vp,,rm
Hikmah hari ini | Republika

Hikmah

Menjauhi Ghibah dan Naminah

Semoga Allah menjauhkan kita dari dampak buruk ghibah dan namimah.

 

OLEH IMAM NUR SUHARNO

Orang-orang beriman adalah bersaudara, satu dengan yang lainnya bagaikan bangunan yang saling menopang. Sedangkan ghibah dan namimah merupakan dua penyakit yang dapat merusak bangunan ukhuwah (persaudaraan).

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Ia berkata, “Engkau menyebutkan keburukan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan oleh orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan itu sesuai kenyataan?” Jawab Nabi, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR Muslim).

Imam Nawawi menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, tapi tersebar di khalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, tapi yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain.

Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Ghibah bisa melalui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala, dan semisalnya.”

Ghibah termasuk dosa besar. Dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah SWT. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan) karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujurat [49]: 12).

Asy-Syaukani dalam tafsirnya mengatakan, “Allah memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya.” (lihat dalam Fathul Qadir).

Asy-Syaukani kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar setiap Muslim menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan, ghibah adalah perbuatan yang teramat buruk. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.”

Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Tobat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertobat. Imam Nawawi juga menyebutkan, ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan. (lihat Syarh Shahih Muslim).

 
Perbuatan ghibah itu diharamkan. Namun ada ghibah yang dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i.
 
 

Perbuatan ghibah itu diharamkan. Namun ada ghibah yang dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i. Dibolehkan dalam enam keadaan seperti dijelaskan oleh Imam Nawawi. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan aib orang lain.

Yaitu, mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pihak berwenang; meminta tolong agar dihilangkan dari perbuatan mungkar dan membuat orang yang berbuat mungkar kembali pada jalan yang benar; minta fatwa pada seorang mufti; mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu keburukan seperti mengungkapkan buruknya hafalan seorang perawi hadis;

Kemudian, membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya; dan menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah makruf seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang baik, itu lebih baik. (lihat Syarh Shahih Muslim).

Namimah atau mengadu domba satu pihak dengan pihak lainnya sering menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan. Perbuatan ini jika dilakukan terus menerus termasuk dalam dosa besar.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW melewati dua kuburan. Setelah itu beliau berkata, “Sungguh keduanya betul-betul sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab dalam perkara besar. Adapun salah satunya diazab karena tidak menutupi ketika kencing, sedangkan satunya karena dirinya berjalan sambil mengadu domba.” (HR Bukhari dan Muslim).

Beliau juga pernah bersabda, “Kamu akan mendapati seburuk-buruk manusia yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan muka berbeda dan kelompok lain dengan muka yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah tidak ada yang lebih berbahaya daripada berlebihan dalam berbicara. Betapa banyak dosa yang dihasilkan oleh lisan, dan betapa besar hukuman bagi pelakunya.

Berlebihan dalam berbicara seperti ghibah dan namimah, dusta dan bohong, mengejek dan mengolok-olok, semuanya adalah penghancur yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isra’ [17]: 36).

Semoga Allah menjauhkan kita kaum Muslimin dari ghibah dan namimah sehingga terhindar dari dampak buruk yang diakibatkan dari keduanya. Amin.

Fase Awal Dakwah Rasulullah

Muhammad SAW meneriman wahyu yang pertama saat sedang uzlah di Gua Hira pada malam Ramadhan.

SELENGKAPNYA

Biaya Haji Rp 69 Juta, Calhaj: Ya Allah, Tinggi Sekali

Masih ada dana optimalisasi yang bisa digunakan untuk pelaksanaan haji.

SELENGKAPNYA

Pola Distribusi Rezeki

Allah SWT telah telah menerapkan pola distribusi dan pembagian rezeki.

SELENGKAPNYA