Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa (kedua kanan) bersama Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara (kanan) menunjukkan barang bukti saat jumpa pers pengungkapan kasus narkotika jenis sabu-sabu di Mapolres Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (21/5/2 | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Nasional

Pengacara Sebut Irjen Teddy Otak Jaringan Peredaran Narkoba

Irjen Teddy mengaku kehilangan Rp 20 miliar dari kantong pribadi untuk menjebak Linda.

JAKARTA — Mantan kapolda Sumatra Barat Irjen Teddy Minahasa diduga menjadi otak dalam jaringan peredaran gelap narkoba yang melibatkan sejumlah anggota Polri. Hal itu diketahui berdasarkan keterangan saksi lainnya yang juga terjerat dalam kasus peredaran gelap narkoba Irjen Teddy.

"Saya pengacara keenam tersangka, jadi otomatis saya mendampingi pada saat pemeriksaan semuanya. Itu semuanya memberikan keterangan bahwa Bapak Teddy Minahasa-lah yang menjadi otak atas skenario semua rentetan peristiwa ini," ujar kuasa hukum tersangka AKBP Dody Prawiranegara bersama tersangka lainnya, Adriel Viari Purba, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (22/10).

 

 

Bapak Teddy Minahasa-lah yang menjadi otak atas skenario semua rentetan peristiwa ini

 

ADRIEL VIARI PURBA Kuasa Hukum AKBP Dody Prawiranegara dkk
 

 

Selain itu, kata Adriel, pihaknya mencium adanya kejanggalan dalam kasus yang melibatkan salah satu kliennya, AKBP Dody Prawiranegara. Ketika itu kliennya sudah tidak lagi menjabat sebagai kapolres Bukittinggi, tapi sebagai anggota Logistik Polda Sumatra Barat.

Kemudian, kejanggalan itu terjadi pada saat kliennya tetap diperintah untuk menjebak tersangka Linda.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Adriel Viari Purba (@adrielpurba)

"Kejanggalan, sangat janggal, sangat dibuat-buat, ini dugaan saya ya, sekali lagi ini semua penjelasan dari semua klien saya, saya sudah cross check klien saya semua. Saya kan selalu mendampingi," kata Adriel.

Adriel menjelaskan, tidak hanya kejanggalan soal perintah yang tak sesuai dengan tugas kliennya, tapi juga pihaknya mempertanyakan soal uang Rp 20 miliar yang dikeluarkan Teddy karena informasi palsu dari tersangka Linda. Menurut dia, Irjen Teddy sendiri mengaku kehilangan Rp 20 miliar dari kantong pribadinya untuk menjebak Linda.  

"Pak TM yang bilang bahwa menjebak Linda itu, dia itu tidak bersalah dan apa bisa polisi menjebak-jebak seperti itu, polisi berarti jahat dong bisa menjebak-jebak seperti itu. Katanya adanya mengait-ngaitkan Rp 20 miliar itu kan berarti urusannya pribadi, menjebak apakah itu benar? Dibenarkan di kacamata hukum kita?" kata Adriel.  

Sebelumnya, Irjen Teddy membuat tulisan bantahan yang disebar di media sosial. Dalam tulisan bantahan tersebut, dia menulis kronologi versinya terkait kasus yang menjeratnya. Bahkan, dalam tulisan itu, dia mengaku awalnya ditipu kemudian dituduh terlibat kasus pengedaran narkoba.

Selain itu, dalam bantahannya, dia juga menegaskan dirinya bukan pengguna narkoba. Adapun mengenai hasil tes urine yang positif, itu akibat obat bius saat menjalani perawatan gigi.

“Pada Kamis,13 Oktober 2022 sepulang dari RS Medistra, saya langsung ke Div Propam Mabes Polri untuk mengklarifikasi tuduhan bahwa saya ‘membantu’ mengedarkan narkoba. Jam 19.00 saya diambil sampel darah dan urine. Ya pasti positif karena dalam obat bius (anastesi) terkandung unsur narkoba,” tutur Irjen Teddy dalam surat bantahannya.

 

 

Ya pasti positif karena dalam obat bius (anastesi) terkandung unsur narkoba.

 

IRJEN POL TEDDY MINAHASA 
 

 

Kemudian, terkait tuduhan sebagai pengedar narkoba, Irjen Teddy menuliskan, pada sekitar April-Mei, Polres Kota Bukittinggi mengungkap kasus narkoba sebesar 41,4 kg. Pemusnahan barang bukti dilakukan pada 14 Juni 2022.

Lalu, saat proses pemusnahan barang bukti ini, Kapolres Kota Bukittinggi beserta orang dekatnya melakukan penyisihan barang bukti narkoba tersebut sebesar satu persen untuk kepentingan dinas.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Pada 20 Oktober 2022, lanjut Irjen Teddy, Kapolres Kota Bukittinggi terkena mutasi. Hal ini tentunya membuat kekecewaan yang mendalam oleh Kapolres Kota Bukittinggi saat itu. Karena, ekspektasinya adalah dapat prestasi dan bisa dinaikkan pangkatnya menjadi Kombes seiring dengan rencana kenaikan tipe Polres Kota Bukittinggi.

“Saya sebagai kapolda disebut telah memberikan perintah penyisihan barang bukti narkoba tersebut,” ujar Irjen Teddy menjelaskan. 

photo
Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa (kedua kiri) didampingi Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara (kedua kanan), Diresnarkoba Polda Sumbar Kombes Pol Rudi Yulianto (kiri) dan Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Satake Bayu (kanan) saat ungkap kasus narkotika jenis sabu-sabu di Mapolres Bukittinggi, Sumatra Barat, Sabtu (21/5/2022). Polres Bukittinggi mengamankan sabu-sabu sebanyak 41,4 kilogram senilai Rp 62,1 miliar di wilayah hukumnya dari delapan orang tersangka yang diduga akan diedarkan di Bukittinggi dan sekitarnya hingga ke Pulau Jawa. - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

 

Polda Metro Jaya Bantah Klaim Teddy Minahasa

Ombudsman RI mengusulkan agar semua anggota Polri menjalani tes urine secara berkala.

SELENGKAPNYA

Sakit Gigi, Alasan Teddy Minta Pemeriksaan Ditunda

IPW mendukung ketegasan Kapolri dalam pemberantasan narkoba.

SELENGKAPNYA

Semua Polisi Terlibat Kasus Teddy Di-nonjob-kan

Para anggota Polri yang terlibat peredaran gelap narkoba itu telah dilakukan penempatan khusus di Polda Metro Jaya.

SELENGKAPNYA