IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Selandia Baru, Islam, dan Jacinda Ardern

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Kali ini saya tidak menulis mengenai isu-isu kawasan Timur Tengah. Saya lebih tertarik menulis tentang Jacinda Ardern yang dengan sukarela mengundurkan diri ketika sedang di puncak kekuasaan sebagai PM (perdana menteri) Selandia Baru.

Ia masih sangat sehat. Umurnya baru 42 tahun, usia yang terbilang sangat produktif. Ia mundur juga bukan lantaran terlibat skandal.

Kebetulan, sekian tahun lalu, saya pernah diundang mengunjungi Negara Kiwi ini. Saya pergi dari ujung ke ujung, jalan darat dan udara, dengan pesawat kecil yang hanya ditumpangi empat orang, termasuk pilot dan kopilot.

Selandia Baru atau New Zealand, atau menurut bahasa penduduk asli Maori disebut Aotearoa — tanah berawan putih panjang — adalah negara di ujung bumi. Ia merupakan sebuah negara kepulauan di barat daya Samudra Pasifik, sekira 1.500 kilometer di tenggara Australia, di seberang Laut Tasman.

Ia berada sekitar 1.000 kilometer di selatan negara-negara kepulauan Pasifik, yakni Kaledonia Baru, Fiji, dan Tonga. Negara ini terdiri dari dua pulau utama, yaitu pulau utara dan pulau selatan, serta lebih dari 700 pulau kecil. Karena letaknya yang jauh, Selandia Baru merupakan kepulauan terakhir yang didiami oleh manusia.

Di luar perkotaan, pemandangan Selandia Baru hanyalah hijau dan putih. Hijau padang rumput dan putih jutaan domba dan sapi. Sisanya adalah rumah-rumah para gembala dan keluarganya.

Maklumlah di negara ini jumlah domba lebih banyak dari penduduk. Menurut data tahun 2020, jumlah binatang ternak di Selandia Baru sekitar 37 juta berbanding 5,2 juta penduduknya.

 
Di luar perkotaan, pemandangan Selandia Baru hanyalah hijau dan putih. Hijau padang rumput dan putih jutaan domba dan sapi.
 
 

Laiknya para penggembala, para penduduk Selandia Baru menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang. Bahkan menurut survei, kebanyakan mereka beranjak ke tempat tidur lebih awal. Untuk melestarikan ketenangan kehidupan, mereka lalu memercayakan kepada Jacinda Ardern, perempuan 37 tahun, sebagai perdana menteri. Waktu terpilih pada 2017, ia merupakan pemimpin pemerintahan termuda di dunia.

Pada 15 Maret 2019 di siang bolong, ketenangan penduduk Selandia Baru tiba-tiba terusik, dan perempuan muda itu pun harus menghadapi salah satu cobaan terberat yang pernah dialami negara. Yakni, seorang teroris Australia menyerang dua masjid di Christchurch, kota terbesar kedua di Selandia Baru setelah Auckland. Serangan teroris yang menewaskan 50 jamaah itu bersamaan dengan berlangsungnya shalat Jumat.

Pembantaian berdarah dingin itu telah mengguncang Selandia Baru. Juga dunia. Namun, pemimpin perempuan muda ini tetap tenang dan tegak berdiri. Ia meminta kepada seluruh warga negara teguh satu saf menghadapi terorisme dan melindungi warga Muslim.

Ia pergi ke masjid, mengenakan kerudung, menyaksikan prosesi shalat Jumat di lapangan — termasuk mendengarkan khutbah —, mengunjungi para keluarga korban, memeluk sejumlah ibu-ibu yang kehilangan anggota keluarganya, dan seterusnya.

Sejumlah hal lalu ia lakukan. Antara lain, ia bersumpah tidak akan pernah menyebut nama pria bersenjata yang melakukan serangan mematikan itu.

“Dia mencari banyak hal dari tindakan terornya, termasuk agar menjadi terkenal. Itulah sebabnya kalian tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya,” ujar Ardern dalam pidato yang emosional di gedung parlemen beberapa hari setelah peristiwa. "Saya mohon, ucapkan nama-nama mereka yang meninggal ketimbang nama pelakunya.”

 
Pembantaian berdarah dingin itu telah mengguncang Selandia Baru. Juga dunia. Namun, pemimpin perempuan muda ini tetap tenang dan tegak berdiri.
 
 

Perdana menteri termuda di dunia — waktu itu — tersebut juga menjadi fasih mengucapkan ‘Assalamualaikum…’ dan anggun mengenakan jilbab. Sejak peristiwa berdarah di dua masjid itu, PM Ardern pun sering mengawali pertemuan dengan mengucapkan salam umat Islam itu, termasuk dalam pertemuan khusus dengan para anggota parlemen negaranya.

