Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Nostalgia

Astaganaga, Masih Ada yang Mengucap 'Astajim'

Pada masa 1860-an juga ada pembahasan asal-usul dari kata astaga ini.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Beberapa hari lalu, Sekum Muhammadiyah mengomentari bahasa gaul "samlekom", "astajim", dan "yaowo". Kata-kata itu sampai hari ini masih sering dipakai di medsos-medsos.

Munculnya kata-kata itu bukan karena penggunanya kesulitan menyebut kata aslinya, melainkan karena keinginan menyingkat kata aslinya yang panjang. Kecuali, "yaowo" yang jika ditulis sesuai nama aslinya, lebih mengesankan pada ucapan dari kalangan Muslim. Tapi, justru di sinilah muncul masalah, sehingga pada 2015 pernah gempar karena ada permen yang menggunakan "yaowo" sebagai merek.

Sebagai langkah koreksi dari para orang tua atau guru di sekolah, pasti ada orang tua atau guru yang sering menegur anaknya atau muridnya ketika menggunakan ejaan yang salah itu. Lalu, meminta untuk menggunaan ejaan yang benar atau pengucapan yang benar dari astaga, "astajim", "samlekom", dan sebagainya.

Pada 1916, ketika Belanda akan menerbitkan koran berbahasa Melayu di Batavia, koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch Indie menyambutnya dengan ucapan, “Astaga pirlalah". Tidak ada penjelasan mengenai kata ini.

 
Ketika orang mengucap astaganaga, semata hanya menunjukkan ekspresi kekagetan.
 
 

Kata ini sudah sering dipakai dalam berbagai versi ejaan. Ada "astaga pirlula", "astaga perlah", "istaga pirlah", astaganaga, dan sebagainya. Tetapi, ketika orang mengucap astaganaga, semata hanya menunjukkan ekspresi kekagetan, tak ada makna yang terkandung di kata itu sebagaimana kata aslinya dalam bahasa Arab.

Dalam karya-karya Melayu klasik koleksi Australian National University (ANU), tidak bisa ditemukan kata astaga. Tapi, ada empat manuskrip yang memakai “astagfirullah” sebanyak sembilan kali dan 13 manuskrip yang memakai “astaghfirullah” sebanyak 24 kali.

Pada 1948, di Amsterdam terbit buku De Kinderen van Boeton Leon (Anak-anak Buton Leon). Dalam dialog-dialognya beberapa kali terucap astaganaga. “Astaganaga, sinjo Boy,” zei hij verbaasd. (“Astaganaga, sinyo Boy,” katanya keheranan).

Di halaman belakang buku ini ada keterangan tambahan mengenai kata-kata asing yang digunakan. Astaganaga diberi penjelasan sebagai kata seru menunjukkan rasa heran, tapi tak dijelaskan asal-muasal dari “astaghfirullah” menjadi astaganaga atau dalam versi lain ada juga “astaga nana”.

Ditarik jauh ke masa lalu, terjadi gempa di Banda pada 1890. Kejadiannya masih siang hari. Guncangan gempa membuat segala hal di dalam rumah berjatuhan dari tempatnya.

Lalu, koran De Locomotief di Semarang menulis komentar, “Untung kejadiannya masih terang. Jika itu terjadi malam hari, astaga nana, lampu minyak tanah akan jatuh, api besar akan menyala dan semuanya terbakar”.

Jika ditarik ke belakang lagi, ternyata kata astaga sudah digunakan pada 1860-an. Yang diucapkan pada masa ini adalah "astaga perlah". Pada masa ini juga ada pembahasan asal-usul dari kata astaga ini.

 
Orang-orang Belanda rata-rata mengalami kesulitasn mengeja tulisan dengan huruf Jawi yang banyak dipakai bangsa Indonesia.
 
 

Orang-orang Belanda rata-rata mengalami kesulitasn mengeja tulisan dengan huruf Jawi yang banyak dipakai bangsa Indonesia. Melayu Jawi adalah sebutan untuk huruf Arab gundul.

Maka, “astaghfirullah” yang berasal dari bahasa Arab dieja dengan begitu ragam. Ada yang menulis “astaga perlah”, ada pula yang menulis “astaga pirulah”. Ada pula yang menulis “astaga pirlula”.

Di Serat Centini yang ditulis 1814-1823 dan mulai diterbitkan oleh Belanda pada 1912, di Jilid 1 ada beberapa kali penyebutan “ngoedoe bilah” dan sekali penyebutan lengkap, tetapi juga dengan ejaan berdasarkan pengucapan lidah Jawa, “tangawoed angoedoe bilah minasetani radjim” (taawudz audzubillahiminasyaithonirajim). Di Serat Centini itu, “ngodoe bilah” dipakai sebagai kata seru, “ambengok ngoedoe bilah”. Ambengok artinya berteriak.  

