Saudara Terdekat Bernama Tetangga (Ilustrasi) | Wihdan Hidayat / Republika

Laporan Utama

Saudara Terdekat Bernama Tetangga

Sikap individualistik kerap dikaitkan dengan kekhawatiran lingkungan sekitar yang tidak aman atau rawan kejahatan.

OLEH UMAR MUKHTAR

Kehidupan di perkotaan penuh hiruk-pikuk demi sebuah alasan, mencari rezeki. Kesibukan masyarakat, apalagi di Ibu Kota, sering kali menjadi dalih terbentuknya sikap individualistis. Akibatnya, antara satu warga dengan warga lain tidak saling mengenal karena sibuk bekerja di luar rumah. Interaksi kurang, kepedulian antartetangga pun menjadi barang langka.

Pakar fikih dari Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo Jawa Timur, KH Afifuddin Muhajir, menjelaskan, setiap Muslim tentu punya kebebasan dan keleluasaan untuk mencari rezeki. Islam mempersilakan mencari kekayaan. Namun, kekayaan dalam Islam memiliki fungsi sosial.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR at-Thabrani).

 
Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.
HR AT-THABRANI
 

 

Kiai Afifuddin mengatakan, hadits tersebut menunjukkan bahwa setiap Muslim harus memiliki kepedulian sosial. Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hormatilah tetangga.” (HR Muslim).

"Ada beberapa bentuk penghormatan. Salah satunya, menyantuni tetangga yang kesulitan secara ekonomi ataupun sosial. Ini ajaran Islam yang indah sekali, tetapi ada sebagian Muslim yang tidak mengamalkannya," kata wakil rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

photo
Pengurus RT memberikan masker kepada salah satu warga terkonfirmasi positif COVID-19 saat menjalani isolasi mandiri di desa Lohbener, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (30/6/2021). Warga tersebut terpaksa menjalani isolasi mandiri dengan membuat tenda dari terpal di pekarangan untuk mengurangi resiko penularan COVID-19 lingkungan keluarga dan tetangganya. - (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Bahkan, Kiai Afifuddin melanjutkan, tetangga sejatinya adalah saudara terdekat. Allah SWT berfirman, “... dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS an-Nisa ayat 36).

Kiai Afifuddin juga memaparkan, ada beberapa macam persaudaraan. Pertama, persaudaraan karena ikatan agama atau ukhuwah Islamiyah. Kedua, persaudaraan karena ikatan negara atau ukhuwah wathaniyah. Ketiga, persaudaraan karena bertetangga atau sama-sama berada di satu lingkungan tempat tinggal.

"Di luar itu ada ukhuwah yang lebih luas, yaitu ukhuwah basyariyah. Persaudaraan yang diikat karena sesama manusia. Alhasil, hubungan antarsesama manusia harus dibangun dengan baik. Apalagi sesama Islam, sesama warga negara, dan tetangga dekat," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Sikap individualistik dalam kehidupan perkotaan kerap dikaitkan dengan kekhawatiran lingkungan sekitar yang tidak aman atau rawan kejahatan. Sehingga, pemilik rumah enggan bergaul atau sekadar mengenal tetangga-tetangga terdekatnya. Bahkan, pagar-pagar rumah seolah berlomba menjadi yang paling tinggi.

"Lalu bagaimana cara mengompromikan itu, agar di satu sisi keamanan rumah tangga terpelihara dan di sisi lain tetap memperhatikan hubungan antartetangga. Salah satu cara dalam Islam, orang-orang yang hidup dalam bermasyarakat itu bisa bertemu di mushala atau masjid. Interaksi sosial mereka di sana," ujarnya.

 
Untuk mencari tetangga yang baik. Jadi, bukan semata-mata karena tempatnya yang strategis,
KH AFIFUDIN MUHAJIR Pakar Fiqih
 

Bagaimana pun, sesibuk apa pun seorang Muslim dalam bekerja, tetap harus ada interaksi sosial dengan tetangga. Tetangga dalam Islam memiliki peran yang sangat penting. Misalnya saat membangun rumah. Biasanya kebanyakan orang lebih memperhatikan lokasi yang strategis. "Tetapi lihat dulu tetangganya, untuk mencari tetangga yang baik. Jadi, bukan semata-mata karena tempatnya yang strategis," kata Kiai Afifuddin.

Dia juga berpesan agar setiap Muslim memperhatikan bangunan rumahnya supaya tidak merugikan rumah tetangga sekitar. Apalagi, jika tetangganya tergolong kurang mampu. Contohnya dengan membuat bangunan megah dan tinggi hingga menghalangi cahaya masuk ke dalam rumah tetangganya atau yang semacamnya. “Jangan sampai membuat nyaman sendiri, tetapi menyengsarakan orang lain,” ujarnya.

Surakarta Message Beri Pesan Damai Bagi Dunia

Surakarta Message akan disampaikan pada seluruh umat beragama di dunia dan umum.

SELENGKAPNYA

Raih Doktor Sambil Asuh Tiga Balita

Perjalanan Hitta menyelesaikan studi S-3 tidak selalu mulus.

SELENGKAPNYA

Muktamar Muhammadiyah Harus Bermartabat

Muhammadiyah tidak mengajarkan kadernya untuk mencari jabatan.

SELENGKAPNYA