Seorang pekerja memasak rendang di Padang, Sumatra Barat, Rabu (8/9/2021). | ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/Lmo/aww.

Kuliner

Lebih Dekat dengan Keunikan Indonesia

Masyarakat baru mengenali segelintir dari ribuan jenis kuliner khas Indonesia.

 

OLEH DESSY SUSILAWATI

Masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang belum menyadari keunikan kuliner Indonesia. Contoh saja yang sederhananya adalah rendang yang sudah dikenal dunia. Hal serupa juga terjadi pada kuliner dari daerah lainnya. 

"Banyak yang belum sadar bahwa di Sumatra Barat ada 900 nagari atau desa yang memiliki komposisi bahan dan bumbu yang berbeda untuk mengolah rendang," ujar pakar kuliner William Wongso di Festival Jajanan Bango, akhir bulan lalu. Dia terkenal gemar memperkenalkan rendang dalam berbagai kesempatan di luar negeri. 

Bahan dasar rendang adalah daging sapi. Bahan lainnya bisa dibuat rendang, seperti nangka muda untuk menjadi rendang vegan. Pengolahan dan rasa rendang itulah yang membuat warga asing mengenal kuliner Indonesia, bahkan tak bisa melupakan rasanya. 

photo
Peserta memperlihatkan rendang yang sudah dimasak saat mengikuti Festival Rang Mudo Marandang di Kantor Balaikota Padang, Sumatra Barat, Kamis (28/10/2021). - (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Selain rendang, William Wongso juga kerap mengenalkan jenis makanan Nusantara lain yang berasal dari sayuran, seperti pecel sayur. Untuk soto, berbagai daerah juga memiliki kuliner khas satu ini. Makanya, William mengimbau agar pedagang soto menjual soto disertai dengan identifikasi tempat asalnya. Hal itu untuk memudahkan masyarakat Internasional mengenalinya dengan mudah. 

Menurut dia, pengetahuan mengenai keunikan kuliner Indonesia seperti itulah yang perlu disebarluaskan agar kita bisa mengenali dan mengapresiasi. Pada akhirnya, itu dapat melestarikan ragam cita rasa dan bahan autentik, kearifan lokal, hingga perpaduan budaya yang menyatu di dalam kekayaan kuliner kita. 

Beberapa makanan khas Indonesia ini hadir dalam Festival Jajanan Bango (FJB) 2022 di Plaza Parkir Timur Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, akhir bulan lalu. FJB hadir dengan tema “Kenali Rasanya Indonesia”.  

Direktur Nutrition PT Unilever Indonesia Tbk Amaryllis Esti Wijono mengatakan, kekayaan ragam kuliner Indonesia menjadikannya sebagai tradisi kuliner paling kaya di dunia. Namun, dari 3.259 ragam kuliner autentik yang hingga kini terpantau, baru segelintir di antaranya yang dikenali oleh masyarakat luas.  

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bango Warisan Kuliner (@bangowarisankuliner)

Kuliner yang familiar misalnya adalah nasi goreng, satai, soto, dan sambal. Padahal, masih ada 104 jenis nasi goreng, 252 ragam satai, lebih dari 100 varian soto, hingga 322 macam sambal. Begitu juga pengetahuan tentang kuliner khas daerah. "Untuk kuliner khas Minangkabau, setidaknya ada 220 jenis, kuliner khas Palembang ada lebih dari 200 jenis, kuliner khas Yogyakarta ada lebih dari 192 jenis, dan seterusnya," ungkap Esti.  

Untuk lebih membuka wawasan para pencinta kuliner, FJB 2022 menyuguhkan aneka kelezatan kuliner autentik dari Sabang sampai Merauke yang dengan bangga disajikan oleh 90 penjaja kuliner legendaris dari berbagai wilayah Nusantara.  

