vp,,rm
Pemain Balanda Denzel Dumfries merayakan gol kemenangan dalam pertandingan melawan Amerika Serikat di babak 16 besar Piala Dunia 2022 di Stadion Internasional Khalifa di Doha, Qatar, Sabtu (3/12/2022). | AP/Ashley Landis | AP/Ashley Landis

Kabar Utama

Tak Sekadar Ajang Pembalasan Dendam

Aroma balas dendam sudah terasa saat Belanda dipastikan bakal menghadapi Argentina.

OLEH REJA IRFA WIDODO

Aroma balas dendam sudah terasa saat Belanda dipastikan bakal menghadapi Argentina di babak perempat final Piala Dunia 2022. Di Stadion Lusail Iconik, Lusail, Sabtu (10/12) dini hari WIB, dua seteru bebuyutan di pentas Piala Dunia itu akan saling menjatuhkan.

Ini menjadi pertemuan keenam antara wakil Eropa dan wakil Amerika Selatan itu di sepanjang sejarah turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut. Duel De Oranje kontra Albiceleste menempati peringkat kedua dalam duel yang paling sering tersaji di pentas Piala Dunia setelah Brasil kontra Swedia dan Argentina menghadapi Jerman.

Sejarah panjang memang mewarnai duel ini. Pada putaran kedua Piala Dunia 1974, Belanda dengan mudah menyingkirkan Argentina, 4-0. Namun, Tim Tango membalas kekalahan itu dengan manis saat membuyarkan mimpi Belanda mengangkat trofi Piala Dunia 1978 dengan kemenangan 3-1 di partai puncak.

Di babak perempat final Piala Dunia 1998, Belanda menyingkirkan Argentina, 2-1, via gol kemenangan Dennis Bergkamp. Kendati begitu, duel terakhir Belanda kontra Argentina di Piala Dunia, tepatnya di babak semifinal Piala Dunia 2014, menjadi milik Tim Tango.

photo
Pemain Argentina Lionel Messi merayakan kemenangan Argenina atas Australia dalam pertandingan babak 16 besar di Stadion Ahmad bin Ali di Al-Rayyan, Sabtu (3/12/2022). - ( EPA-EFE/JOSE SENA GOULAO)

Pelatih tim nasional Belanda Louis van Gaal sepertinya masih mengingat kegetiran dari kekalahan tersebut. Sebagai pelatih kepala timnas Belanda, Van Gaal berada di pinggir lapangan dalam laga di Stadion Arena Corinthians, Brasil, tersebut. Tiga kali runner-up Piala Dunia itu akhirnya harus mengubur mimpi melaju ke partai final usai kalah adu penalti, 2-4, dari Argentina.

“Kami memiliki sesuatu yang harus diselesaikan dengan mereka. Namun, lebih dari itu, saya telah berulang kali menegaskan, tim ini bisa menjadi juara dunia. Ini hanyalah laga lain dan lawan lain yang menghalangi langkah kami,” ujar Van Gaal kepada Voetbalkrant, Kamis (8/12).

Laga kali ini sekaligus menjadi ajang pembuktian Belanda sebagai salah satu kandidat terkuat Piala Dunia. Terlebih, daripada sang lawan, De Oranje berstatus underdog. Van Gaal pun cukup optimistis menatap laga nanti.

Rasa percaya diri pelatih berusia 71 tahun itu tidak terlepas dari tren positif yang ditunjukkan anak-anak asuhnya sepanjang Piala Dunia 2022. Kerap dikritik karena tampil membosankan di fase penyisihan grup, Belanda tampil begitu meyakinkan kala menyingkirkan Amerika Serikat, 3-1, di babak 16 besar pekan lalu.

photo
Louis van Gaal- (X01095)

Dengan meninggalkan formasi empat pemain bertahan, Van Gaal lebih memilih menempatkan tiga pemain bertahan dan menempatkan /wing back di kedua sisi. Hasilnya, nyaris sebagian besar gol Belanda ke gawang Amerika Serikat dibangun dari serangan di sisi sayap.

