Petugas medis membawa pelaku penembakan Jarid Haddock ke dalam ambulans di Yakima, Washington, AS, Selasa (24/1/2023). | Evan Abell/Yakima Herald-Republic via AP

Internasional

Gelombang Penembakan di AS Berlanjut

Januari jadi bulan penuh penembakan massal di AS.

WASHINGTON -- Januari 2023 tercatat sebagai bulan dengan penembakan massal terbanyak dibandingkan periode yang sama sejak pencatatan yang dimulai pada 2014. Pada Selasa (24/1) waktu setempat, penembakan yang membunuh nyawa lebih dari seorang kembali terjadi di Amerika Serikat. 

Tiga orang meninggal dalam penembakan di sebuah swalayan di Washington pagi hari itu. Tersangka penembakan dilaporkan juga tewas setelah polisi mengejarnya selama berjam-jam. 

Polisi menerima panggilan dari Circle K di Yakima, Washington, sekitar pukul 03.30 dini hari melaporkan dua orang tewas. Kepala polisi Yakima, Matt Murray mengatakan, dua korban yang belum diidentifikasi itu ditembak di dalam toko. Satu korban lainnya ditembak di luar toko. Menurut pihak berwenang, tindakan pelaku acak. 

"Tampaknya ini situasi acak. Tidak ada konflik nyata di antara para pihak," kata Murray. "Laki-laki itu baru saja masuk dan mulai menembak," katanya.

 

Polisi telah mengidentifikasi tersangka adalah Jarid Haddock (21 tahun). Di sebuah toko Target di Yakima, wanita yang namanya tidak disebutkan oleh polisi mengizinkan Haddock menggunakan ponselnya untuk menelepon.

Wanita itu kemudian mendengar Haddock memanggil ibunya dan berkata, "Saya membunuh orang-orang itu," kata Murray dikutip laman the New York Times, Rabu (25/1). 

Setelah melepaskan tembakan di dalam toko, tersangka berlari ke seberang jalan dan menembak ke sebuah kendaraan. Tersangka Haddock kemudian mencuri mobil dan melarikan diri. 

Setelah perburuan selama berjam-jam, kerabat Haddock memanggil pihak berwenang ke lokasi di belakang gudang tempat persembunyian Haddock. Tembakan terdengar saat polisi mendekat. Haddock ditemukan terluka setelah menembak dirinya sendiri lalu tewas. "Tidak ada petugas yang terluka atau menggunakan kekuatan apa pun" kata Murray.

photo
Petugas pemadam kebakaran membersihkan noda bekas penembakan di Yakima, Washington, AS, Selasa (24/1/2023). - (Emree Weaver/Yakima Herald-Republic via AP)

Yakima adalah kota berpenduduk sekitar 97 ribu orang di Lembah Yakima, Washington. Kawasan itu merupakan kawasan pertanian yang terkenal dengan tanaman apel dan kilang anggur. 

Penembakan ini membuat Yakima menjadi wilayah terbaru di AS, yang bergulat dengan kekerasan senjata pada pekan-pekan pertama 2023. Penembakan terjadi hanya beberapa jam setelah seorang pria menembak mati tujuh orang di Half Moon Bay, Kalifornia. 

Pada Sabtu pekan lalu, 11 orang juga meninggal akibat penembakan massal. Saat pencarian pria bersenjata dalam penembakan Yakima berlangsung, Distrik Sekolah East Valley memerintahkan para siswa untuk dikunci di dalam sekolah. Polisi menutup jalan di daerah itu selama beberapa jam. 

Anggota legislatif Dan Newhouse, seorang politikus dari Partai Republik yang distriknya termasuk Yakima, menyebut serangan itu adalah tragedi mengerikan. Ia juga mendesak masyarakat untuk tetap waspada.

Tahun Penuh Penembakan di AS - (Republika)  ​

Ketika ditanya oleh seorang reporter bagaimana pembunuhan acak dapat dicegah, jawabannya blak-blakan, "Saya tidak tahu caranya." 

"Hal ini membuat orang tidak nyaman. Dan saya pikir itu sebabnya Amerika tidak aman saat ini dengan banyak insiden gila yang terjadi," kata dia. 

Bahkan, komunitas kecilnya, menurut dia, tidak luput. "Di sini kita berada di Yakima kecil, tepat di belakang Kalifornia, berurusan dengan hal yang sama. Tapi saya tidak punya jawabannya," ujar dia. 

LSM Gun Violence Archive menghitung, dengan sisa enam hari lagi telah terjadi 39 penembakan massal di Amerika serikat. Jumlah ini merupakan yang terbanyak pada periode yang sama dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. 

Rata-rata terjadi lebih sekali penembakan dengan korban empat orang atau lebih dalam sehari sepanjang Januari ini. Fenomena ini juga menandai terus menanjaknya angka penembakan massal di Amerika Serikat. Sejak 2020 hingga 2022, jumlah penembakan massal dalam setahun selalu melampaui angka 600 kejadian, jauh melewati rekor sebelumnya, yakni 417 penembakan pada 2019.

 Belum genap sebulan tahun ini, sebanyak 73 orang meninggal dan 167 terluka dalam penembakan massal. Angka itu sudah jauh meninggalkan jumlah korban penembakan massal sepanjang Januari 2022, yakni 52 orang meninggal dan 128 terluka. 

Tiga Hari, Dua Penembakan Massal di AS

Penembakan massal terkini merupakan yang ke 39 di AS tahun ini.

SELENGKAPNYA

Daftar Penembakan Massal di AS Kian Panjang

Dalam sebulan pada 2023 ini sudah terjadi 33 penembakan massal di AS.

SELENGKAPNYA