Kuntowijoyo | Daan Yahya/Republika

Refleksi

Agama dan Kebudayaan

Saat ini manusia justru sangat memerlukan agama dan kebudayaan supaya tetap lestari.

Oleh KUNTOWIJOYO

OLEH KUNTOWIJOYO

Agama dan kebudayaan punya dua persamaan: 1) keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol; 2) keduanya mudah merasa terancam setiap kali ada perubahan.

Demikianlah memasuki abad XXI, orang mengira ada semacam krisis serius yang mengancam eksistensi agama dan kebudayaan. Dalam skala global, ada sedikitnya empat persoalan yang dihadapi agama dan kebudayaan, sendiri-sendiri atau bersama-sama.

1) Agama menghadapi sekularisasi. Sekularisasi objektif berupa dipisahkannya agama dari lembaga lain, sementara sekularisasi subjektif terjadi ketika orang merasa tak ada hubungan antara pengalaman keagamaan dengan pengalaman sehari-hari.

2) Kebudayaan menghadapi uniformasi, yaitu proses digantikannya diversifikasi kebudayaan, yang awalnya berupa pilihan budaya individual, oleh uniformasi kebudayaan.

3) Agama dan kebudayaan bersama-sama menghadapi persoalan alienasi metafisik, yaitu perasaan tak berdaya manusia menghadapi realitas.

4) Pemecahan dari poin 1) 2), dan 3) dalam bentuk spiritualisme pascamodern yang nonrasional, yang merupakan gejala antiagama dan kontradiksi budaya, justru menimbulkan persoalan baru ketimbang memecahkan.

Kekhawatiran itu mungkin terlalu berlebihan. Saat ini manusia justru sangat memerlukan agama dan kebudayaan supaya tetap lestari.

Agama dan kebudayaan diperlukan? Yang sudah terjadi berlaku atas spiritualisme. Manusia yang tidak tahan sepanjang hidup hanya bergaul dengan mesin memerlukan spiritualisme. Demikian juga spiritualisme merupakan panasea bagi alienasi metafisik.

Sementara itu, banyaknya waktu luang -- karena beban kerja telah digantikan oleh mesin, dari enam hari jadi lima dan sedang diusahakan jadi empat -- industri kebudayaan dengan sendirinya semakin subur. Industri budaya -- dalam fashion, culinary culture, tourism, film, dan rekaman (musik) mengakibatkan uniformitas.

 
Kekhawatiran itu mungkin terlalu berlebihan. Saat ini manusia justru sangat memerlukan agama dan kebudayaan supaya tetap lestari.
 
 

Spiritualisme juga memberikan kemungkinan ke arah privatisasi, karena spiritualisme menawarkan kesadaran individual. Maka, persoalan agama dan kebudayaan ialah spiritualisme yang tidak malah menuju pada uniformitas dan mengasingkan manusia, tidak antiagama, dan tidak merupakan kontradiksi budaya

Apakah spiritualisme yang berdasar agama dan apakah kebudayaan yang tidak kontradiktori itu?

Tentu saja masalah spiritualisme menyangkut keyakinan tentang manusia dan masa depannya. Kalau kita mengikuti cara berpikir James L Peacock dan A Thomas Kirsch, penulis The Human Direction, yang berpendapat bahwa masa depan manusia adalah sekuler dan transendentalisasi --proses di mana Tuhan menjadi impersonal-- tak terelakkan, maka spiritualisme justru sesuai dengan masa depan.

Namun, "ramalan" berdasar teori evolusi itu punya dua kelemahan dasar. Pertama, terjadi pengandaian seolah-olah sejarah itu tertutup, sehingga sejarah kemanusiaan hanya mengikuti satu model, yaitu model Amerika.

Kedua, menganggap bahwa manusia adalah makhluk satu dimensi, yaitu makhluk yang rasional.

