Sejumlah pelajar mengunjungi Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2019). | Republika

Kronik

Bahasa Indonesia, Warisan Sumpah Pemuda

Tersebar luasnya bahasa Melayu merupakan salah satu faktor penting menumbuhkannya.

LUKMAN ALI

"Bahasa ini bernama bahasa Melayu, amat termasyhur dan dipandang sebagai bahasa yang terhalus dan terbaik untuk seluruh daerah timur," kata Jan van Linschoten, seorang pengembara Belanda abad ke-16 yang pernah berlayar ke Indonesia.

Dikatakannya bahwa orang Melayu sangat bangga dengan bahasanya ini. Barang siapa yang ingin dipandang sebagai orang yang punya peradaban, dia harus pandai berbahasa Melayu, seperti orang Eropa harus pandai berbahasa Prancis (M.G. Emeis, Bunga Rampai Melayu Kuno, Jakarta, 1952).

Kekaguman Linschoten ini menolehkan ingatan kita sekilas kepada bahasa Melayu yang lebih tua, sebagaimana yang terdapat pada batu-batu bertulis (prasasti) masa Sriwijaya di berbagai tempat di Sumatra dan Jawa mulai dari abad ke-7, seperti antara lain Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Baru, Karang Berahi, Jebung (Sumatra Selatan), Padang Roco, Bukit Gombak (Sumatra Barat), Kebon Kopi (Jawa Barat), Dieng, Sojomerto, Gandasuli, Candi Sewu, dan Buka Teja (Jawa Tengah). Demikian Harimurti Kridalaksana (ed.), dalam bukunya, Masa Lampau Bahasa Indonesia, 1991.

Bahasa Melayu dalam prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa (berasal dari India). Contoh dari Kedukan Bukit tahun 683 (setelah dilatinkan) yang kita kutip dari buku Emeis di atas, misalnya, ''... Di saptami syuklapaksa wulan Jyestha dapunta hiyang merlepas dari Minanga Tamwan mamawa yang bala dua laksa dengan ... dua ratus tsyura di sambau dengan jalan seribu telu ratus sepuluh dua wanyaknya. Datang di Matajap sukacita''.

Terjemahannya lebih kurang, ''... Pada tujuh bulan terang dari bulan Jyestha baginda berangkat dari Muara Tamwan membawa bala dua laksa dengan dua ratus pawang di kapal dengan jalan kaki seribu tiga ratus dua belas wanyaknya. Datang di Matajap sukacita.''

 
Dikatakannya lebih lanjut bahwa orang Melayu sangat bangga dengan bahasanya ini.
 
 

Titiklah kata-kata Melayu dalam prasasti itu yang masih digunakan sekarang (yang dicetak miring). Lihat pula pengaruh bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Inilah periode awal bahasa Melayu yang baru sempat diketahui. Dengan datangnya Islam, bahasa ini terlihat lebih luas lagi penyebarannya, terutama di Aceh dan Riau.

Naskah-naskah Melayu ditulis dalam huruf Arab (Arab-Melayu, Jawi), tidak hanya dalam hubungan perdagangan internasional dan hubungan diplomatik, tapi juga dalam karya sastra yang jumlahnya ratusan naskah. Lihat Catalogus der Maleische en Minangkabausche Handschriften, Leiden, 1921, yang disusun oleh van Ronkel.

Berikut ini adalah sebuah contoh dari Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri (1606-1636) yang sudah bernada Islam: "Wujud Allah nama perahunya, Ilmu Allah akan dayungnya, Iman Allah nama kemudinya, Yakin akan Allah nama pawangnya".

Pengaruh bahasa Jawa terlihat pula seperti dalam Sejarah Melayu yang ditulis kira-kira dalam abad ke-16, "Manira datang ini hendak minta janji andika dengan manira, hendak mendudukkan manira dengan anakda."

Tidak tertutup kemungkinan bahasa-bahasa daerah lainnya, dan juga bahasa asing, ikut mempengaruhi bahasa Melayu Kuno ini. Di belahan bagian timur Indonesia, bahasa Melayu pun berkembang sesuai dengan arus pelayaran perdagangan yang mempunyai dua basis, yaitu Malaka di bagian barat dan Maluku di bagian timur dengan segala variasinya, antara lain Ambon, Manado, Banjar, Makassar, Kupang, Ternate, dan Tidore (perhatikan pidato Muhajir dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Fakultas Sastra UI., 1994).

