Tim dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) | Erdy Nasrul/Republika

Khazanah

06 Oct 2022, 23:01 WIB

Dosen Umsida Temukan Teknologi Telusur Kontak Covid-19

Temuan dosen Umsida ini mendeteksi keberadaan masyarakat yang tidak membawa ponsel dengan scan EKTP.

 

Tim dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Jawa Timur meneliti cara menelusuri kontak orang-orang terpapar Covid-19. Penelitian ini menghasilkan alat (device) yang di dalamnya dilengkapi dengan aplikasi penelusuran kontak. Temuan ini memudahkan orang untuk cepat bersikap ketika mengetahui pernah berhubungan dengan orang-orang yang terpapar Covid-19.

Ketua penelitian tersebut Irwan Alnarus Kautsar menjelaskan alat ini memiliki kekhasan tersendiri, khususnya untuk mendeteksi kemana saja seseorang yang tidak membawa smartphone pergi dan berada, seperti pasar, pertokoan, perkantoran, universitas, sekolah dan pusat keramaian lainnya.

“Misalkan si A tak membawa ponsel saat bepergian. Kemudian masuk ke gedung N. Sebelum masuk ke dalam, petugas gedung menggunakan alat ini yang menyerap data E-KTP si A,” ujar dia.

NIK warga tersebut akan terekam dalam server. Data NIK ini nantinya akan tersimpan di server lokal. Server pemerintah bisa mendapatkan akses untuk mengakses data tersebut. Nantinya juga bisa diakses oleh berbagai kementerian dan instansi kesehatan.

Ketika si A ternyata bertemu dengan orang terpapar Covid-19, maka alat tersebut akan memberikan notifikasi (peringatan) kepada yang bersangkutan. Dari sini si A akan melakukan isolasi diri dan pengobatan secara mandiri.

“Alat temuan ini mencegah pembobolan data oleh peretas seperti Bjorka,” ujar Irwan. 

Peretas akan kesulitan untuk membobol server, karena data tidak terpusat pada satu server. Meski, misalkan, peretas membobol data server pusat, dia belum tentu bisa membobol data di server lain. “Ini adalah desentralisasi data yang mempersulit, bahkan mempersempit ruang hacker,” ujar Dosen Umsida ini.

Irwan menjelaskan, penelitian ini terinspirasi dari aplikasi penelusuran kontak yang diterapkan Pemerintah Singapura. Sementara itu, pemerintah Indonesia menggunakan sistem pedulilingungi untuk menelusuri kontak orang yang terserang Covid-19. Namun, sistem ini berpatokan pada Qrcode yang di-scan menggunakan aplikasi ponsel. 

Aplikasi penelusuran kontak semacam itu umumnya memanfaatkan teknologi jaringan internet untuk merekam secara langsung pergerakan individu. Hal ini terdapat beberapa kelemahan dan bahkan menimbulkan masalah baru. Yaitu, tidak dapat diaplikasikan pada individu yang tidak memiliki ponsel cerdas atau bahkan individu yang memiliki alat itu, namun tidak mengaktifkan jaringan internetnya.

Orang dengan keterbatasan alat semacam itu, misalkan mendatangi berbagai area tanpa terdeteksi apakah bertemu dengan orang-orang yang terpapar Covid-19 atau tidak. Alat temuan tim dosen Umsida ini melengkapi kekurangan tadi, dan menguatkan komitmen pemerintah untuk melindungi warga dari paparan virus tersebut.

Penelitian ini didanai oleh LPDP dan Kemendikbud Ristek melalui skema riset keilmuan. Tim Dosen Umsida merancang bangun platform tersebut yang hingga kini bisa dimanfaatkan. ';

×