Teilhard de Chardin, filsuf Katolik dari Prancis, mengatakan bahwa manusia adalah sebuah misteri. Kenyataan bahwa spiritualisme juga menjadi bagian dari sejarah modern menunjukkan bahwa manusia itu bukan makhluk satu dimensi. Meskipun spiritualisme tidak mesti berarti agama yang melembaga, tapi setidaknya itu memberi indikasi bahwa masih ada peluang untuk agama.

Karena itu, tugas bersama agama adalah meyakinkan manusia bahwa spiritualisme modern berarti pencarian kembali nilai-nilai agama.

Spiritualisme tanpa agama itu bukan makanan sehari-hari manusia; memang bergizi, tapi itu pil, bukan makanan. Spiritualisme ada dalam semua agama, tapi agama jauh lebih kaya ketimbang sekadar spiritualisme.

Agama mulanya membuat manusia terasing, karena agama menarik manusia ke "atas". Tapi agama juga punya kemampuan untuk membawa kembali manusia ke "bawah", karena agama berdimensi sosial-ekonomi.

Sementara itu, spiritualisme membawa manusia ke "atas" tanpa membawanya kembali ke "bawah". Spiritualisme agama juga mencegah kontradiksi budaya karena spiritualisme akan tetap terkontrol (dalam Islam sufisme dikontrol oleh syariah).

 
Spiritualisme juga memberikan kemungkinan ke arah privatisasi karena spiritualisme menawarkan kesadaran individual.
 
 

Dalam sejarah, agama berinteraksi dua arah dengan kebudayaan, dan saling mempengaruhi; sedangkan spiritualisme selalu hanya jadi bagian dari kebudayaan. Di Indonesia, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan dikenal sebagai "budaya spiritual".

Memang, ada bedanya antara Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan spiritualisme. Kadang-kadang spiritualisme hanyalah sebuah cosmic consciousness, dan bukan sebuah kepercayaan kepada Tuhan.

Dengan kepercayaan kepada Tuhan seseorang selalu menganggap Tuhan itu personal, sedangkan dengan spiritualisme Tuhan dapat dianggap impersonal. Agama dan kebudayaan tidak seharusnya mencurigai setiap perubahan.

Siapa tahu, seperti di masa lalu, perubahan itu bisa berarti kesuburan dan bukan kematian. Perubahan sudah terjadi di masa lalu, sedang terjadi sekarang, dan akan terjadi di masa depan.

Agama semakin diperlukan dalam dunia modern karena agama memberi makna yang lebih besar (Tuhan itu Maha Besar), selain itu juga mempunyai fungsi terapitik (Tuhan itu Maha Penyembuh).

Spiritualisme, baik yang teistik maupun yang kosmik, tidak punya kekuatan seperti agama. Bagi spiritualisme, otoritas masih terletak dalam diri manusia, jadi manusia akan kehilangan sesuatu, yaitu the will to believe.

Tanpa agama, planet bumi hanya patut dihuni robot-robot yang tak berjiwa. Kemanusiaan tanpa agama ialah kemanusiaan tanpa masa depan.

Selanjutnya, dengan uniformasi kebudayaan, suatu bangsa akan kehilangan raison d'etre. Uniformitas hanya baik untuk pabrik, sarana transportasi, sarana komunikasi, mesin, dan toserba yang perlu efisiensi. Tapi itu membosankan untuk sistem simbol.

Mari kita lihat apakah dalam skala nasional beberapa masalah yang dihadapi agama dan kebudayaan secara global juga ada. Sekularisasi objektif sebagian sudah menjadi kenyataan --misalnya dipisahkannya agama dari kepartaian. Meskipun, tidak seluruh sistem politik jadi sekuler.

Yang masih jadi pertanyaan, misalnya dalam ekonomi, apakah "Etika Protestan" yang menurut Geertz dimiliki kaum santri reformer juga akan mengalami sekularisasi, seperti nasib sejenisnya di Amerika?

Pertanyaan apakah sekularisasi subjektif sudah terjadi? Tampaknya ungkapan semacam "Tuhan tidak tidur" masih menunjukkan bahwa pengalaman manusia sehari-hari masih berhubungan dengan pengalaman keagamaan.