Di samping itu, pelayar-pelayar asing dari Eropa yang selain bermaksud berdagang juga sekaligus menyiarkan agama Kristen (Katolik dan Protestan) dan kemudian terutama sebagai penjajah, tidak kurang pula minat mereka terhadap bahasa Melayu yang mereka lihat amat besar peranannya sebagai media perhubungan di wilayah Asia Tenggara.

Pigafetta, seorang Italia pengikut pelayaran Magelhaens keliling dunia sekitar awal abad ke-16, amat berjasa bagi penjajah Spanyol dan penjajah Barat lainnya, dengan membuat sebuah daftar kata Melayu yang terdiri atas 456 kata dan ungkapan yang disebutnya Vocabuli de Questi Populi Mori, yaitu daftar kata yang dipakai orang Islam.

Sejumlah contoh: Alla (Allah), Naceran (Nasrani), musulman (muslimin), caphre (kafir), bapa, mama, horan (orang), dauat (dawat, tinta), biritan (buritan), sanpan (sampan), giorobaza (jurubahasa), suda babini (sudah berbini), satus (satu), duolappan (delapan), sapolo (sepuluh), saratus (seratus), salibu (seribu), salacza (selaksa, sepuluh ribu), sacati (seketi, seratus ribu), dan sainta (sejuta). Lihat selanjutnya bagian dalam artikel C.C.F.M Le Roux, "Pigafetta's Maleische woordenlijst" dalam Feestbundel, deel II, Weltevreden, 1929, yang disusun dalam rangka memperingati KBG 150 tahun.

 
Pigafetta, seorang Italia pengikut pelayaran Magelhaens keliling dunia sekitar awal abad ke-16, amat berjasa bagi penjajah Spanyol dan penjajah Barat lainnya.
 
 

Tanpa kesukaran kita dapat mengenali pula kata-kata Melayu yang disusun tahun 1522 di Tidore itu, yang sampai sekarang masih tetap digunakan. Pigafetta menuliskannya tentu sesuai dengan pendengarannya dan dalam ejaan Itali masa itu.

Tersebar luasnya bahasa Melayu inilah merupakan salah satu faktor penting, di samping faktor lainnya, yang akhirnya dapat menumbuhkannya dari "sekadar lingua franca" menjadi bahasa yang didukung secara nasional. Para cendekiawan muda, yang lahir sekitar awal abad ke-20 antara lain M Yamin dan Sutan Takdir Alisjahbana, memperjuangkannya menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia melalui ikrar Sumpah Pemuda (1928).

Perkembangan ini bagai tak tertahankan dan Belanda tak berdaya "mencekal"-nya. Sikap penjajah Jepang yang antibahasa asing Barat telah ikut memberikan pupuk bagi pertumbuhan bahasa Indonesia sesuai dengan kepentingan penjajahannya. Para pencinta bahasa Indonesia memanfaatkan kesempatan ini.

Bagaimana bahasa Indonesia sesudah proklamasi, terutama setelah didudukkannya sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36, Bab XV, UUD 1945? Yang pasti usaha pembakuannya dalam segala aspeknya dilancarkan dengan penuh kecintaan seperti dalam bidang ejaan, tata bahasa, kosakata dan istilah, kecuali bidang lafal dan lagu kalimat (intonasi) yang belum terjamah secara sungguh-sungguh dan menyeluruh karena kondisi keragaman variasi yang prioritas pembakuannya belum sangat mendesak, walaupun kedua aspek ini dirasakan sering pula menimbulkan kekacauan.

Dalam usaha penyempurnaan ejaan tak dapat kita lupakan usaha dua orang menteri P dan K yaitu Mr Soewandi yang menetapkan ejaan baru (disebut juga "Ejaan Republik") tahun 1947, sebagai hasil peninjauan kembali ejaan Ophuysen. Kemudian "Ejaan Soewandi" ini disempurnakan lagi oleh Mashuri SH tahun 1972, dan ditetapkan oleh Presiden dengan sebutan "Ejaan Yang Disempurnakan" (EYD).

