Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Motivasi Alquran

Memaknai Hijrah

Agar hijrah dilakukan dengan baik, tidak menimbulkan permusuhan dan kebencian.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Sebuah ayat dalam surah al-Muzzammil menyebutkan tentang perintah berhijrah, "Washbir ‘alaa maa yaquuluuna wahjurhum hajran jamiilaa" (Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan berhijrahlah dari mereka dengan baik) (QS al-Muzzammil [73]: 10).

Ayat ini sejatinya adalah pesan untuk Nabi SAW setelah mendapatkan cercaan dan ancaman dari orang-orang kafir Makkah karena dakwahnya mengajak kepada tauhid. Yaitu agar Nabi SAW tetap bersabar dan melakukan hijrah.

Kata "Uhjurhum" maknanya perintah untuk meninggalkan sesuatu ke sesuatu yang lain. Maksudnya adalah agar Nabi SAW meninggalkan kaumnya yang telah menyakitinya. Tentu ini tindakan yang sangat berat karena harus memutuskan tali kekerabatan dan silaturahim antara Nabi SAW dengan mereka.

Karena itu, Allah SWT memberikan catatan agar hijrah tersebut dilakukan dengan baik, "Hajran jamiilaa". Kata "jamiilaa" memberikan kesan agar hijrah tersebut tidak menimbulkan permusuhan dan kebencian.

Padahal, orang-orang kafir itu telah menyakiti Nabi SAW dan sejumlah orang-orang beriman di Kota Makkah. Tidak sedikit yang disiksa sampai mati.

 
Tidak ada sedikit pun dalam Alquran yang mengajarkan kebencian dan balas dendam kepada orang lain yang telah menzaliminya.
 
 

Di sini tampak betapa indahnya peradaban Islam. Tentu salah paham jika ada tuduhan bahwa Islam agama teror. Karena tidak ada sedikit pun dalam Alquran yang mengajarkan kebencian dan balas dendam kepada orang lain yang telah menzaliminya.

Pada ayat di atas ada perintah “washbir” (bersabarlah), maksudnya agar Nabi SAW bersabar atas perundungan dan hinaan yang orang-orang kafir gencarkan dengan kata-kata kasar. Di antara ujaran kebencian yang mereka lemparkan adalah tuduhan bahwa Nabi SAW gila (majnun), tukang sihir (saahir), dan dukun (kaahin).

Dalam ayat lain, digambarkan bahwa Allah SWT menghibur Nabi SAW dengan mengatakan bahwa nabi-nabi terdahulu juga mengalami cercaan dan ejekan yang sama, tetapi mereka bersabar hingga datang pertolongan-Nya. “Wa laqad kudzdzibat rusulun min qablika fashabaruu ‘alaa maa kudzdzibuu wa uudzuu hattaa ataahum nashrunaa” (QS al-An'am [6]: 34).

Dari sini kita mengerti mengapa surah al-Muzzammil ini dibuka dengan perintah tegakkan shalat malam, perbanyak ibadah dan zikir, ternyata itu sebagai pembekalan iman agar Nabi SAW benar-benar kuat hubungannya dengan Allah SWT. Karenanya, pada saat menghadapi cobaan seberat apa pun, tidak ada kekhawatiran sedikit pun, karena sudah bertawakal kepada-Nya.

Dari sikap tawakal tersebut datanglah jaminan perlindungan Allah SWT seperti yang digambarkan pada ayat berikutnya. Bahwa Allah SWT langsung yang akan turun tangan untuk menghadapi orang-orang yang sombong itu. “Wa dzarnii wal mukadzdzibiin” (QS al-Muzzammil [73]: 11).

Ayat ini seakan mengatakan, "Wahai Muhammad, tetaplah kamu fokus dakwahmu kepada tauhid, biarkan Aku sendiri yang akan menghadapi mereka yang durhaka itu." Ternyata mereka durhaka karena sombong dengan kekayaan harta yang berlimpah.

 
Kesenangan dunia sebanyak apa pun sebenarnya sangat singkat dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
 
 

Allah SWT menyingkap hal ini dengan firman-Nya, “Ulin na’mati”. Dan memang sengaja oleh Allah SWT menangguhkan mereka dalam kenikmatan supaya mereka terus berbuat dosa. Hal ini karena pada saat yang sama Allah SWT telah menyiapkan bagi mereka azab yang setimpal, “Wamahhilhum qaliilaa”.

Kata “qaliilaa” (sedikit) maksudnya bahwa kesenangan dunia sebanyak apa pun sebenarnya sangat singkat dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.

Para ulama sering menyebutkan riwayat dalam hal ini yang menujukkan bahwa semua kesenangan dunia sebesar apa pun hanyalah satu sayap nyamuk bahkan lebih kecil lagi “Laa tusaawii janaaha ba’uudha” dibandng dengan kesenangan akhirat (HR Ahmad).

Apakah Kaki Muslimah Aurat?

Aurat atau tidakkah kaki bagian bawah merupakan objek perbedaan di kalangan ulama.

SELENGKAPNYA

Kehidupan Surgawi

Setiap manusia mendambakan kehidupan surgawi.

SELENGKAPNYA

Waktu Terbaik untuk Ibadah

Waktu malam adalah saat yang paling pas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

SELENGKAPNYA