Sunarsip | Daan Yahya | Republika

Analisis

Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah, dan Pendalaman Pasar Keuangan

Ada peluang menarik kembali investor asing dan mendorong arus balik modal asing ke Indonesia.

 

OLEH SUNARSIP

Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal III 2022 yang tumbuh 5,72 persen (year on year atau yoy). Pertumbuhan ini relatif tinggi dan memperlihatkan ekonomi kita memiliki daya tahan (resilient) yang lebih baik di tengah ketidakpastian global.

Pada Oktober 2022, Dana Moneter Internasional (IMF) merilis outlook terkait prospek ekonomi global tahun ini dan tahun depan. Dari rilis itu, negara-negara maju khususnya Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan masih menghadapi situasi sulit, seiring kenaikan biaya hidup (cost of living) akibat tingginya inflasi.

Yang menarik, di tengah negara lain menghadapi tekanan akibat tingginya biaya hidup, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Indonesia justru kinerjanya relatif baik. Pada kuartal III 2022, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,39 persen (yoy) melanjutkan kinerja positif pada kuartal II 2022 yang tumbuh 5,51 persen (yoy).

Dengan demikian, selama 9 bulan pertama tahun ini, konsumsi rumah tangga tumbuh kumulatif 5,08 persen (c-t-c). Pertanyaannya: apakah dengan capaian itu berarti pendapatan rumah tangga telah pulih pasca pandemi? Apakah rumah tangga kita memang telah memiliki daya tahan kuat menghadapi kenaikan inflasi akibat tingginya harga komoditas?

 
Harus diakui bahwa kinerja pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut tidak semata karena perbaikan dari sisi pendapatan
 
 

Pendapatan rumah tangga memang mulai membaik seiring membaiknya ekonomi dan mulai pulihnya aktivitas usaha. Daya beli juga relatif terjaga meskipun dorongan kenaikan harga-harga telah terjadi sejak awal tahun ini. Namun, harus diakui bahwa kinerja pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak semata karena perbaikan dari sisi pendapatan.

Pemulihan daya beli selain dipengaruhi oleh perbaikan pendapatan, juga terdapat andil dari dukungan fiskal melalui berbagai program bantuan untuk menjaga daya beli khususnya pada kelompok masyarakat rentan di tengah terjadinya kenaikan harga-harga barang.

Kita juga beruntung bahwa kebijakan sektoral telah memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam menghadapi pengaruh kenaikan harga komoditas. Di luar negeri, kenaikan harga gas, misalnya, dibebankan langsung ke konsumen melalui kenaikan harga barang.

Di Indonesia tidak. Harga gas dan batu bara memang tinggi. Namun, pemerintah membuat diskresi harga gas dan batu bara untuk listrik dan industri tertentu ditetapkan di bawah harga pasar. Tidak mengherankan bila inflasi kita (meskipun naik) levelnya terkendali dan relatif lebih rendah dibanding negara lain. Nah, hal-hal seperti inilah yang turut mendukung pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

 
Tentu ini menjadi anomali: mengapa pasar uang kita lebih reaktif terhadap sentimen eksternal dibanding berita positif dari sisi fundamental ekonomi kita?
 
 

Sayangnya adalah, meskipun ekonomi kita tumbuh relatif tinggi, hal tersebut belum menjadi sentimen kuat untuk menaikan level nilai tukar rupiah. Terbukti, nilai tukar masih bertahan di Rp 15.600 - Rp 15.700 per dolar AS sejak BPS merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal III 2022. Dan baru menguat menjadi Rp 15.493 per dolar AS (pada 11 November) setelah muncul pengumuman dari Biro Statistik AS (pada 10 November) bahwa inflasi AS turun signifikan, dari 8,2 persen (yoy) pada September 2022 menjadi 7,7 persen (yoy) pada Oktober 2022.

Tentu ini menjadi anomali: mengapa pasar uang kita lebih reaktif terhadap sentimen eksternal dibanding berita positif dari sisi fundamental ekonomi kita. Pergerakan nilai tukar memang dipengaruhi dua sisi, yaitu internal dan eksternal. Kedua faktor ini memiliki pengaruh sama dalam membentuk nilai tukar.

Dari sisi internal, selain kinerja yang terkait dengan fundamental ekonomi (pertumbuhan ekonomi, transaksi berjalan, inflasi, fiskal, dan lain-lain), pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh arah kebijakan yang diambil otoritas ekonomi kita. Termasuk pula, posisi //demand dan supply// valuta asing (valas) di dalam negeri juga turut mempengaruhi.

Sedangkan dari sisi eksternal, berita terkait kebijakan yang diambil oleh negara lain (terutama AS), dinamika di pasar komoditas dan isu-isu geopolitik biasanya akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar.