Satai Kuah Pontianak Bang Anek 

Satai pada umumnya disajikan dengan bumbu kacang atau bumbu kecap. Namun, satai asal Pontianak menggunakan bumbu berbeda, yaitu perpaduan bumbu kacang dengan kuah kaldu. Bagaimana, ya, rasanya? Pemilik Sate Kuah Pontianak Bang Anek, Fendry Novianto, mengatakan, satai kuah di Pontianak adalah hal biasa. Namun, ketika dibawa ke Jakarta, banyak orang yang bingung melihat satai memakai kuah. 

Bang Anek menjelaskan, satai kuah Pontianak adalah satai dan ketupat yang berpadu dengan timun, bumbu kacang, juga kuah kaldu. Ditambah dengan pugasan daun bawang kecil, bawang goreng, dan perasan jeruk kasturi. Dagingnya adalah has dalam sapi dan ayam. "Daging sapi bagian lain jika dibakar langsung keras," ungkapnya. 

photo
Sate kuah Bang Anek - (istimewa)

Daging itu kemudian dimarinasi selama 4-24 jam dengan bumbu khusus, yaitu bumbu dan rempah khas Melayu. Bumbu paling kuat dalam satai ini adalah ketumbar. Itulah yang membedakan satai tersebut dengan satai lain. Setelah dimarinasi, daging siap dibakar. "Jika bakarnya satai Madura biasanya keluar apinya, sedangkan satai kuah tidak boleh keluar apinya, hanya hawa panas dari bara api," ujar Fendry. 

Pembakaran dilakukan dua kali proses setengah matang dan matang. Pembakaran setengah matang memerlukan waktu lima menit. Setelah itu, satai dibakar lagi untuk dimatangkan. Penyajiannya diawali dengan memotong ketupat dan timun terlebih dahulu sesuai ukuran. Setelah itu, bahan tersebut dimasukkan ke dalam wadah. Ketupat dan timun kemudian disiram dengan kuah kaldu agar meresap rasanya.  

Setelah hangat diletakkan dipiring, kemudian diberikan satai dan bumbu kacang. Tak lupa ditambahkan taburan atau pugasan daun bawang yang sudah diiris kecil, juga bawang goreng, kemudian disiram kuah lagi di pinggirnya. "Cara mencicipinya diberikan perasan jeruk kasturi atau lemon cui. Jika mau pedas, tinggal ditambahkan sambal," ujarnya. 

Di Pontianak, satai kuah ini biasa dikonsumsi saat sarapan dan makan siang, sedangkan di Jakarta justru dikonsumsi saat malam hari sepulang kerja. "Di Pontianak, makan malam bersama keluarga. Kalau makan siang, di toko sambil kerja. Kalau di Jakarta, makan bersama keluarga, wisata kuliner baru ke tempat saya. Sedangkan, makan (ketika) kerja yang simpel depan kantor," ujarnya.  

Untuk mendampingi satai ini, ia merekomendasikan es sonkit. Es tersebut terbuat dari jeruk kasturi yang rasanya manis, asam, dan asin. "Itu udah paling cocok kombinasinya." 

Satai Sasak dari Lombok NTB 

Salah satu satai yang sedang terkenal saat ini adalah satai taichan. Satai taichan berbeda dengan satai ayam pada umumnya. Satai ini berwarna putih dan tidak memakai bumbu kacang atau kecap, tapi dibaluri sambal.  

photo
Satu Bulayak khas Sasak. - (indonesia.go.id)

Ternyata, ada juga satai yang mirip dengan taichan, namanya satai sasak asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dari bahan daging sapi dan ayam yang dipotong dadu. Untuk yang daging ayam, warnanya sama dengan satai taichan, warnanya putih kemudian dibalut dengan sambal merah.

"Yang membedakan satai sasak dengan satai pada umumnya adalah bumbu yang dipakai. Kalau satai biasa, bumbu kacang. Satai sasak menggunakan bumbu sambal," ujar pemilik Sate Sasak Taliwang Bersaudara, Jumiati kharismaputri, bulan lalu. 

