1).

"Dan bahwa orang-orang yang menyimpang ini tidak akan menyadari nilai agama ini, yang tidak mereka ketahui. Mereka memprovokasi umat Islam dengan menghinanya, kecuali jika mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan materialisme, uang dan ekonomi yang mereka tidak mengerti bahasa selain bahasa tersebut," bunyi selanjutnya pernyataan itu.

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai," demikian pernyataan itu yang mengambil dari QS surah ar-Rum ayat 7.

photo
Guru-guru dan pelajar Palestina berunjuk rasa mengecam pembakaran Alquran dengan membawa Alquran di Gaza, Selasa (24/1/2023). - (EPA-EFE/MOHAMMED SABER)

Al-Azhar menimbau dunia Islam diimbau mengambil sikap yang kuat dan bersatu dalam mendukung kitab Allah dan kitab suci umat Islam. Tindakan ini disebut langkah yang tepat sebagai tanggapan terhadap pemerintah di kedua negara yang melakukan pelecehan terhadap satu setengah miliar Muslim.

Kedua negara ini disebut sangat gigih dalam melindungi kejahatan keji dan biadab para pelaku penistaan. Mereka melindungi pelaku dengan alasan tidak manusiawi dan tidak bermoral yang mereka sebut kebebasan berekspresi.

Seruan ini keluar sebagai respons atas penistaan berupa pembakaran dan perusakan Alquran yang terjadi di Swedia dan Belanda baru-baru ini. Pembakaran Alquran dilakukan oleh politikus sayap kanan Rasmus Paludan di depan Kedubes Turki di Stockholm, Swedia, pada Sabtu (21/1).

Sehari kemudian politikus sayap kanan lainnya, Edwin Wagensveld, merobek Alquran di Den Haag, Belanda. Keduanya terkait dengan gerakan anti-Islam dan anti-imigran Pegida yang meruak di Eropa sejak 2014 lalu.

Video pembakaran Alquran yang diunggah Edwin Wagensveld di Belanda pada Ahad (22/1/2023) - (Twitter)  ​

Dilindungi polisi

Sementara, wartawan foto Turki Orhan Karan mengungkap bagaimana Rasmus Paludan yang merupakan pemimpin partai sayap kanan Denmark, Stram Kurs, melakukan pembakaran Alquran di bawah perlindungan polisi Swedia.

Paludan tidak hanya membakar kitab suci Alquran di bawah perlindungan polisi, tetapi juga dilaporkan berhasil memaksa petugas keamanan Swedia melepaskan anggota timnya sebelum memulai tindakan provokatifnya.

Karan menuturkan, seorang pendamping Paludan, yang pernah dia lihat dalam demonstrasi sebelumnya, mendekatinya dengan sikap agresif dan mulai memaki kemudian mengancam akan menyerangnya. Dalam keadaan ini, pelecehan yang dilakukan pendamping Paludan itu berubah menjadi serangan fisik.

"Polisi di tempat kejadian kemudian menahannya karena mereka telah menyaksikan kejadian tersebut. Polisi memberi tahu saya bahwa mereka telah memindahkannya dari daerah tersebut," kata Karan, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (25/1).

photo
Pemimpin partai sayap kanan Stram Kurs, Rasmus Paludan, membakar sebuah Alquran di depan Kedutaan Besar Turki di Ibu Kota Swedia, Stockholm, 21 Januari 2023. - (EPA-EFE/Fredrik Sandberg/TT SWEDEN OUT)

Tidak lama setelah itu, Paludan tiba di tempat kejadian. Namun, dia menolak untuk keluar dari kendaraannya kecuali rekannya dibebaskan oleh polisi. Normalnya, tahanan dibawa ke kendaraan polisi, lalu dilanjutkan dengan interogasi di kantor polisi.

"(Namun), polisi telah tunduk pada permintaan Paludan dan membawa orang itu kembali ke tempat demonstrasi. Artinya, membiarkan seseorang yang terlibat dalam tindak pidana dan tindakan kekerasan," kata Karan, seraya menambahkan bahwa orang yang ditahan itu ditugaskan untuk menyiarkan langsung aksi Paludan.

Karan mengatakan bakal mengajukan tuntutan hukum terhadap petugas yang dituding memungkinkan Paludan melakukan aksi pembakaran Alquran. Polisi telah meminta maaf kepadanya setelah membebaskan tahanan dan mengatakan bahwa Paludan diberi perlindungan hukum untuk demonstrasinya.