Selama tahun ini, kinerja fundamental makroekonomi kita relatif positif yang semestinya mendukung stabilitas nilai tukar. Namun, karena perilaku investor portofolio sangat volatile maka pergerakan nilai tukar kini lebih ditentukan oleh demand and supply valas serta dinamika eksternal.

 
Berbagai kondisi tersebut menyebabkan investor memilih melepas investasi portofolio di Indonesia dan mengalihkannya ke instrumen investasi ke AS.
 
 

Dari sisi eksternal, banyak bank sentral negara lain telah menaikkan suku bunga acuannya (policy rate). Bank sentral AS, the Fed misalnya, selama 2022 telah menaikkan the Fed Fund Rate (FFR) sebesar 350-375 basis poin (bps) yaitu dari 0,25 persen (Januari 2022) menjadi 3,75-4,00 persen pada 3 November lalu.

Kenaikan FFR ini akan membuat instrumen investasi di AS lebih menarik dibanding di emerging market (EM). Tidak mengherankan bila selama 2022, gelombang arus modal keluar (capital outflow) terjadi hampir di sebagian besar EM.

Tingginya capital outflow di Indonesia, selain didorong oleh kenaikan FFR juga dipengaruhi kurang bergairahnya pasar modal akibat minimnya penerbitan instrumen baru (IPO, right issue, dan obligasi), terutama dari emiten berpengaruh (influential issuers). Tahun ini, cukup banyak emiten yang menerbitkan saham dan obligasi. Namun, sebagiannya bukanlah “big player” sehingga kurang mampu mempengaruhi minat investor asing.

Berbagai kondisi ini menyebabkan investor memilih melepas investasi portofolio di Indonesia dan mengalihkannya ke instrumen investasi ke AS. Berdasarkan kalkulasi saya, selama 9 bulan pertama tahun ini, Indonesia mengalami capital outflow sekitar Rp 161 triliun dari saham dan surat berharga negara dibanding posisi pada akhir 2021.

Di sisi lain, demand valas di dalam negeri juga tinggi, antara lain, tercermin dari kenaikan loan to deposit ratio (LDR) valas yang signifikan. Berdasarkan perhitungan saya, LDR valas pada Juli 2022 mencapai 87,89 persen naik signifikan dibanding posisi Desember 2021 sebesar 78,40 persen.

Kenaikan LDR valas ini memperlihatkan tingginya kebutuhan pembiayaan valas, di sisi lain supply valas cenderung stagnan. Selain itu, demand valas juga diperlukan untuk impor, repatriasi, dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

 
Kenaikan LDR valas ini memperlihatkan tingginya kebutuhan pembiayaan valas, di sisi lain supply valas cenderung stagnan.
 
 

Tahun ini, rasio ULN jangka pendek yang jatuh tempo meningkat signifikan. Hal ini terlihat dari rasio ULN jangka pendek yang jatuh tempo terhadap cadangan devisa yang naik dari 41,01 persen pada akhir Desember 2021 menjadi 48,89 persen pada Juni 2022.

Kita memiliki peluang untuk menarik kembali investor asing dan mendorong terjadinya arus balik modal asing (capital re-inflow) ke Indonesia. Indonesia relatif lebih menjanjikan dibanding negara EM lainnya.

Kuncinya adalah pendalaman pasar keuangan. Semakin banyak instrumen investasi diterbitkan, terutama dari influential issuers, tentu akan mendorong capital inflow dan menambah pasokan valas. Strateginya adalah, mendorong emiten dengan “nama besar” (termasuk blue-chip) masuk ke pasar modal. Salah satunya berasal dari BUMN.

Menjelang 2022 berakhir, terdapat sejumlah korporasi yang akan menerbitkan saham. Salah satunya berasal dari right issue BTN. Kemungkinan, right issue BTN ini akan ditunggu pasar. Selain nilainya cukup besar, sekitar Rp 4,13 triliun, BTN juga merupakan BUMN dengan reputasi dan kinerja baik yang tentunya akan menopang ketertarikan investor asing untuk membeli sahamnya.

Kita berharap aktivitas penerbitan instrumen pasar modal ini terus berlanjut. Tidak hanya saham, tetapi juga obligasi (korporasi). Momentumnya ada, karena ekonomi kita dalam kondisi baik. Kombinasi antara perbaikan fundamental ekonomi yang diikuti dengan pendalaman pasar keuangan ini, tentu akan menjadi amunisi bagi otoritas untuk mengarahkan nilai tukar rupiah pada level yang lebih baik. 

Teladan Ibnu Ummi Maktum

Keterbatasan fisik tidak lantas melemahkan ketaatan Ibnu Ummi Maktum kepada Allah dan Rasul SAW.

SELENGKAPNYA

Ratu Adil dari Masa ke Masa

Gerakan ratu adil di Indonesia memiliki sejarah panjang.

SELENGKAPNYA

Segera Tangani Cedera Olahraga

Penanganan cedera yang cepat dan tepat berperan penting untuk kesembuhan pasien.

SELENGKAPNYA