Untuk menunjukkan simpati kepada umat Islam, ia pun sering mengenakan jilbab. Tindakan ini mungkin sederhana, tapi dampaknya sangat dirasakan oleh warga Selandia Baru, terutama oleh umat Islam.

Sikap Jacinda Ardern itu pun melahirkan decak kagum, mungkin karena dia jujur dan tulus. Bersikap welas asih, kasih-sayang, tetapi tetap tenang. Dia berusaha menempatkan dirinya di sisi para korban dan keluarga mereka.

PM Jacinda Ardern juga meminta agar azan untuk shalat Jumat di Selandia Baru ditayangkan secara nasional di televisi dan radio, dan dua menit hening untuk mengenang korban penembakan di dua masjid. Menurut Ardern, azan yang disiarkan pada pukul 01.30 waktu setempat pada saat itu adalah bentuk solidaritas.

Berikutnya, ada momen tindakan dan pernyataan Ardern yang mengundang pujian ketika menjawab pertanyaan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump. Saat ditanya oleh Trump, bentuk dukungan apa yang bisa diberikan oleh Amerika Serikat, Ardern menjawab tegas, “Simpati dan rasa kasih sayang bagi semua komunitas Muslim.”

 
PM Jacinda Ardern juga meminta agar azan untuk shalat Jumat di Selandia Baru ditayangkan secara nasional di televisi dan radio.
 
 

Beberapa keputusan dan tindakan yang diambil oleh Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, menyusul terjadinya penembakan di dua masjid di Christchurch saat itu, pun mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan — di dalam dan luar negeri. Sebelumnya, banyak kalangan yang meragukan kepemimpinan Ardern, karena perempuan dan usianya yang masih sangat muda.

Di dalam negeri ia dianggap berhasil menumpas tegas teroris dan menggalang persatuan dan kesatuan warga Selandia Baru. Sedang di luar negeri, ia dikenal sebagai pemimpin yang berani.

Sejak saat itu, nama Jacinda Ardern pun masuk dalam sejarah dunia. Ia telah menjadi seorang perempuan muda di antara para pemimpin dunia, yang kebanyakan laki-laki. Ia bukan hanya seorang perempuan yang memimpin negara yang jumlah ternak lebih banyak dari bilangan penduduknya.

Selain menjadi pemimpin pemerintahan, ia juga merupakan seorang perempuan yang luar biasa. Ia tetap menjalankan fungsinya sebagai ibu dan terus bekerja memimpin sebuah negara. Bahkan, ia melahirkan dan merawat anaknya saat sedang menjadi PM.

Dan, pada Kamis (19/1/2023) lalu, Jacinda Ardern mencatat sejarah lagi ketika ia mengumumkan, di tengah kejayaannya, bahwa dia akan melepaskan kekuasaan pada 7 Februari mendatang, setahun sebelum kekuasaannya habis.

Usianya kini 42 tahun, usia di mana politisi lain di banyak negara, yang lebih tua puluhan tahun, masih saling sikut berebut kekuasaan. Namun, PM perempuan muda ini tiba-tiba memberi kejutan indah dan pengakuan yang mulia ketika mengundurkan diri.

 
Selain menjadi pemimpin pemerintahan, ia juga seorang perempuan luar biasa. Ia tetap menjalankan fungsinya sebagai ibu dan terus bekerja memimpin negara.
 
 

“Politikus itu manusia. Kami memberikan semua yang kami bisa, selama kami mampu, dan kemudian inilah saatnya,” kata Ardern, suaranya goyah. “Dan bagi saya, sudah waktunya... Saya tahu apa yang dibutuhkan pekerjaan ini, dan saya tahu bahwa saya tidak lagi memiliki cukup energi di dalam tangki untuk melakukannya dengan baik.”

Sangat jarang politisi yang punya sikap dan jiwa seperti Jacinda Ardern. Yang banyak justru orang ingin berkuasa dan terus rakus berkuasa, tidak peduli kemampuannya. Tidak peduli rakyat menderita, tidak peduli jumlah kemiskinan terus meningkat dan rakyat makin sengsara.

Jacinda Ardern adalah contoh pemimpin yang menganggap jabatan publik adalah amanah. Ia menyerahkan kembali amanah itu bila menganggap dirinya tidak lagi mampu menjalankannya. Tidak seperti beberapa pemimpin yang mengerahkan segala kekuatan untuk tetap mempertahankan kekuasaannya, tanpa peduli bagaimana nasib rakyat yang dipimpin.

Pelecehan Alquran di Swedia terus Terulang

Insiden Islamofobik terus terjadi di Swedia.

SELENGKAPNYA

Fase Awal Dakwah Rasulullah

Muhammad SAW meneriman wahyu yang pertama saat sedang uzlah di Gua Hira pada malam Ramadhan.

SELENGKAPNYA

Empati Jacinda Selepas Christchurch

Cara Jacinda Ardern menangani tragedi Christchuch jadi legasi kepemimpinannya.

SELENGKAPNYA