Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. | ANTARA FOTO

Ekonomi

Dukung Isu Lingkungan Lewat Ekonomi Syariah  

BI menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan.

OLEH LIDA PUSPANINGTYAS 

Pertumbuhan ekonomi perlu diukur dari indikator yang berbeda pada masa kini. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, perkembangan ekonomi tidak bisa hanya diukur dengan angka-angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) saja. 

"Kita harus ubah cara pengukuran perkembangan ekonomi hanya dari pertumbuhan PDB saja. Kita harus mengikuti aturan Allah SWT, pertumbuhan ekonomi tidak dengan menghancurkan bumi," kata Perry dalam pembukaan The 8th International Islamic Monetary Economics and Finance Conference secara daring, Rabu (5/10). 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bank Indonesia (@bank_indonesia)

Perry mengatakan, pertumbuhan ekonomi juga harus menjaga keberlangsungannya pada masa depan. Perkembangan yang memikirkan dampak lingkungan serta kemaslahatan umat manusia harus menjadi inti dari pertumbuhan itu sendiri. 

Menurut dia, pandemi Covid-19 telah membawa banyak pelajaran untuk mengubah fokus ekonomi global pada kebaikan universal. Maqashid syariah yang ditawarkan oleh ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi contoh untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

"Kita tidak bisa mencapai pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan kerusakan. Lihat saat ini seluruh dunia mengalami masalah stagflasi, inflasi tinggi, dan 20 persen sumber daya dimonopoli," katanya. 

Maka dari itu, perlu ekonomi yang inklusif dan universal. Hal itu berlaku bagi semua kalangan demi menciptakan ekonomi berkelanjutan. Perry mengatakan, dunia tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar, karena itu peran pemerintah diperlukan untuk memperkuat distribusi kekayaan.

 
 
Bagian tersulit adalah bagaimana kita pertahankan ini. Kita menciptakan efisiensi sehingga bumi lebih hijau, inklusif, tapi tetap produktif.
 
 

Selama sekitar 2,5 tahun masa pandemi, seluruh dunia juga dipaksa untuk melakukan inovasi sebagai bentuk adaptasi. Menurut dia, digitalisasi adalah buah pelajaran bahwa Allah mengajarkan manusia untuk inovatif dan efisien. 

"Bagian tersulit adalah bagaimana kita pertahankan ini. Kita menciptakan efisiensi sehingga bumi lebih hijau, inklusif, tapi tetap produktif," katanya. 

Perry juga mengatakan, perkembangan ekonomi berkelanjutan tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Menurut dia, kekuatan berjamaah sangat penting. Ia menekankan, hal itu yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mencapai ketahanan ekonomi. 

BI menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan. Contohnya, BI menggandeng pesantren-pesantren di seluruh Indonesia serta kementerian dan lembaga untuk meningkatkan kapasitas ekonomi nasional. "Ketika kita ingin meningkatkan kesejahteraan umat, maka berbagai usaha kebaikan harus dikorporatisasi dan berjamaah," katanya. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by #JalanKemuliaan (@badanwakafindonesia)

Pengembangan ekonomi syariah untuk mendukung pelestarian lingkungan juga telah dirintis melalui instrumen wakaf. Instrumen keuangan sosial syariah itu diharapkan dapat menjadi solusi sumber dana murah. 

Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Imam Teguh Saptono mengatakan, kenaikan harga BBM yang sangat berdampak pada ekonomi masyarakat telah menjadi pengingat untuk mencari sumber energi terjangkau dan berkelanjutan.

"Yang salah saat ini adalah sistem ekonominya yang membuat energi fosil seakan jadi lebih murah dibandingkan energi matahari, angin, bahkan tumbuhan dan sumber energi terbarukan lainnya," katanya. 

Gagak di Langit Yogya dan Kisah Perlawanan TNI

Agresi militer kedua Belanda difokuskan di Yogyakarta sebagai ibu kota negara.

SELENGKAPNYA

Adisucipto dan Serangan Biadab Saat Ramadhan

Setelah gugur, Adisucipto dinobatkan sebagai bapak penerbangan Indonesia.

SELENGKAPNYA

Mengapa Soedirman Jadi Panglima?

Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah.

SELENGKAPNYA