Tetapi sebenarnya ini lebih tepat lagi bila disebut "Ejaan Mashuri" karena Mashuri betul-betul berjuang keras membakukan ejaan itu dengan melalui kecaman-kecaman yang diterimanya dari berbagai pihak, baik secara politis maupun teknis linguistik.

 
Tersebar luasnya bahasa Melayu merupakan salah satu faktor penting, yang akhirnya menumbuhkannya dari "sekadar lingua franca" menjadi bahasa yang didukung secara nasional.
 
 

Hal sesulit ini tidak dialami oleh Soewandi karena memang situasi kenegaraan berbeda ketika keduanya memperjuangkan pembaharuan ejaan. Kalau kita punya "Ejaan Ophuysen", dan "Ejaan Soewandi", tentu bukanlah tidak tepat kita sebut pula "Ejaan Mashuri".

Usaha-usaha dalam bidang lainnya tak kurang pula gencarnya dengan maksud memantapkan bahasa Indonesia. Tata bahasa disusun sesuai dengan apa yang disepakati dalam Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954), bahwa bahasa Indonesia berdasarkan bahasa Melayu yang telah dikembangkan.

Jadi, tidak lagi murni bahasa Melayu seperti di Riau misalnya, tetapi telah menjadi bahasa modern. Sutan Moh. Zain dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah dua nama yang tak dapat dilupakan begitu saja dalam usaha pembaharuan tata bahasa mulai dari zaman sebelum penjajahan Jepang.

Penciptaan istilah dan penyusunan kamus-kamus (Indonesia-Indonesia, Indonesia-Daerah dan sebaliknya, Indonesia-Asing dan sebaliknya, kamus-kamus istilah berbagai bidang ilmu, kamus singkatan dan akronim), yang selalu tetap menjadi masalah, dipergiat.

Itulah sebagian dari nikmat kemerdekaan yang telah mendorong kita secara sadar untuk membina bahasa nasional kita dengan penuh kecintaan, yang tampak dalam bidang sosial budaya, walaupun di sana-sini juga terjadi gangguan yang kalau kita biarkan bisa menimbulkan kerusakan lebih jauh. Misalnya kebingungan orang tentang intonasi para penyiar radio dan TV.

 
Gangguan serius pernah terjadi, misalnya oleh tumbuhnya sikap apatis dan sinis yang meragukan kemampuan komunikasi.
 
 

Gangguan serius pernah terjadi, misalnya oleh tumbuhnya sikap apatis dan sinis yang meragukan kemampuan komunikasi. Bahasa Indonesia diperguraukan dengan kesan "menghejan-hejan" atau dengan niat "mencari-cari" kekurangan.

Lahirnya istilah atau kosakata, singkatan dan akronim, seakan-akan tak wajar sehingga timbul reaksi ketakberterimaan. Atau setiap ajakan pembinaan, umpamanya agar dominasi bahasa asing dihilangkan dalam bahasa Indonesia, dijawab dengan lebih banyak mengerahkan bahasa asing itu dalam berbagai bidang. Jelas bukan inilah yang kita inginkan.

Pada taraf awal, Menteri P. dan K., Wardiman Djojonegoro telah melakukan gebrakan untuk mengatasi masalah tersebut, yang hasilnya telah mulai tampak sedikit demi sedikit. Akhirnya dapat dikatakan, 50 tahun kemerdekaan telah mewariskan pula tanggung jawab budaya terhadap penumbuhan bahasa nasional dengan baik sebagai milik dan produk budaya itu sendiri.

Disadur dari Harian Republika edisi 7 Agustus 1995

*Lukman Ali (25 Desember 1931–19 Desember 2000) adalah seorang ahli bahasa, sastrawan dan diplomat Indonesia

Menjadi Penerang Saat Dunia Suram

Indonesia sebagai titik terang saat ekonomi dunia suram.

SELENGKAPNYA

APBN Sebagai Peredam Guncangan

Pemerintah bergerak cepat merespons dinamika global dengan mengubah postur APBN 2022.

SELENGKAPNYA

Si Pitung, Bang Puase, dan Nyai Dasima

Pitung dan kawan-kawan menyatakan perang terhadap kompeni, dendam yang telah ia wariskan sejak kecil.

SELENGKAPNYA