 
Uniformasi kebudayaan sudah mulai menggelisahkan banyak pihak.
 
 

Uniformasi kebudayaan sudah mulai menggelisahkan banyak pihak. Pabrik, transportasi, komunikasi, busana, dan bujana mulai mengalami internasionalisasi, beralasan atau tidak. Orang kota yang sehari-hari mengalami "kebesaran" manusia dan sistem yang semakin abstrak (bagaimana tidak abstrak, kalau orang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pasar modal?), banyak yang merasa asing dengan lingkungan kerja.

Uniformasi dan alienasi mulai dirasakan penduduk kota, terutama kelas menengah dan kelas atas. Merekalah yang mendukung kebudayaan psikedelik dan spiritualisme.

Tarekat juga subur di kota, untuk menghalau uniformasi dan alienasi. Rupanya, lebih dari tempat lain, Indonesia sangat subur bagi tumbuhnya kebudayaan agama, kebudayaan yang sistem nilainya berdasar agama, tapi sistem simbolnya berakar pada kebudayaan.

Untuk itu kita memerlukan sebuah tema umum dari agama. Tema umum itu adalah the informing spirit --menurut Jacob Burkhardt-- atau general theme --istilah Johan Huizinga.

Nilai pokok dari agama itu ialah, misalnya pengabdian yang mutlak pada Tuhan dalam Islam (saya tidak punya wewenang untuk menyatakan apakah "penyelamatan" dalam Katolik, "manusia terpilih" dalam Protestan, "satunya ciptaan" dalam Hindu, dan "derita dan pelepasan" dalam agama Buddha menjadi obsesi agama-agama dan kebudayaannya).

Dalam hal ini Pancasila dapat menjadi tema umum secara nasional kebudayaan agama-agama. Nilai dan simbol itu adalah perwujudan dari tema umum, atau sebaliknya, yang jika dijumlahkan harus mendukung tema umum itu.

Kebudayaan agama itu dipengaruhi oleh kebudayaan lokal, nasional, dan regional. Muatan lokal itu tergantung dari seberapa jauh suatu agama menoleransi perbedaan kebudayaan; makin toleran, makin banyak variasinya.

Dalam Islam, kita kenal zona-zona kebudayaan: Afrika Utara, Afrika Tengah, Timur Tengah, Turki, Iran, India, Timur Jauh, dan Asia Tenggara. Bukan tidak mungkin akan lahir varian kebudayaan Islam Barat.

 
Kebudayaan agama itu dipengaruhi oleh kebudayaan lokal, nasional, dan regional.
 
 

Zona-zona kebudayaan itu punya ciri sendiri-sendiri. Kita tidak bisa membayangkan ada satu saja arsitektur untuk Afrika Tengah dan Timur Jauh. Setiap zona masih dirinci dalam kebudayaan agama lokal. Dalam zona Asia Tenggara, kita punya kebudayaan Islam Aceh, Jawa, Malaysia, Filipina, dan sebagainya.

Kebudayaan agamalah yang dapat menyelamatkan bangsa manusia dari kerusakan. Yaitu kebudayaan yang sistem nilainya berasal dari agama, tapi sistem simbolnya berakar dalam kebudayaan. Masalah modern, seperti sekularisasi, uniformasi, alienasi, dan spiritualisme akan terpecahkan.

Disadur dari Harian Republika edisi 17 November 1995. Kuntowijoyo (1943-2005) adalah guru besar UGM Yogyakarta. Ia salah satu cendekiawan Muslim paling berpengaruh di Indonesia.

Budaya Utama Pondok Pesantren

Ada beberapa budaya pokok pondok pesantren yang harus tetap dipertahankan.

SELENGKAPNYA

Pola Distribusi Rezeki

Allah SWT telah telah menerapkan pola distribusi dan pembagian rezeki.

SELENGKAPNYA

Kue Keranjang, Si Manis yang Legendaris

Suguhan kue keranjang saat Imlek memiliki makna kesatuan keluarga dan peningkatan rezeki.

SELENGKAPNYA