Warga dan suporter Arema FC (Aremania) berunjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Negeri Malang, Jawa Timur, Senin (31/10/2022). | ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Tajuk

Setelah Sebulan Tragedi Kanjuruhan

Dua tragedi ini sama-sama melibatkan polisi.

Ini Oktober kelabu. Diawali oleh tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. Tragedi ini menewaskan 135 pendukung Aremania. Di belahan dunia lain, ada sebuah gang sempit di kawasan Itaewon, Seoul, Korea Selatan, yang menjadi bottleneck seratusan ribu orang melintas. Akibatnya tragis: 154 orang tewas karena terdorong dan berdesak-desakan jelang tengah malam 29 Oktober lalu.

Dua tragedi ini sama-sama melibatkan polisi. Di Kanjuruhan, polisi diduga menjadi faktor utama yang memicu kepanikan suporter sehingga menumpuk di pintu gerbang stadion, setelah dihalau menggunakan gas air mata. Di Itaewon, ada ratusan polisi yang berjaga-jaga di kawasan itu, tapi luput mengawasi lalu lalang orang di gang maut itu. Keduanya menyiratkan problem yang sama: Tanggung jawab kontrol massa di satu lokasi dan satu waktu bersamaan.

Sebulan setelah tragedi Kanjuruhan, kasusnya belum tuntas. Banyak kejanggalan. Keluarga korban tetap gusar. Memang terasa ada yang mengganjal. Meskipun kita harus akui sudah banyak yang dilakukan oleh pemerintah, FIFA, liga sepak bola, PSSI, Polri, dan suporter sendiri.

Misal: Pemerintah masih menghentikan kompetisi. Alasannya untuk evaluasi seluruh stadion yang ikut liga. Stadion Kanjuruhan kabarnya akan dirombak, jadi lebih baik dan berstandar internasional.

 
Dua tragedi ini sama-sama melibatkan polisi.
 
 

Secara khusus, Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan datang ke Indonesia. Ia bertemu Presiden Joko Widodo. FIFA berjanji memberi pendampingan bagi PSSI untuk memastikan kompetisi berjalan sesuai standar internasional. Ajaibnya, tidak ada sanksi bagi Indonesia dalam tragedi sepak bola terburuk kedua di dunia ini. Pemerintah sukses melobi Infantino. Bahkan, dalam salah satu foto 'epik'-nya, Infantino terlihat tertawa senang diajak bermain sepak bola oleh pengurus PSSI.

Kemudian Polri pun sudah menetapkan enam tersangka, yakni Dirut PT Liga Indonesia Baru Akhmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Arema FC Abdul Haris, Security Officer Suko Sutrisno, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, dan Komandan Kompi Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman.

Pekan lalu, Polri bahkan menyatakan bakal ada tersangka baru dalam kasus ini. Selain para tersangka itu, sejumlah petinggi polisi daerah juga dicopot. Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta dan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat adalah dua perwira yang dicopot itu.

Sementara ketua PSSI, yang juga eks polisi, Mochamad Iriawan, terus didesak mundur oleh berbagai pihak. Mundurnya Iwan Bule, sapaan ketua PSSI, bahkan menjadi rekomendasi dari Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan yang diketuai Menko Polhukam Mahfud MD. Mahfud mengatakan, secara etika, ketua PSSI memang harus mundur. PSSI membalas hasil ini dengan menyatakan segera menggelar kongres luar biasa (KLB) yang kemungkinan pada Maret 2023.

 
Sementara ketua PSSI, yang juga eks polisi, Mochamad Iriawan, terus didesak mundur oleh berbagai pihak.
 
 

Bisalah kita sebut tragedi Kanjuruhan sebagai kesalahan membaca situasi di lapangan dan kesalahan prosedur pengamanan. Terutama: Mengapa harus menghalau dan mengusir Aremania menggunakan gas air mata? Ini pun polisi masih berdalih dan terus berkelit dengan menyatakan bahwa gas air mata bukan penyebab tewasnya suporter.

Pernyataan ini tentu saja menyesatkan. Benar bahwa suporter tewas bukan akibat gas air mata, melainkan karena kekurangan oksigen akibat berdesak-desakan. Namun, apa penyebab mereka berdesak-desakan? Karena mereka ingin segera keluar dari stadion yang penuh kabut gas air mata.

Terhadap hal ini, memang butuh perbaikan menyeluruh. Tentu kita mendesak PSSI dan LIB mengharamkan penggunaan gas air mata sebagai alat penghalau saat rusuh. Ini harus benar-benar ditegakkan.

Kedua, untuk menghindari keberingasan aparat terhadap suporter, butuh pihak ketiga dari sipil untuk menjadi penjaga pertandingan. Mereka ini dilatih secara khusus menghadapi suporter dan akan menjadi lapisan pertama, yang berhadapan langsung dengan pendukung klub bila terjadi kekacauan.

Kita berharap, segala usulan perbaikan sistem pengamanan pertandingan dan perbaikan stadion benar-benar dipatuhi. Namun, sebulan tragedi Kanjuruhan, kita justru merasa komitmen itu seolah kendur dan berkurang. Semoga ini kekhawatiran saja.

Demi Nol Emisi Karbon, Jatim Pangkas Pajak Kendaraan Listrik

Pemprov Jatim telah memberikan insentif pajak sebesar 90 persen untuk kendaraan berbasis listrik

SELENGKAPNYA

Pengembangan Tol Naikkan Wisata ke Pangandaran

Jalan tol dan layanan penerbangan diharapkan memudahkan kunjungan ke Pangandaran

SELENGKAPNYA

Menyambut Calon Jawara FFI 2022

Film yang tayang di layanan OTT dan film festival juga menjadi nominasi FFI 2022

SELENGKAPNYA