Hakim Konstitusi Suhartoyo memimpin jalannya sidang uji Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum di Gedung Mahkamah Konsitusi, Jakarta, Selasa (11/10/2022). | Republika/Prayogi

Nasional

MK Larang Eks Napi Korupsi Nyaleg

Masa tunggu lima tahun diberikan kepada eks napi korupsi untuk introspeksi.

JAKARTA -- Mahkamah Konstitusi (MK) melarang mantan narapidana, termasuk eks narapidana kasus korupsi, menjadi calon anggota legislatif (caleg) selama lima tahun sejak dibebaskan. Hal ini merupakan putusan MK dalam sidang putusan yang digelar di Gedung MK, Jakarta, Rabu (30/11).

Putusan tersebut merupakan jawaban atas gugatan yang diajukan seorang karyawan swasta bernama Leonardo Siahaan. Dia meminta MK melarang eks napi koruptor nyaleg dengan cara menyatakan frasa, "kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana" dalam Pasal 240 ayat 1 huruf G UU Pemilu adalah inkonstitusional.

"Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian," kata Ketua MK Anwar Usman membacakan amar putusan. Putusan MK ini mengubah isi Pasal 240 ayat 1 huruf g UU Pemilu yang semula berbunyi:

"Bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten kota adalah Warga Negara Indonesia dan harus memenuhi persyaratan: g. tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih, kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana."

Anwar Usman mengatakan, Pasal 240 ayat 1 huruf g itu bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Karena itu, MK membuat norma baru terhadap pasal tersebut, yakni:

"Bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah Warga Negara Indonesia dan harus memenuhi persyaratan: g.(i) tidak pernah sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali terhadap terpidana yang melakukan tindak pidana kealpaan dan tindak pidana politik dalam pengertian suatu perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana dalam hukum positif hanya karena pelakunya mempunyai pandangan politik yang berbeda dengan rezim yang sedang berkuasa;"

"(ii) bagi mantan terpidana, telah melewati jangka waktu 5 (lima) tahun setelah mantan terpidana selesai menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan secara jujur atau terbuka mengumumkan mengenai latar belakang jati dirinya sebagai mantan terpidana; dan (iii) bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang."

Hakim Konstitusi Suhartoyo mengatakan, ketentuan masa tunggu lima tahun diperlukan untuk eks narapidana melakukan introspeksi diri dan beradaptasi dengan masyarakat lingkungannya. "Demikian halnya persyaratan adanya keharusan menjelaskan secara terbuka kepada publik tentang jati dirinya dan tidak menutupi latar belakang kehidupannya adalah dalam rangka memberikan bahan pertimbangan bagi calon pemilih dalam menilai atau menentukan pilihannya," ujarnya.

photo
Hakim Konstitusi Suhartoyo bersiap memimpin jalannya sidang uji Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum di Gedung Mahkamah Konsitusi, Jakarta, Selasa (11/10/2022). - (Republika/Prayogi)

Sedangkan, terkait syarat bukan pelaku tindak pidana berulang-ulang, kata dia, hal itu berkaca dari fakta empirik bahwa ada pejabat mantan terpidana yang kembali melakukan kejahatan yang sama. Syarat ini bertujuan untuk melindungi kepentingan masyarakat mendapatkan pemimpin yang bersih, berintegritas, memberikan pelayanan publik yang baik, dan menghadirkan kesejahteraan.

Sebelumnya, KPU pernah melarang eks koruptor menjadi caleg pada Pemilu 2019. Tapi, ketentuan itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) karena bertentangan dengan UU Pemilu.

Merespons putusan MK, pihak KPU akan mengonsultasikan putusan MK kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Komisi II DPR RI.

photo
Hakim Konstitusi Suhartoyo (kiri) didampingi Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih (kanan) memimpin jalannya sidang uji Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum di Gedung Mahkamah Konsitusi, Jakarta, Selasa (11/10/2022). - (Republika/Prayogi)

"KPU akan mempelajari Putusan MK tersebut. Kami akan konsultasikan materi putusan JR (judicial review) MK tersebut kepada pembentuk UU, dalam hal ini Presiden dan Komisi II DPR," kata Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari dalam keterangannya, Rabu (30/11).

Hasyim menjelaskan, salah satu isu yang perlu dikonsultasikan adalah soal bagaimana pemberlakuan putusan MK tersebut terhadap Peraturan KPU (PKPU). "Apakah (putusan tersebut) hanya untuk calon anggota DPR, DPRD Provinsi/Kab/Kota, atau termasuk juga calon anggota DPD," ujarnya.

Pesta Musik di Tengah Rintik

Hujan tak menghilangkan antusiasme penonton bersukaria di Soundrenaline 2022.

SELENGKAPNYA

Menjaga Festival Musik Tetap Spesial

Para musisi yang dulu tak bisa tampil di depan penonton, kini lebih leluasa manggung.

SELENGKAPNYA