Ada banyak kasus kegagalan lidah Jawa melafazkan kata-kata Arab selain kasus “ngudubilah”. Ada khairun menjadi “kirun”, afuwwun jadi “apem”, ya hayu ya qayum jadi “ya kayumu ya kayuku”. “Bismillah” jadi “semilah”. Nama-nama bulan Jawa juga hasil dari ambil jalan mudah dalam mengeja kata-kata Arab.

AB Cohen Stuart pernah membahas salah eja ini pada 1869, mengupas pengejaan yang dilakukan pada masa itu termasuk pengejaan yang dilakukan oleh PJ Veth. Penulis Belanda yang mempelajari bahasa Jawa Kuno dan Melayu dan meninggal pada 1876 ini merasa masygul jika kata seru “astaga perlah” yang digunakan Veth dipakai oleh orang-orang Arab.

 
AB Cohen Stuart pernah membahas salah eja ini pada 1869, mengupas pengejaan yang dilakukan pada masa itu.
 
 

“Orang-orang Arab biasa menyeru "istigfarallahi" (Tuhan semoga mengampuni!'), yang, katanya, ‘sebenarnya dikorup menjadi "istagaper-lah" oleh penduduk pribumi menurut Kamus Melayu Pijnappel’," tulis Cohen Stuart. Ia menduga partikel “lah” yang populer dalam bahasa Melayu merupakan tiruan dari bahasa Arab.

Cogen Stuart mencoba merunut sumber kesalahan. Ia meminta bantuan dari orang Jawa yang membantunya sebagai penulis. Orang Jawa ini mengejanya, lalu menulisnya, “astagfiroellohal-alim” dan melengkapinya dnegan artinya, "hamba memohon ampun pada Allah yang lebih agung pisan”.

Cohen Stuart mengucapkan kepada penulisnya itu dengan lafaz “astagafiroelloeh”. Lalu membandingkan pengejaan yang dibuat penulisnya itu dengan pengejaan di buku Roekoen Sembahjang, tertulis “astagfirullahal-adlima". Penulisnya yang orang Jawa menjelaskan “lah” dilafazkan “loh”, karenanya ia menulis “astagfirulloh”.

Penyusun kamus di Indonesia perlu bertindak hati-hati ketika akan mengambil kata-kata salah eja dari bahasa Arab. Jika telefoon dalam bahasa Belanda dieja menjadi “telepon”, penyusun kamus mengambil “telepon” sebagai kata baku untuk dicantumkan di kamus. Tapi tidak untuk kata astaga.

Kamus Besar Bahasa Indonesia I (KBBI I) yang terbit pada 1988 mencantumkan astaga sebagai bahasa percakapan. Di kamusnya yang diterbitkan pada 1953, WJS Poerwadarminta mencantumkan “astaga (-perlah)” sebagai bahasa percakapan yang dirujuk kepada “astagfirullah”.

Di dalam Nieuw Maleisch-Nederlandsch Woordenboek yang diterbitkan pada 1916, HC Klinkert mencantumkan astaga yang dirujuk kepada “astaghfiroellah” (ditulis dengan huruf Jawi). Lalu mencantumkan pula “istigrafar” yang diartikan “mohon ampun” dengan turunan “astagrafir oellah” yang beri keterangan “dalam bahasa Melayu dikorup menjadi astagapirlah atau juga astaga saja”.

Klinkert salah mengeja “istighfar” dalam huruf Jawi menjadi “istigrafar” dan “astaghfirullah” menjadi “astagrafirullah”.

Menurut Cohen Stuart, “astaga pirlah” yang diucapkan orang Belanda sama kasusnya dengan “audzubillah” yang diucapkan oleh orang Jawa menjadi “ngudu bilah”. Pengucapan yang salah dari bahasa Arab --seperti yang sekarang muncul "astajim", "samlekom", "yaowo", kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti (Republika.co.id, 28/10), “Itu dapat mengubah arti dan merusak keutamaan kalimat-kalimat tersebut.”

Banjir Bandang Kembali Terjang Pesisir Selatan Trenggalek

Sebanyak 3.200 jiwa terisolasi, akhirnya warga membuat jembatan darurat dari bambu

SELENGKAPNYA

Muhammadiyah Jatim akan Bangun Masjid di Spanyol

Setelah menjadi milik Muhammadiyah, bangunan tersebut akan diubah menjadi masjid.

SELENGKAPNYA