Tersangka pelaku kejahatan jalanan atau klitih dihadirkan saat konferensi pers di Mapolda DIY, Yogyakarta, Senin (11/4/2022). Sebanyak lima tersangka berstatus pelajar dan mahasiswa diamankan dari kasus penganiyaan pelajar SMA hingga meninggal. Pelaku dij | Wihdan Hidayat / Republika

DIY

Kejahatan Jalanan Masih Jadi Momok Kota Pelajar

Kejadian ini diawali persoalan sepele yakni korban dan pelaku yang tidak saling kenal bersenggolan.

YOGYAKARTA -- Dugaan kasus kekerasan berupa penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia kembali terjadi di Yogyakarta. Danang Ismail Saleh, warga asal warga Gunungkidul, DIY, mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.

Peristiwa penganiayaan terjadi pada Senin (21/11) sekitar 05.00 WIB di karaoke Morena, Kompleks Pasar Kembang, berlanjut depan SD Netral, Jalan Sosrowijayan. Kejadian ini diawali persoalan sepele yakni korban dan pelaku yang tidak saling kenal bersenggolan.

Yogyakarta dikenal orang dari luar DIY sebagai Kota Wisata, Kota Pelajar dan Kota Budaya dengan keramahan dan sopan santun. Namun, julukan positif tersebut tercoreng aksi kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini, termasuk aksi kekerasan jalanan atau klitih.

photo
Warga menuliskan pesan pada kain saat pernyataan sikap Aksi Warga Jogja Lawan Klitih di kawasan Titik Nol KM, Yogyakarta, Senin (3/1/2022). Aksi yang digagas oleh Garda Umat DIY itu mendesak aparat penegak hukum agar menindak tegas para pelaku klitih atau kejahatan jalanan. - (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Aksi kekerasan jalanan pasca meninggalnya Daffa Adzin Albasith dalam klitih di Jalan Gedongkuning, April 2022,  ternyata belum berhenti. Sebab, aksi klitih di DIY terus terjadi dan masih jadi momok di Kota Pelajar ini.

Pada Mei 2022, seorang pelajar berinisial ZWP usia 15 tahun, meninggal dunia akibat aksi kekerasan jalanan di Jalan Tentara Pelajar. Pada bulan yang sama, sejumlah remaja ditangkap karena terlibat kekerasan di Jalan Parangtritis.

Dua korban yakni EGS dan OJP mengalami luka-luka. Pada Juni 2022, Polresta Sleman menangkap 10 orang pelaku kekerasan jalanan yang terjadi di Jalan Dukuh Pisangan. Pelaku pun membacok empat korban dengan celurit sampai luka-luka.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by POLRESTA YOGYAKARTA (@polresjogja)

Kabid Humas Jogja Police Watch, Baharuddin Kamba berpendapat, usaha Pemda DIY maupun Polda DIY mengubah istilah klitih jadi kejahatan atau kekerasan jalanan belum tampak membuahkan hasil. Upaya tersebut tidak mengubah Yogyakarta tenang dan baik-baik saja.

"Terbukti, pasca korban meninggalnya Daffa aksi-aksi kekerasan atau kejahatan jalanan tetap ada dan seakan tidak ada matinya," kata Baharuddin, Selasa (22/11).

 
Pasca korban meninggalnya Daffa aksi-aksi kekerasan atau kejahatan jalanan tetap ada.
BAHARUDDIN KAMBA Kabid Humas Jogja Police Watch
 

Pada Agustus 2022, Polresta Yogyakarta menangkap tiga pemuda karena terlibat kekerasan jalanan di Jalan Sultan Agung, Jalan Kenari dan Jalan Rejowinangun. Motif pelaku melakukan penganiayaan karena sepele, yakni bertatapan di jalan. September 2022, dua anak di bawah umur diamankan Polsek Ngaglik karena diduga hendak melakukan kekerasan jalanan, lalu dikembalikan ke orang tuanya. Masih September, ada kasus di Jatisari dan korban alami sabetan senjata tajam.

Baharuddin turut mempertanyakan fungsi dari keberadaan Pengamanan Objek Vital (Pamobvit), termasuk keberadaan Jogoboro. Ia berharap, kasus ini tidak berdampak buruk bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya Malioboro.

Sebab, atas kasus ini tentu wisatawan menjadi was-was, terlebih di Malioboro ada obyek vital. Karenanya, selain TKP kekerasan ada di jantung pariwisata, terdapat Kantor Gubernur, Gedung DPRD DIY, sampai Gedung Kepresidenan yang harus dijaga.

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

SELENGKAPNYA

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

SELENGKAPNYA

Ancaman Bagi Pendurhaka

Lalu, para pendurhaka itu ditantang, di manakah pasukanmu yang bisa membelamu?

SELENGKAPNYA