Winda Utami, Populerkan Bahasa Isyarat | Dok Winda Utami

Uswah

Memopulerkan Bahasa Isyarat

Winda Utami awalnya mempelajari bahasa isyarat dari huruf.

Kalangan difabel masih menjadi kaum marginal di Indonesia. Ruang lingkup sosial yang mendukung bagi kaum difabel masih sangat kecil, sehingga tak heran jika bahasa isyarat bagi kalangan tuna rungu, misalnya, belum begitu populer.

 Maka, tak ayal, kiprah Winda Utami sebagai juru bahasa isyarat yang memukau saat perhelatan acara 17 Agustus di Istana Kepresidenan, beberapa bulan lalu, menjadi sorotan publik. Melalui aksi Winda yang energik dan ceria saat menjadi juru bahasa isyarat di acara tersebut, bahasa isyarat menemui momentum untuk dipopulerkan kepada khalayak luas.

Siapa sebenarnya sosok Winda Utami? Winda merupakan Muslimah jebolah Universitas Muhammadiyah Surakarta yang memulai ketertarikannya pada dunia bahasa isyarat sejak 2011 silam. Pada masa itu, Winda melihat stand bahasa isyarat dan mulai tertarik dengan bahasa tersebut. 

“Awalnya saya memang suka dengan kegiatan sosial. Kemudian dalam suatu kesempatan, saya tertarik saat melihat salah satu stand. Di situ ada kawan-kawan tuli menggunakan bahasa isyarat, saya berpikirnya ‘kok menarik ya?’. Sejak itulah saya mulai tertarik dan memutuskan untuk belajar bahasa isyarat,” kata Winda saat dihubungi Republika beberapa waktu lalu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Winda Utami (@wind.utami)

Sama seperti bahasa-bahasa lainnya, mempelajari bahasa isyarat bagi Winda susah-susah gampang. Namun, sebagaimana biasanya dalam mempelajari bahasa, kata dia, apabila bahasa yang dipelajari tersebut sering dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa isyarat akan lebih mudah dicerna.

Winda awalnya mempelajari bahasa isyarat dari huruf terlebih dahulu. Baru setelah itu ia mempelajari kata-kata dasar yang sering digunakan sehari-hari. Dia memberi pesan bahwa bagi orang yang baru mempelajari bahasa isyarat, disarankan agar mempelajari/mempraktikkan bahasa tersebut langsung bersama dengan kawan-kawan tuli.

 
Saya (lancar) berbahasa isyarat itu ya karena sering dipraktikkan, learning by doing.
WINDA UTAMI Juru Bahasa Isyarat
 

Karena di dalam bahasa isyarat itu, kata dia, struktur kalimatnya berbeda dengan struktur bahasa orang dengar. Jadi, sebaiknya ketika seseorang ingin mempelajari bahasa isyarat, disarankan belajar dengan teman tuli.  

Seiring berjalannya waktu, Winda pun mulai lancar berbahasa isyarat—meski dia mengakui—masih pemula kala itu. Banyak hal yang harus dipelajari. Namun, dalam sebuah kesempatan, dia diminta untuk menjadi juru bahasa isyarat dalam sebuah acara karena masih minimnya juru bahasa isyarat di Solo kala itu.

“Padahal, waktu itu saya baru hafal abjad tapi sudah diminta unjuk jadi juru bahasa isyarat. Sehingga saya (lancar) berbahasa isyarat itu ya karena sering dipraktikkan, learning by doing,” kata dia.

Kini, Winda tergabung dalam Indonesia Sign Language Interpreter (Inasli) yang merupakan lembaga resmi juru bahasa isyarat di Indonesia. Berdasarkan sepengetahuannya, lembaga ini merupakan satu-satunya lembaga juru bahasa isyarat yang sudah resmi dan memiliki akta yang dikeluarkan Kemenkum HAM. 

Sehingga, kata dia, banyak acara-acara negara dan pemerintah itu yang menggunakan jasa Inasli. Winda berbagi informasi bahwa setiap juru bahasa isyarat memiliki kualifikasinya masing-masing. Sehingga, penunjukan juru bahasa isyarat di suatu acara tertentu, harus disesuaikan dengan kualifikasi yang ia miliki. 

Setop stigma 

Winda menekankan bahwa stigmatisasi terhadap teman-teman difabel masih terasa. Menurut dia, stigma bahwa tunarungu hanya bisa menjahit atau tuna netra hanya bisa menjadi tukang pijit harus dihapuskan. Sebab, setiap kawan-kawan difabel memiliki hak atas akses pekerjaan dan profesi.

Bahkan, di dalam undang-undang disebutkan bahwa setiap perusahaan harus menyediakan 1 persen porsi pekerjaan kepada kaum difabel. Namun, pada kenyataannya, hal demikian belum terwujud seutuhnya.

“Ada cerita dari teman tunarungu bahwa ketika mereka memiliki kapasitas atas kualifikasi yang disyaratkan perusahaan, mereka tertolak. Alasannya karena perusahaan tahu dia tuli,” ujar dia.

 

Profil

Nama lengkap: Winda Utami

Tempat, tanggal lahir: 13 Maret

Riwayat pendidikan: Jurusan Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pekerjaan: Juru bicara isyarat di Inasli

Riwayat aktivitas: JBI Y20, JBI HUT RI 2022, JBI Muktamar Muhammadiyah 2022, JBI debat Pilpres 2014, JBI untuk berita di TV, dan lainnya.

Dukungan Bagi Kaum Difabel Lewat Film

Film ini menjadi momentum dimulainya program membangun awareness terhadap penyandang disabilitas.

SELENGKAPNYA

Menengok Pesantren Difabel di Selatan Jakarta

Pesantren ini menjadi rumah bagi para santri tunarungu kedua di Indonesia

SELENGKAPNYA

Pertamina Dorong Difabel Tarakan Berdaya

Tahun pertama, Sony mengajak 23 difabel, baik itu difabel tuli maupun daksa untuk ikut bersama membatik.

SELENGKAPNYA