Satai sasak dan taichan berbeda dari bentuk potongan. Satai taichan putih memanjang, kalau satai sasak bentuknya kotak. Jenis sambalnya juga berbeda. Satai sasak menggunakan cabai kering dan basah, rasanya pedas manis. Sementara itu, satai taichan rasanya pedas saja. Sebelum dimasak, satai sasak akan dimarinasi terlebih dahulu agar bumbu meresap. Setelah itu, barulah dimasak dan disajikan bersama nasi dan lauk lainnya. 

Selain menyajikan sate sasak, Jumiati juga menawarkan ayam bakar bumbu taliwang. Rasanya khas dan enak. Ayam bakar taliwang dan satai sasak disajikan dengan nasi putih dan plecing kangkung yang bertabur kacang tanah. Sungguh menggiurkan rasa dan tampilannya.  

Lumpia Semarang 

Ada berbagai macam jenis lumpia asal Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah lumpia Semarang. Lumpia itu berbahan dasar isian rebung. Bagi yang menyukai lumpia itu tentu akan sangat menikmatinya. Namun, ada juga yang tidak menyukainya karena biasanya lumpia itu mengeluarkan aroma tak sedap, seperti bau pesing. 

Pemilik Lumpia Semarang Ny Yoen, Yuyoen, menjelaskan, berdasarkan testimoni masyarakat, lumpia miliknya tidak mengeluarkan bau tak sedap. Menurut dia, kunci agar rebung pada lumpia tidak berbau adalah pada proses pencuciannya. Pencucian harus dilakukan dengan baik dan benar. "Saya mencuci rebung lima sampai enam kali dengan air mengalir. Baunya hilang dan dimasak tidak akan bau," ungkapnya. 

Jika pencucian tidak bersih, rebung akan menimbulkan bau, termasuk ketika sudah dimasak. "Biasanya digoreng saja bau," ujarnya.

Selain karena proses pencucian yang benar, bau rebung pada lumpia juga bisa disebabkan oleh penyimpanan rebung yang tak baik. Penjual mungkin menimbun rebung terlalu lama. 

Penyimpanan rebung bisa dilakukan dengan cara yang mudah. Rendam rebung dalam air dan simpan di dalam drum, kemudian tutup. "Kami tandon sampai berdrum-drum," ujarnya seraya menambahkan bahwa itu untuk menjaga stok rebung. 

Jika penyimpanan tidak baik, rebung akan menimbulkan bau. Penyimpanan menggunakan air agar rebung tidak kering. "Kalau tidak pakai air, akan kering. Dimakan tidak bisa karena alot," tambahnya. 

Yuyoen menjual lumpia Semarang yang berbeda dari lumpia pada umumnya. Dia menjual lumpia dengan ukuran lebih kecil, yaitu diameter 10 cm, bahkan ada yang 5 cm. Biasanya, lumpia memiliki panjang diameter 15 cm. "Lumpia Semarang aslinya besar, tapi sulit untuk dimakan. Karena itu, kami buat yang 10 cm. Ada juga yang lebih kecil, diameter 5 cm," ungkapnya. 

Isiannya berbahan rebung ditambah ayam, udang, cumi, atau ikan tongkol maupun cakalang. Semua tergantung selera dan varian yang diinginkan. Sebelum diolah, rebung direbus terlebih dahulu, kemudian dicuci, dipotong, kemudian rebus lagi. Setelah itu, baru diolah dengan variannya.  

Untuk kulit lumpia, Yuyoen membuatnya secara khusus dari terigu. "Lebih digemari yang goreng," ujarnya.

Satu lumpia ia jual Rp 10 ribu. Cocok dimakan dengan cabai rawit serta kuah yang terbuat dari sagu, kecap, dan gula pasir.

Qatar Mendadak Haramkan Bir di Piala Dunia

Piala Dunia Qatar 2022 memang tak berjalan baik-baik saja sejak lama.

SELENGKAPNYA

Indonesia Ajak APEC Perbaiki Rantai Pasok

Jokowi mendorong APEC mendukung industri kreatif, termasuk pariwisata.

SELENGKAPNYA

Korut Tembakkan ICBM

Wapres AS menggelar pertemuan darurat dengan pemimpin Korsel, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.

SELENGKAPNYA