Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama para narasumber memberikan keterangan usai acara talkshow di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Ahad (9/10/2022). PDI Perjuangan menyalenggarakan talkshow dalam rangka memeriahkan perayaan HUT TNI Tahun 2022, serta m | Republika/Prayogi

Politik

PDIP: Maksud Jokowi Bukan Dukung Prabowo

Menurut Hasto, pernyataan Jokowi adalah upaya saling memuji antarpartai politik

JAKARTA — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto merespons pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut Pilpres 2024 sepertinya akan menjadi jatah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ia menilai, apa yang disampaikan Jokowi itu bukan merupakan sikap dukungan untuk Prabowo."Capres-cawapres yang mendukung kan rakyat melalui dukungan 50 persen plus 1 dan harus tersebar di 20 provinsi," kata Hasto, Rabu (9/11).

 

 

 

Pak Jokowi menaungi dan tentunya partai politik untuk saling memuji, saling membangun harapan dalam kontestasi menuju Pilpres 2024.

 

HASTO KRISTIYANTO Sekjen PDIP
 

 

Hasto yang ikut hadir langsung dalam acara HUT Partai Perindo pada Senin lalu mengatakan, acara itu dipenuhi dengan nuansa kegembiraan. Menurut dia, apa yang disampaikan Jokowi merupakan bagian dari memuji Prabowo dan partai politik untuk membangun harapan yang baik dalam Pilpres 2024.

"Pak Jokowi menaungi dan tentunya partai politik untuk saling memuji, saling membangun harapan dalam kontestasi menuju Pilpres 2024," ujarnya.

photo
Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kiri) dan Menteri Energi dan Infrastruktur UEA Suhail Mohammed Al Mazroei (kanan) setibanya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (1/7/2022). Kunjungan Presiden Jokowi ke UEA diantaranya untuk membahas kerja sama ekonomi dan investasi. - (ANTARA FOTO/HO/BPMI-Muchlis Jr/wpa/rwa.)

Hasto juga mengatakan, dalam kesempatan itu Presiden Jokowi mengungkapkan proses pemenangan di hadapan Prabowo Subianto. Sehingga, Jokowi kemudian meminta maaf kepada Prabowo karena menang dua kali dalam pilpres sebelumnya. Hasto menilai, hal itu bagian dari upaya Presiden Jokowi memuji Prabowo. "Jadi, itu sebagai bagian dari upaya untuk saling memuji. Itu yang dilakukan Pak Jokowi, tapi semua kita tahu bahwa untuk menjadi presiden itu, rakyat yang menentukan," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam acara HUT kedelapan Partai Perindo di Jakarta, Senin (7/11), menyinggung soal kemenangannya di setiap pemilihan umum, baik kepala daerah maupun pemilihan presiden. Ia pun kemudian menyampaikan permohonan maafnya kepada Prabowo yang juga turut hadir di acara ini.

Jokowi kemudian memprediksi Prabowo bisa memenangkan pilpres pada 2024. “Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo,” ujarnya. Seusai mendengar ucapan Jokowi tersebut, Prabowo pun berdiri dan memberikan hormat.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai pernyataan Jokowi sebagai guyonan serius. "Disebut guyonan, tentu karena Pak Jokowi memperlihatkan kedekatan personal antara beliau dan Pak Prabowo. Keduanya memang terlihat semakin akrab secara personal bahkan pada taraf saling respek. Serius karena hal itu seperti tantangan bagi Pak Prabowo untuk dapat menjadi RI 1, mengingat secara faktual karena memang hanya Pak Prabowo capres nonpemula," kata Ray, Rabu (9/11).

Ray menilai, pernyataan Jokowi tersebut tidak bisa dimaknai bahwa Jokowi sudah menjatuhkan pilihan politik kepada Prabowo. Siapa yang akan didukung Jokowi, menurutnya, masih lama untuk diputuskan."Paling jauh bisa dinyatakan bahwa Pak Jokowi ikut mendorong Pak Prabowo untuk ikut dalam capres 2024, tapi bukan berarti memihaknya," ujarnya.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menilai pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut saatnya giliran Prabowo Subianto menjadi presiden justru bukan memberi restu Prabowo, melainkan menyindir mantan pangkostrad tersebut. Sebab, ia menilai Jokowi seperti memamerkan keberhasilannya atas Prabowo yang telah tiga kali mencapreskan diri dan kalah.

 

 

 

Jokowi memamerkan kemenangannya dalam dua Pilpres 2014 dan 2019 di hadapan Prabowo.

 

AHMAD KHOIRUL UMAM Pengamat Politik Universitas Paramadina
 

 

"Jokowi memamerkan kemenangannya dalam dua Pilpres 2014 dan 2019 di hadapan Prabowo. Hal itu seolah ingin menunjukkan level capaian dan kelas politiknya yang jauh berbeda dibanding mereka yang kalah pilpres," kata Umam, Rabu (9/11).

"Ini seolah menjadi penting bagi dirinya untuk memamerkan capaian dan menunjukkan kelasnya yang berbeda jauh dibanding mereka yang kalah pilpres, yakni Prabowo dan Megawati itu sendiri," katanya menambahkan.

Padahal, ia berharap, seharusnya Jokowi paham dan lebih sensitif. Karena bagaimanapun capaian dia saat ini, karier politiknya tidak lepas dari peran Prabowo yang mendukungnya di Pilkada DKI Jakarta 2012. Termasuk juga peran Megawati yang mendukungnya di Pilpres 2014 dan 2019.

"Dalam tradisi Jawa, sebaiknya Jokowi kembali memahami nasihat ‘ojo dumeh’, jangan mentang-mentang. Karena di balik capaian dan prestasi kita, selalu ada peran orang lain di belakangnya," katanya. 

Indonesia Siap Terima Biden-Xi Jinping, Putin Belum Pasti

Hingga saat ini sudah ada 17 kepala negara/kepala pemerintahan yang menyatakan akan hadir pada KTT G-20.

SELENGKAPNYA

Persiapan Uji Dinamis Kereta Cepat

Menjalani uji dinamis (dynamic test) di sela penyelenggaraan Presidensi G20 pada 16 November.

SELENGKAPNYA

Kisah Saksi Mata Pertempuran Surabaya

Arek-arek Suroboyo yang rata-rata terdiri dari kaum santri itu mendapat bekal khusus dari para kiai.

SELENGKAPNYA