Petani memetik cabai yang masih layak di Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, Selasa (18/10/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Opini

Anchor Company dan Wakaf Produktif

Anchor company jawaban atas upaya pengelolaan lahan wakaf secara profesional

RIFALDI MAJID; Dosen tetap prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro

Wakaf strategis mendukung sektor pertanian. Melalui sektor ini, pasokan pangan untuk menggerakkan roda ekonomi sektor lain berasal. Sayangnya, produktivitas pangan sangat dipengaruhi luas lahan pertanian sebagai penggerak utama faktor produksi.

Di lain hal, konversi lahan pertanian sulit terelakkan. Walhasil, diikuti motif ekonomi petani, lahan pertanian mau tidak mau harus dijual. Di samping itu, pertanian menyimpan risiko tinggi yang penuh ketidakpastian. Mulai dari iklim, harga, dan penyerapan hasil panen.

Sebagai instrumen sosial berkelanjutan, wakaf punya potensi dan peran strategis menyelesaikan tantangan ini. Hanya saja, implementasi peran wakaf terutama berupa lahan pertanian harus dibarengi rekayasa kelembagaan. Tujuannya, mengurangi risiko yang ada.

 
Implementasi peran wakaf terutama berupa lahan pertanian harus dibarengi rekayasa kelembagaan.
 
 

Implementasinya berupa penentuan  pihak yang terlibat, peranan, dan interaksinya dalam suatu model pengelolaan lahan wakaf. Tujuannya, mengoptimalkan pemberdayaan petani, menjaga stabilitas harga, dan memastikan tersalurnya hasil panen ke off-taker yang ditunjuk.

Harapannya, wakaf tak hanya menyelesaikan masalah pertanian dari sisi keterbatasan lahan tetapi juga hilirisasi yaitu terserapnya hasil panen petani oleh pasar. Di antara upaya merealisasikan pola rekayasa kelembagaan di atas adalah anchor company (AC).

Istilah itu digunakan Azizan dkk (2021) dalam artikel ilmiah mereka soal revitalisasi lahan wakaf untuk agribisnis. AC jawaban atas upaya pengelolaan lahan wakaf secara profesional, mengingat tak semua nazir punya kapasitas dan kapabilitas mengelola lahan pertanian.

AC bisa berasal dari tiga kategori institusi. Pertama, perusahaan pemerintah dalam hal ini BUMN yang berwenang dalam rantai nilai pertanian. Misalnya, Bulog atau PT Pupuk Indonesia. Mereka dilibatkan mengelola lahan pertanian di atas tanah wakaf skala menengah-besar.

Kedua, koperasi pertanian, yang menyerap hasil panen lalu diolah, dikemas, dan dijual ke pasar. Ketiga, UKM yang membutuhkan bahan baku pangan, diolah, dikemas, dan dipasarkan kepada konsumen. Kedua kategori ini bisa dilibatkan dalam pengelolaan skala kecil.

Dalam implementasi program, terdapat dua kerja sama yang dapat dilakukan AC dan nazir. Pertama, AC menyewa tanah wakaf dari nazir. Dengan skema ini, nazir memperoleh pendapatan tetap setiap tahunnya.

 
Dalam implementasi program, terdapat dua kerja sama yang dapat dilakukan anchor company dan nazir.
 
 

Kedua, AC yang ditunjuk nazir bermitra dengan nazir menggunakan akad musyarakah. Dengan skema ini, nazir mendapat peluang untung sekaligus menanggung risiko kerugian. Dalam mewujudkan program, AC melibatkan petani.

Untuk menghindari moral hazard dan inefisiensi, petani yang dilibatkan adalah yang tergabung dalam kelompok tani. Dalam hal ini, ada beberapa skema akad. Pertama, ijarah. Petani disewa tenaganya oleh AC.

Kedua, kerja sama pengelolaan tanah yaitu muzara’ah. Pada skema ini, bibit, benih, pupuk, dan semua alat serta kelengkapan pertanian disediakan AC. Petani hanya bertugas melakukan produksi dan pemeliharaan. Hasil panen dibagi persentasenya sesuai kesepakatan.

Ketiga, AC bisa membeli produk mentah petani, baik dengan jual-beli biasa pada umumnya atau skema Salam, di mana pembayaran oleh AC diberikan seratus persen di awal dan barang diserahkan petani saat panen sesuai kesepakatan.

Terinspirasi tulisan Azizan dkk (2021), terdapat beberapa tugas dan tanggung jawab AC. Pertama, AC bertindak selaku aktor utama dalam ekosistem yang memimpin dan mengelola proyek pertanian di atas tanah wakaf, dengan tetap berkoordinasi dengan nazir.

 
Bagi anchor company, selain memberdayakan dan menyerap hasil panen petani, kehadirannya menggerakkan rantai nilai pertanian.
 
 

Kedua, AC memastikan pasar atas produk yang dihasilkan petani. AC harus bekerja membentuk saluran distribusi dan menunjuk off-taker, baik atas produk petani maupun produk jadi yang sudah diolah dan dikemas AC.

Pada kesempatan lain, AC bertindak sebagai off-taker atas komoditas yang dihasilkan petani.

Ketiga, AC berkoordinasi dengan nazir membina petani, berupa pelatihan adopsi teknologi, penggunaan bibit, dan lainnya yang menunjang peningkatan kapasitas produksi.

Keempat, dalam mengembangkan lahan wakaf,  jika diperlukan AC menyediakan infrastruktur pertanian. AC bisa berkolaborasi dengan Kementan, Kemendag, Kemenkop UKM, dan BI. Dengan demikian, hadirnya AC mengakselerasi wakaf produktif di sektor pertanian.

Nazir yang belum/tidak memiliki kapasitas pengembangan lahan wakaf pertanian dan atau produk pertanian bernilai tambah, akan sangat terbantu. Tanah wakaf yang diikrarkan untuk pertanian yang mangkrak atau tak terkelola baik, potensial kembali diproduktifkan.

Bagi AC, selain memberdayakan dan menyerap hasil panen petani, kehadirannya menggerakkan rantai nilai pertanian. Semoga AC turut meningkatkan gairah wakaf di sektor pertanian dan angin segar implementasi wakaf produktif inklusif dan berkelanjutan.

Buah Menghargai Waktu

Menghargai waktu juga dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah dan berbuat kebaikan.

SELENGKAPNYA

Kekuatan Dakwah dan Doa

Bahwa dakwah kepada Allah harus selalu dibarengi dengan doa.

SELENGKAPNYA

Adab Berkendara dengan Sirene dan Lampu Isyarat

Bagaimana adab dan tuntunan syariah saat berkendara di jalan?

SELENGKAPNYA