Sejumlah calon jamaah haji dan umrah melakukan tawaf saat manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (23/5/2022). Latihan manasik haji tersebut untuk membekali para calon jamaah haji dan umrah terkait pemahaman tata cara pelaksanaan ibadah se | Republika/Putra M. Akbar

Khazanah

Gelar Munas, KBIHU Perkuat Kolaborasi

Tujuan dari bimbingan dan pendampingan manasik pada jamaah haji adalah untuk mencapai haji mabrur.

JAKARTA -- Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IV pada 6-8 Desember 2022. Munas kali ini mengusung tema "Kolaborasi dan Sinergitas KBIHU Menuju Era Baru Penguatan Ekosistem Perhajian Indonesia". 

Ketua Panitia Pelaksana Munas H E Sunidja berharap tema tersebut dapat membangkitkan produktivitas KBIHU dalam memberikan bimbingan dan pendampingan manasik kepada para calon jamaah haji. "Dari kolaborasi itu tentunya KBIHU harus lebih produktif lagi. Jadi, produktifnya bukan hanya di dalam, tetapi harus mampu melakukan perubahan, terutama dalam melaksanakan pembimbingan manasik," kata Sunidja saat ditemui Republika, Selasa (6/12).

Selain menjadi lebih produktif, kolaborasi ini juga harus membuat KBIHU lebih efektif dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji. Sesuai amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, KBIHU merupakan pendamping dan pembimbing jamaah dalam melakukan manasik hajinya.

 
Dengan kolaborasi ini bagaimana membimbing dan mendampingi jamaah lebih efektif.
HE SUNIDJA Ketua Panitia Pelaksana Munas KBIHU
 

"Dengan kolaborasi ini bagaimana membimbing dan mendampingi jamaah lebih efektif, sehingga jamaah bisa melaksanakan ibadah hajinya secara benar dan sah," kata dia.

Lebih lanjut, Sunidja mengatakan, tujuan dari bimbingan dan pendampingan manasik pada jamaah haji adalah untuk mencapai haji mabrur. Sebab, untuk mencapai kemabruran, jamaah harus benar dan sah dalam melaksanakan manasik hajinya. "Jadi, mabrur itu harus diawali dengan ibadah yang benar dan sah. Nah itulah mengapa kita perlu melakukan kolaborasi dengan beberapa instansi," kata dia.

Sebab, kata dia, nantinya para jamaah haji akan berada di Tanah Suci dalam waktu yang panjang. Saat jamaah berada di Tanah Suci, Pemerintah Arab Saudi bisa kapan saja melakukan perubahan terkait dengan teknis pelayanan dan penyelenggaraan ibadah haji.

Apa lagi, kata dia, saat ini Pemerintah Arab Saudi punya misi yakni pada tahun 2030 jumlah jamaah haji harus mencapai 30 juta jamaah. Program jangka panjang ini akan membuat sistem perhajian mengalami banyak perubahan, dan perubahan itu harus diikuti oleh setiap negara pengirim jamaah haji, termasuk Indonesia."Karena di Saudi melakukan perubahan, maka tentunya Pemerintah Indonesia harus melakukan perubahan pula," kata dia.

Demikian pula KBIHU sebagai mitra Kementerian Agama, menurut Sunidja, harus mampu melakukan perubahan. Perubahan ini bisa berjalan ketika sumber daya manusia (SDM)-nya melakukan perubahan, mulai dari pola pikir dan tindakan. "Perubahan cara berpikir, dan juga media manasik yang disampaikan kepada jamaah perlu ada perubahan dengan cara digitalisasi," kata dia.

Jadi, kata dia, saat ini sudah serba digital. Maka, manasik haji tidak bisa dilakukan secara konvensional. Latihan ibadah haji atau manasik perlu mengikuti perkembangan jaman dengan cara digital. "Sekarang digitalisasi cepat atau lambat itu pasti akan masuk," ujar dia.

Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah didirikan pada tahun 2005. "Saat ini anggotanya ada 1.715 yang tersebar di 30 provinsi dan siap mengikuti munas," katanya.