Tertegun oleh reaksi polisi, Karan mengatakan, orang lain yang ditahan akan dibawa ke kantor polisi dalam keadaan normal. Insiden tersebut kemudian menimbulkan kegemparan di dunia Muslim. Aksi-aksi unjuk rasa digelar di Turki, Irak, Yordania, Yaman, Pakistan, hingga Jalur Gaza.

photo
Islamofobia di Swedia - (Republika)

Turki telah merespons Swedia yang mengizinkan Paludan untuk membakar Alquran dan menyebut itu sebagai tindakan provokatif dan kejahatan rasial. Sebagai tanggapan terhadap Swedia, Turki membatalkan kunjungan Menteri Pertahanan Swedia Pal Jonson yang akan datang ke Turki.

Sementara, Menteri Luar Negeri Swedia Tobias Billstrom enggan mengomentari aksi pembakaran Alquran. Pertanyaan tentang aksi pembakaran tersebut diajukan pada Billstrom saat dia menghadiri sesi Komite Hubungan Luar Negeri Parlemen Eropa di Brussels untuk berbicara tentang prioritas masa kepresidenan Swedia, Selasa (24/1).

Pertanyaan tentang pembakaran Alquran oleh Rasmus Paludan diajukan Marton Gyongyosi, seorang anggota independen Parlemen Hongaria. Gyongyosi bertanya kepada Billstrom, bagaimana Swedia akan mempercepat proses keanggotaannya untuk Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di tengah protes terbaru di Stockholm yang menargetkan Turki dan presidennya serta adanya aksi pembakaran Alquran yang menyulut gelombang kecaman, termasuk oleh Ankara.

Menurut Gyongyosi, peristiwa-peristiwa itu memiliki dampak negatif pada sikap Turki sebagai salah satu anggota NATO. Padahal jika Swedia ingin menjadi anggota NATO, seluruh anggota dari organisasi pertahanan tersebut mesti memberi persetujuan. Billstrom tak menjawab pertanyaan Gyongyosi tersebut.

photo
Pengunjuk rasa membakar bendera Swedia dalam unjuk rasa mengecam pembakaran Alquran di depan Kedubes Swedia di Amman, Yordania, Senin (23/1/2023). - (AP Photo/Raad Adayleh)

Setelah sesi berakhir, jurnalis kantor berita Turki, Anadolu Agency, kembali mengajukan pertanyaan yang sebelumnya dikemukakan Gyongyosi kepada Billstrom. Namun, Billstrom tetap bungkam. Dia hanya merespons pertanyaan jurnalis-jurnalis Swedia.

Billstrom menyampaikan bahwa negaranya terus melakukan upaya dengan Finlandia untuk lebih memahami keprihatinan Turki. Saat ini Finlandia pun tengah berusaha bergabung dengan NATO. Billstrom menekankan, Swedia akan mematuhi memorandum yang ditandatangani bersama Finlandia dan Turki pada Juni 2022 lalu.

Dalam memorandum itu, Stockholm dan Helsinki berjanji mengambil langkah-langkah untuk melawan teroris guna memperoleh keanggotaan NATO. Kelompok teroris yang dimaksud adalah Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang mengampanyekan negara Kurdi terpisah dari Turki. Kelompok radikal itu sejak lama saling balas melakukan kekerasan dengan militer Turki. PKK saat ini digolongkan kelompok teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Turki.

Pada Senin (23/1/2023), Billstrom sempat menyampaikan bahwa pemerintahan Swedia saat ini tidak mendukung aksi pembakaran kitab suci. Namun, dia menyebut, kebebasan berekspresi “membuatnya legal dari sudut pandang Swedia”. "Tetapi, kami juga telah menjelaskan bahwa kami tidak berpihak pada orang-orang yang telah melakukan ini (pembakaran kitab suci)," kata Billstrom.

Islamofobia di Swedia dan Tur Pembakaran Alquran Paludan

Paludan sebelumnya pernah menggelar sejumlah aksi demonstrasi dengan membakar Alquran.

SELENGKAPNYA

Dikecam Dunia Islam, Siapa Paludan?

Kecaman atas pembakaran Alquran di Swedia terus mengalir.

SELENGKAPNYA

Rasmus Paludan Kembali Bakar Alquran di Swedia

Pemerintah Swedia memberikan ijin aksi ini sebagai kebebasan berekspresi di Swedia.

SELENGKAPNYA