vp,,rm
Hikmah hari ini | Republika

Hikmah

Jalan Tobat

Beruntunglah mereka yang senantiasa menyegerakan dan memperbanyak tobatnya.

OLEH AGUS SOPIAN

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzanniy RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertobat 100 kali dalam sehari” (HR Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan sekaligus memotivasi kita agar senantiasa memohon ampun kepada Allah. Rasulullah SAW yang sudah dimaksum (terpelihara dari dosa) dan dijamin masuk surga pun tidak kurang dari 100 kali bertobat dalam sehari. Hal itu menunjukkan bahwa tobat merupakan perbuatan yang disenangi Allah.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah gembira menerima tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Tidak ada manusia yang luput dari berbuat salah dan dosa. Tua, muda, miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, semua pasti pernah melakukan dosa.

Meski demikian, Allah selalu menantikan manusia untuk datang kembali kepada-Nya, bersimpuh dan memohon ampunan-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (QS al-Baqarah: 222).

Allah Yang Maha Pengampun telah membuka pintu tobat seluas-luasnya. Beruntunglah mereka yang senantiasa menyegerakan dan memperbanyak tobatnya. Itulah salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Firman-Nya, “Dan bertobatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung” (QS an-Nuur: 31).

Sadarilah bahwa tidak ada sedikit pun kebaikan dari perbuatan dosa. Maka dari itu, saat kita sadar atas dosa dan kesalahan, maka segeralah bertobat. Sebab, manusia tak pernah tahu kapan maut menjemput. 

Jangan sampai terlena dengan panjangnya angan-angan. Merasa tak perlu segera bertobat karena masih muda dan badan masih sehat. Bahkan, ada orang yang dengan sadar melakukan dosa berulang-ulang hingga merasa perbuatannya biasa-biasa saja.

Padahal, dosa-dosa itu akan meninggalkan bekas yang sangat buruk. Rasa pahit yang tersisa darinya pun jauh berlipat ganda dari rasa manisnya.

Sungguh celaka dan merugi orang yang selalu terjerumus pada kemaksiatan dan sulit menyadari kesalahan. Mereka menunda-nunda tobat hingga akhirnya sampai pada waktu ketika tobat tak lagi diterima, yaitu saat ajalnya telah berada di ujung tenggorokan. Tobatnya dilakukan karena keterpaksaan, seperti tobatnya Fir’aun ketika tenggelam.

Fir’aun berkata, “Aku beriman bahwasanya tiada tuhan selain Tuhan yang diimani oleh bani Israil dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Allah menjawab, “Apakah sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Yunus:90-91).

Oleh karena itu, segeralah bertobat. Mudah-mudahan tobat itu bisa menutupi aib dan menebus dosa. Berlindunglah dan tundukkan wajah di hadapan-Nya dengan penyesalan yang sedalam-dalamnya. Tak ada yang bisa memadamkan api dosa kecuali air mata penyesalan yang tulus (tobat).

Wallahua’lam.

Tragedi Amir Sjarifuddin Sang Bendahara Kongres Pemuda

Amir Sjarifuddin adalah salah seorang otak Sumpah Pemuda 1928.

SELENGKAPNYA

Dari Sumpah Palapa Hingga Sumpah Pemuda

Sama dengan Sumpah Palapa Gajah Mada, Sumpah Pemuda pun bernilai idiologis, politis, dan mitologis.

SELENGKAPNYA

'Perlawanan' Gen Z

Tidak ada generasi yang dipertaruhkan terkait perubahan iklim seperti Generasi Z.

SELENGKAPNYA