Sinyal konektivitas (ilustrasi) | Unsplash/Jadon Kelly

Inovasi

Mengenal IPv6 untuk Konektivitas Makin Mumpuni

Menggunakan IPv6 memungkinkan kecepatan lebih stabil dan keamanan konektivitas yang lebih baik.

Membangun cita-cita Indonesia 4.0, tak bisa dipisahkan dari perlunya infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menunjang era Smart City dan Internet of Things (IoT). Pondasi konektivitas yang mumpuni juga tak lepas dari rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara yang cerdas dan percepatan transformasi digital.

Pada Senin (10/10), di Jakarta, para pemangku kepentingan dalam ekosistem digital menggelar ‘IPv6 Switch ON’. Kegiatan ini,  diselenggarakan untuk menggaungkan penerapan teknologi IPv6 Enhanced oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI) yang didukung oleh seluruh ekosistem digital.

Mulai dari, perwakilan asosiasi industri, operator, provider teknologi hingga akademia, seperti Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), dan Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI).

IPv6 atau Internet Protocol versi 6 merupakan versi terbaru dari IP Address yang kini menjadi pengganti dari versi IPv4. Versi IPv6 juga disebut sebagai Internet Protocol Next Generation (IPng).

Versi IPv6 menggunakan alamat 128-bit, yang terdiri terdiri dari delapan kumpulan angka dan huruf yang masing-masing merupakan representasi desimal 16 angka biner. Momentum peralihan dari teknologi IPv4 ke IPv6 Enhanced ini diharapkan menandai percepatan perkembangan aplikasi dan perangkat berbasis IPv6 yang mendukung lompatan-lompatan transformasi digital ke depan. Terutama, di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi.

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika, Dr Ir Ismail menjelaskan, tren transformasi digital telah berlangsung dan akan meningkat secara eksponensial di berbagai sektor. Oleh karena itu, menurutnya, perlu dukungan kuat yang melibatkan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan.

Mulai dari, pemerintah, asosiasi industri dan operator yang dalam gelaran konferensi IPv6 Switch On ini yang diinisiasi ASIOTI dengan menampilkan demo live jaringan dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan edukasi IPv6 enhance yang didukung Huawei.

“Saya percaya inisiatif ini akan memberikan keyakinan kita untuk menghadapi tantangan dan mengarahkan pada strategi transformasi digital yang lebih baik,” ujar Ismail, dalam keterangan pers yang diterima Republika.

Senada, Ketua ASIOTI, Teguh Prasetya menjelaskan, saat ini ekosistem industri telah siap dengan sejumlah perangkat IOT telah memenuhi standar IPv6. Jumlahnya pun terus bertambah dari waktu ke waktu.

“Infrastruktur TIK yang siap IPv6 akan menciptakan kesempatan lebih banyak dan massif untuk transformasi digital di masa mendatang. Dalam gelaran ini, kami menampilkan demo pengalaman nyata IPv6 Enhanced berkat dukungan IOH dan Huawei demi memberikan user experience yang lebih baik,” ujar Teguh.

Ada banyak keuntungan yang bisa dirasakan pengguna, ketika beralih menggunakan IPv6. Pertama, adalah mampu mengakomodir lebih banyak perangkat dari satu titik akses. Apabila, biasanya satu titik akses dapat digunakan untuk 10 perangkat, maka pada IPv6, teknologi ini dapat memberikan kecepatan yang sama namun dengan jumlah perangkat mencapai dua kali lipat.

Selain itu, faktor keamanan juga menjadi keunggulan bagi IPv6 karena, masing-masing alamat dari IP address-nya jelas. Sehingga komunikasi antarperangkat pun menjadi lebih aman.

Berbagai faktor ini, Ismail menjelaskan, akan sangat mendukung komunikasi antarperangkat dengan lebih cepat dan terjangkau. “Tentunya, dalam upaya pengembangan smart city dan pengembangan teknologi 5G di masa depan,” ujarnya.

Tren global

photo
Kecepatan internet (ilustrasi) - (Unsplash/Frederik Lipfert)

Peralihan dari teknologi IPv4 ke IPv6 adalah tren global di mana negara-negara maju telah memulainya lebih awal. Peralihan ini sangat berpengaruh terhadap peta transaksi elektronik sekaligus menentukan arah perkembangan aplikasi dan perangkat menjadi berbasis IPv6.

Statistik periode 1992 hingga 2009 menunjukkan, jumlah domain .com dunia mencapai 80 juta situs. Dengan memperhitungkan posisi Indonesia saat ini, khususnya dalam menopang pertumbuhan ekonomi negara, menjadikan percepatan penerapan IPv6 di Indonesia menjadi kebutuhan yang mendesak.

Ketua IPv6 Enhanced (IPE), Prof Latif Ladid menjelaskan, adopsi IPv6 adalah tren global yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, banyak negara yang kini mendorong pengembangan IPv6. “IPv6 Enhanced adalah salah satu landasan utama yang akan membantu digitalisasi pada semua sektor industri dan mendorong perkembangan ekonomi digital,” ujarnya.

Saat ini, Latif menambahkan, pentingnya IPv6 juga semakin dipahami negara-negara di dunia, yang kemudian mendorong dirumuskannya kebijakan-kebijakan terkait. Salah satunya, aliansi IPE yang aktif dan menyerukan pengembangan dan inovasi di bidang IPv6 ini telah memiliki lebih dari 90 anggota.

Sejak 2021, IPE juga telah menjajaki kegunaan IPv6 Enhanced di teknologi 5G, cloud, dan pusat data. Saat ini, IPE juga telah membentuk kelompok kerja untuk melakukan berbagai riset terkait penguatan teknologi berbasis IPv6.

“Diharapkan Pemerintah Indonesia, operator, akademisi, pelaku industri Over the Top (OTT), pabrikan terminal dan pemangku kepentingan lainnya bergabung dalam kelompok kerja IPE untuk bersama-sama menuntun arah teknologi digital di masa depan,” ujarnya. 

 

 

 

IPv6 Enhanced adalah salah satu landasan utama yang akan membantu digitalisasi pada semua sektor industri.

LATIF LADID, Ketua IPv6 Enhanced (IPE)
 

 

Rahasia dan Keutamaan Surah Hawamim

Rasulullah SAW berpesan bacalah surah-surah hawamim.

SELENGKAPNYA

Imunoterapi, Harapan Baru Pasien Kanker

Tidak semua jenis kanker paru, kanker payudara, maupun kanker serviks dapat ditangani dengan imunoterapi.

SELENGKAPNYA

Sponsor Kegiatan dari Dana Nonhalal

Dana tersebut bukan haram karena fisiknya, melainkan karena pihak dan sebab tertentu.

SELENGKAPNYA