Belum lagi dengan ketajaman yang ditunjukan para pemain di lini depan, terutama Cody Gakpo. Memphis Depay, yang sempat mengalami masalah kebugaran, pun terlihat sudah mulai menemukan performa terbaik. 

Namun, Belanda bukan satu-satunya tim yang tengah berada di kurva menanjak dari segi performa. Seperti halnya Belanda, Argentina terus menunjukkan taji di Qatar 2022. Setelah menelan kekalahan mengejutkan, 1-2, dari Arab Saudi, Albiceleste melewati adangan Meksiko dan Polandia di fase grup. Momentum itu berlanjut saat Argentina menghentikan langkah Australia di babak 16 besar via kemenangan 2-1.

Di tiga laga tersebut, Lionel Messi terpilih sebagai pemain terbaik di dua pertandingan. Kebangkitan Albiceleste pun berjalan seiring dengan peningkatan performa pemain berjuluk La Pulga tersebut. Dengan momentum yang mereka miliki, kampiun Copa America 2021 itu kembali menggenggam status sebagai kandidat terkuat peraih gelar Piala Dunia 2022.

photo
Pemain Argentina Lionel Messi merayakan kemenangan Argenina atas Australia dalam pertandingan babak 16 besar di Stadion Ahmad bin Ali di Al-Rayyan, Sabtu (3/12/2022). - (AP/Petr David Josek)

Albiceleste pun dianggap berada dalam trek yang tepat untuk bisa meraih titel Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak gelaran 1986. Begitu pula dengan mimpi Messi untuk mempersembahkan gelar Piala Dunia untuk Argentina, persis seperti yang dilakukan Diego Armando Maradona di Meksiko 1986.

Van Gaal pun mengakui, dengan kreativitasnya, Messi adalah ancaman terbesar bagi Belanda. “Dia adalah pemain kreatif yang paling berbahaya. Dia bisa menciptakan peluang dan mencetak gol. Namun, saat mereka kehilangan bola, dia cenderung tidak bisa berpartisipasi di pertandingan. Hal itu dapat memberikan kami peluang,” kata eks pelatih Bayern Muenchen tersebut.

Status Messi sebagai ancaman terbesar Belanda di laga kali ini juga digaungkan oleh Virgil van Dijk. Kapten De Oranje itu pun mengakui, bersama Cristiano Ronaldo, Messi merupakan salah satu pemain terbaik di dunia. Namun, Van Dijk menegaskan, Argentina bukan hanya Messi.

“Ini bukanlah Belanda menghadapi Messi, melainkan Belanda menghadapi Argentina. Mereka memiliki pemain lain yang bisa menentukan pertandingan, termasuk kehadiran Julian Alvarez (penyerang timnas Argentina—Red),” ujar Van Dijk, seperti dilansir Stats Perform.

photo
Pemain Belanda berlatih di Doha, Qatar, Kamis (8/12/2022). - (EPA-EFE/ALI HAIDER)

Sementara itu, untuk pelatih timnas Argentina Lionel Scaloni, laga nanti merupakan pertemuan dua tim sarat sejarah di arena Piala Dunia. Mantan asisten pelatih timnas Argentina itu menilai, dari segi permainan, Belanda jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu, terutama sejak gagal tampil di putaran final Piala Dunia 2018.

De Oranje dinilai sudah memiliki visi permainan yang lebih jelas dalam berburu kemenangan. Kehadiran Van Gaal di kursi pelatih benar-benar mengubah wajah De Oranje. Scaloni pun mengaku sudah tidak sabar untuk beradu taktik dengan Van Gaal.

“Ini menjadi momen membanggakan bagi saya dapat berhadapan dengannya, terlebih di pentas Piala Dunia. Saat saya masih menjadi pemain, dia sudah menjadi pelatih terkemuka. Dia sudah memberikan begitu banyak andil untuk sepak bola,” kata Scaloni, seperti dikutip La Nacion.

Laga nanti sekaligus menandai duel pelatih beda generasi. Dalam usia 44 tahun, Scaloni merupakan pelatih termuda di pentas Piala Dunia 2022. Sementara itu, Van Gaal, dalam usia 71 tahun, merupakan pelatih tertua yang berkiprah di Qatar 2022.