vp,,rm
Hikmah hari ini | Republika

Hikmah

Semua Ada Hikmahnya

Hikmah bagaikan mutiara yang bisa berada di tangan siapa dan di mana saja.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Sejatinya, tidak ada suatu kejadian pun yang menimpa manusia selain mengandung nilai-nilai kebaikan. Sebab, Allah SWT Mahabaik dan hanya memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Allah SWT tidak pernah zalim kepada hamba-Nya, akan tetapi manusialah yang zalim terhadap dirinya sendiri (QS Yunus [10]: 44). 

Ada dua perangkat yang Allah SWT karuniakan bagi manusia untuk memahami setiap peristiwa, yakni ilmu dan hikmah. Jika ilmu itu dicari dengan belajar dan meneliti, maka hikmah dianugerahkan kepada seorang yang pantas menerimanya, baik karena kesungguhan belajar maupun kedekatannya kepada Allah SWT.

Tidak setiap orang berilmu akan meraih hikmah, tapi yang dianugerahi hikmah tentulah orang berilmu yang beradab. “Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak….” (QS al-Baqarah [2]: 269).

 
Tidak setiap orang berilmu akan meraih hikmah, tapi yang dianugerahi hikmah tentulah orang berilmu yang beradab.
 
 

Dalam Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, hikmah diartikan sebagai sunnah, pemahaman yang mendalam atas ajaran agama, kebenaran, pembicaraan yang akurat, rasa takut kepada Allah SWT, kenabian, risalah, akal, dan keserasian antara pengetahuan dan pengamalan. Juga, mengetahui rahasia-rahasia, faedah, hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul, yaitu agar menjadi contoh yang baik bagi mereka, sehingga dapat menempuh jalan yang lurus.

Hikmah bagaikan mutiara yang bisa berada di tangan siapa dan di mana saja. Nabi SAW pernah bersabda, “Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka di mana saja menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya (HR at-Tirmudzi).

Ketika seorang telah dianugerahi hikmah, maka ia akan bijaksana (arif) dalam menyikapi segala persoalan. Sebab, ia mampu melihat dengan mata batin akan hakikat suatu kejadian (bashirah).

Jika ilmu ada pada akal pikiran, maka hikmah bersemayam di lubuk hati yang tercerahkan. Hal ini sejalan dengan petuah Nabi SAW bahwa hikmah itu menempati hati yang lembut dan tenang (HR Darimi). 

Pada masa Nabi SAW, perintah yang paling berat dan tidak disukai adalah perang. Tapi, justru itu pula yang diperintahkan untuk membela diri dan agama. “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS al-Baqarah [2]: 216).

 
Ketika seorang telah dianugerahi hikmah, maka ia akan bijaksana (arif) dalam menyikapi segala persoalan.
 
 

Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa pada pokoknya berperang itu tidaklah disukai. Memang, pada umumnya apabila mempersoalkan perang, orang tidak suka. Berperang adalah mengubah kebiasaan hidup yang tenteram dihadapkan pada membunuh atau dibunuh. Sedangkan orang ingin kalau dapat biarlah mati secara wajar saja.

Berperang meminta perbelanjaan besar, sedangkan nafsu manusia ialah bakhil. Sebab itu, kalau boleh biarlah tidak ada perang. Akan tetapi, boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai, padahal dia membawa kebaikan kepada kamu. Dalam hal ini, bukan berperang saja, banyak hal yaag kita tidak menyukainya tetapi baik buat kita. 

Kisah seorang anak yatim yang miskin di pelosok Sumatra Utara kisaran tahun 1990 patut direnungkan. Selepas Madrasah Aliyah Negeri, ia berangkat ke Jakarta bersama kerabatnya. Berbekal uang seadanya dari hasil penjualan kebun karet warisan, ia tinggalkan ibunya yang renta dan sakit-sakitan. Walau kondisi lemah, ibunya tetap menyemangati dan ikhlas melepas anak bungsu kesayangannya. 

Ternyata, kampus yang dituju tidak sesuai harapan untuk mewujudkan impian menjadi ustaz. Meski demikian, ia tetap semangat belajar sambil bekerja sebagai cleaning service dan tukang parkir.

Belum sampai setahun, ia dikeluarkan atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Tentu, ia sangat sedih dan sakit hati atas kezaliman yang menimpanya. Ia mengadu kepada Allah SWT agar membalas perlakuan buruk tersebut. 

Meski begitu, ia mencari jalan untuk kuliah di IAIN Jakarta yang diidamkan sejak dulu.  Atas pertolongan Allah SWT, ia diterima di Fakultas Dakwah. Walau kesulitan hidup sedemikian berat, ia tetap tegar. Sekali layar terkembang, pantang kapal kembali ke tepian. Itulah petuah yang selalu menggelora di hatinya.

Selama kuliah, ia menjadi marbot masjid dan guru privat Alquran. Sesekali tulisannya dimuat di koran Ibu Kota dan honornya bisa menutupi sebagian biaya kuliah sampai lulus sarjana. Selepas wisuda, ia diterima sebagai dosen di sebuah kampus swasta di Bogor.

Namun, perlakukan zalim dialaminya dulu tidak pernah hilang dari ingatan. Hingga suatu hari ia dapat kabar bahwa yang bersangkutan telah wafat. Sejenak, ia merenung dan bertanya dalam hati, “Untuk apa menyimpan dendam, bukankah setiap kejadian ada hikmahnya?"

 
Walhasil, tidak ada satu kejadian pahit pun yang mendera selain terselip kebaikan di dalamnya.
 
 

Akhirnya, sampailah pada satu jawaban, justru karena diusir itulah kemudian ia diterima di kampus yang didambakannya dan kelak bisa menjadi ustaz sesuai harapan ibunya.

Lebih dari itu, ia juga menemukan pendamping hidup yang telah melahirkan dua belaian hatinya. Beberapa tahun kemudian, bersama istrinya mendirikan sekolah Islam terpadu yang dikenal luas ke penjuru negeri.

Kini, selain menjadi dosen di Universitas Ibn Khladun Bogor, ia juga aktif ceramah atau khutbah, menulis buku dan menjadi penulis tetap “Hikmah Republika” ini. 

Walhasil, tidak ada satu kejadian pahit pun yang mendera selain terselip kebaikan di dalamnya. Bukankah pisau yang tajam mesti dibakar di atas bara api, dihantam pukulan keras bertubi-tubi, lalu disepuh dalam air? Semua ada hikmahnya.

Mungkin, kita tidak paham hari ini, tapi suatu hari akan mengerti. Jangan sekali-kali buruk sangka kepada Allah, sebab tidak ada yang buruk dari-Nya. Tapi, keburukan terjadi akibat kesalahan kita memaknai kehidupan (QS an-Nisa' [4]: 79).

Allahu A’lam bish-shawab. 

Bangsa yang Membutuhkan Kumandang Doa

Dihalangi berdoa lebih menyedihkan hati daripada tak terkabulnya sebuah doa.

SELENGKAPNYA

Apakah Kaki Muslimah Aurat?

Aurat atau tidakkah kaki bagian bawah merupakan objek perbedaan di kalangan ulama.

SELENGKAPNYA

Kehidupan Surgawi

Setiap manusia mendambakan kehidupan surgawi.

SELENGKAPNYA