Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Menjemput Sedekah

Bersegeralah dengan sedekah karena musibah tidak dapat melangkahi sedekah

OLEH ASMA NADIA

Hal-hal apa yang menimbulkan kebahagiaan? Bertemu keluarga, kerabat dan sahabat. Menyenangkan orang tua. Reuni sekolah. Belanja, bahkan meski hanya melihat-lihat, bagi sebagian kita terasa cukup menyegarkan melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas harian.

Beberapa hari ini, saya dikepung banyak informasi kebahagiaan. Agak berbeda dari hal-hal di atas, lebih terasa dari sekadar melihat atau bisa membeli outfit, make up, dan skin care terkenal atau mendapatkan tas dan sepatu branded.

Ternyata, memilih apa yang bisa kita sedekahkan saat sebuah undangan kebaikan terbuka, juga luar biasa membahagiakan. Termasuk bagi sepasang suami istri, sahabat kami di Paris yang rajin meluangkan waktu tak hanya bersedekah tetapi aktif menjadi penjemput sedekah.

Baru-baru ini, keduanya diundang LSM  Palestina untuk mengunjungi  pengungsi  Palestina di  Lebanon. Semangat mereka menyala-nyala, untuk mengajak teman dan kelompok pengajian yang  mungkin ingin berdonasi.

 
Ternyata, memilih apa yang bisa kita sedekahkan saat sebuah undangan kebaikan terbuka, juga luar biasa membahagiakan.
 
 

Suami istri itu pun berbagi tugas, bahkan melibatkan putra mereka yang baru berusia 17 tahun. Mereka paham, teman teman di Paris lebih suka memberikan donasi berupa uang tunai daripada transfer, karena menurut mereka lebih afdol. 

Saya tersenyum haru membaca cerita mereka melalui group whats app, bagaimana keluarga sahabat saya itu membagi tugas. Mulai menyebarkan info melalui whatsapp, menghubungi satu per satu teman dalam daftar kontak, lanjut mengecek notifikasi pesan dari mereka yang siap bersedekah.

Koordinator ada di tangan sang istri yang memberikan aba-aba, informasi pada suami, dan anak mereka yang lebih sering beraktivitas di luar. Menentukan kapan dan di mana sedekah harus dijemput menjadi tantangan sendiri, mengingat banyak ibu yang bekerja di sana.

Jadi, yang menentukan tempat dan waktu adalah pihak yang berdonasi. Pernah, sedekah diberikan seorang ibu di sebuah kafe. Seperti penyumbang lain yang memahami kekuatan sedekah, sang ibu melalui sedekahnya, berharap anak-anaknya saleh.

 
Koordinator ada di tangan sang istri yang memberikan aba-aba, informasi pada suami, dan anak mereka yang lebih sering beraktivitas di luar.
 
 

Lain waktu janjian penyerahan donasi bertempat di luar apartemen di pinggir jalan.

Seorang ibu lainnya, memberikan sebuah amplop, tertera nama dan kepada siapa saja sedekah ini dia dedikasikan, mulai dari almarhum orang tua, almarhum adik, hingga kedua anaknya. Lengkap dengan perincian jumlah masing-masing sedekah. 

Selang satu hari, ibu ini menghubungi lagi karena ingin menambahkan jumlah donasi. Janji temu dibuat lagi. Ketika ayah dan ibu tak bisa mengambil, amanah menjemput sedekah diserahkan pada putra mereka yang bergerak dengan kendaraan satu rodanya.

Padahal bagi remaja berusia 17 tahun, waktu-waktu menjemput sedekah ini pasti mengurangi kesempatan bermain gim atau istirahat santai apalagi sekolah sedang libur musim dingin. Terlebih kadang dia harus melakukan berkali-kali.

 
Berkah rasanya membayangkan kegandrungan mereka memudahkan orang lain berbuat baik.
 
 

Baru saja kembali ke rumah tiba-tiba notifikasi ponsel si bunda berbunyi, hingga kembali ke jalan. Atau saat sang suami memarkir kendaraan di garasi apartemen, ternyata mendapat telepon untuk menjemput sedekah.

Berkah rasanya membayangkan kegandrungan mereka memudahkan orang lain berbuat baik. “Ikut terharu dan akhirnya mendoakan mereka yang bersedekah, Mbak,” Paparnya saat menceritakan donasi yang diterima dari seorang teman yang baru saja melakukan operasi tumor otak dan memohonkan doa untuk kesembuhannya.

Memilih apa saja yang bisa didonasikan juga menjadi aktivitas menarik bagi keluarga ini yang memiliki gudang sedekah. Baju-baju dingin anak yang telah kekecilan tetapi masih sangat layak pakai dan berbagai barang lain.

Mereka juga menyiapkan cemilan, aneka permen, dan cokelat sengaja dipilih yang berbentuk uang euro agar menjadi media edukasi juga bagi anak-anak pengungsi yang menerima. Geliat sedekah di Tanah Air juga terlihat.

 
Memilih apa saja yang bisa didonasikan juga menjadi aktivitas menarik bagi keluarga ini yang memiliki gudang sedekah.
 
 

Tidak mau kalah turut menjemput peluang sedekah yang disosialisasikan. “Bawa jilbab yang banyak bagi para pengungsi perempuan.”

Mendengarnya saya mau tidak mau berpikir. Apakah mereka mengenakan jilbab berwarna seperti kami di Tanah Air. Namun, seorang ustaz dari Palestina menjawab kekhawatiran tersebut. Menurutnya insya Allah semua akan manfaat.

Seorang ayah yang menyiapkan keberangkatan istrinya memberi pesan sedekah yang lain. “Bawa sajadah lipat yang ringan untuk dibagikan.”

“Belikan mainan edukatif atau sesuatu yang akan menghibur anak-anak di sana untuk melupakan kehidupan sulit di pengungsian,” saran sahabat yang lain.

 
Bersegeralah dengan sedekah, karena musibah tidak dapat melangkahi sedekah.
 
 

Sementara sutradara muda yang mengikuti perjalanan kami memenuhi kopernya dengan berbagai snack untuk anak-anak dan hanya membawa sesedikit baju agar isi koper membawa manfaat lebih bagi yang didatangi. Masya allah.

Berkah mereka yang berbagi. Berkah yang menjemput sedekah. Makbul harapan dan doa-doa yang disisipkan lewat sedekah mereka.  Semoga kita beroleh kebaikan dan dihindarian dari keburukan sebab sedekah. Sebagaimana tercatat di hadis-hadis berikut ini.

"Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah."

"Bersegeralah dengan sedekah, karena musibah tidak dapat melangkahi sedekah." "Sedekah dapat mencegah 70 macam musibah, paling ringan adalah penyakit kulit lepra".

Aamiin ya RAbbana.

Operasi Pasar Beras Bulog Tembus 1,2 Juta Ton

Program operasi pasar harus berjalan lancar sepanjang tahun.

SELENGKAPNYA

Demokrat dan PKS Ingatkan Jokowi tak Perlu Takut

Jokowi dan Istana tak perlu takut disalahkan ihwal keputusan koalisi partai politik.

SELENGKAPNYA