Pasangan pengantin melakukan sesi foto saat Nikah Massal di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Kamis (31/3/2022). Menjelang bulan suci Ramadhan 1443 H, DKM Masjid Al Ukhuwah bekerja sama dengan pihak swasta menggelar pernikahan massal ba | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Tasawuf

Filosofi Seksual dalam Alquran (1)

Hubungan seksual harus disertai dengan kesadaran emosional-spiritual

OLEH PROF KH NASARUDDIN UMAR

“Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS al-Baqarah [2]:187).

Islam dan kelompok agama samawi lainnya (Yahudi dan Nasrani) menganggap kehidupan seksual sebagai sesuatu yang mulia, suci, dan sakral. Secara spiritual, hubungan seksual menurut ketiga agama ini digambarkan sebagai “peniruan” peran Tuhan sebagai Pencipta (sexual relationship can imitate God role as a Creator).

Menurut pandangan teologi, reproduksi melibatkan tiga pihak, bapak, ibu, dan Tuhan. Sa’id Ibn Musayyib meriwayatkan sebuah hadis Nabi SAW, “Ketika seorang suami berniat mendatangi istrinya, Tuhan mencatat untuknya 20 kebaikan dan menghapuskan 20 perbuatan buruknya. Ketika ia meraih tangan istrinya, Tuhan mencatat untuknya 40 kebaikan dan menghapuskan 40 perbuatan buruknya."

photo
Prof KH Nasaruddin Umar - (Ilustrasi : Daan Yahya )

"Ketika ia mencium istrinya, Tuhan mencatat untuknya 60 kebaikan dan menghapuskan 60 perbuatan buruknya. Ketika menggauli istrinya, Tuhan mencatat untuknya 120 kebaikan. Ketika ia beranjak membersihkan diri, Tuhan membanggakannya terhadap para malaikat dan berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku. Dia berdiri di tengah malam yang dingin untuk membersihkan dirinya dari kotoran (janabah) untuk mendapatkan perkenaan dari Tuhannya. Jadilah saksi-Ku bahwa Aku telah mengampuninya'.”

Hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Amr menceritakan ihwal salah seorang sahabat yang berpuasa di siang hari dan beribadah penuh di malam hari dengan harapan untuk memperoleh kedudukan lebih mulia di mata Tuhan. Lalu, Nabi memberikan tanggapan, “Jangan lakukan seperti itu! Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah karena sesungguhnya pada jasadmu ada haknya dan istrimu juga ada haknya.”

Di dalam Islam, Alquran melukiskan hubungan seksual sebagai salah satu kesenangan dan kenikmatan (istimta’) dari Tuhan. Kenikmatan dan dorongan seksual bukan hanya ditujukan kepada laki-laki, melainkan juga kepada perempuan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Dalam ayat lain disebutkan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran [3]:14).

Yang membedakan binatang dan manusia dalam hubungan seksual terletak pada kesucian dan kesakralan seksual itu. Binatang tidak mengenal spiritualitas dan sakralitas seksual. Manusia harus sadar kalau dirinya bukan binatang ketika ingin melakukan hubungan suami istri. Ia harus tampil sebagai manusia yang memiliki seperangkat nilai dan norma dalam melaksanakan hubungan suami istri.

 
Manusia harus sadar kalau dirinya bukan binatang ketika ingin melakukan hubungan suami istri.
 
 

Manusia haram melakukan hubungan suami istri yang bukan haknya. Manusia terlebih dahulu diminta mengikrarkan perjanjian suci  (mitsaqan ghalidhan) dalam bentuk akad nikah. Pelaksanaan nikah pun harus memenuhi rukun dan syarat perkawinan jika perkawinannya ingin sah. Manusia harus menyadari diri jika hendak melakukan hubungan suami istri sebagai upaya reproduksi, mengembangkan keturunan.

Manusia diminta mengindahkan etika seksual. Sebelum melakukan hubungan intim, terlebih dahulu manusia harus berdoa memohon perlindungan dari setan. Seusai hubungan itu, ia diminta membersihkan diri dengan cara mandi junub.

Mandi junub ialah upaya untuk menyucikan diri oleh sepasang suami-istri setelah melakukan hubungan intim. Tujuan mandi junub, menurut Ibnu Arabi, ialah menyucikan diri setelah terlena mengingat Tuhan saat sedang orgasme.

Jika anak manusia melakukan hubungan suami-istri tanpa mengikuti ketentuan syar’i, tanpa melibatkan unsur spiritualitas cinta Ilahi, maka dikhawatirkan hubungan intim tersebut tidak ubahnya seperti cara binatang.

Hubungan seksual tidak bisa hanya didorong oleh hawa nafsu belaka, tetapi juga harus disertai dengan kesadaran emosional-spiritual, mulai saat merencanakan sampai usia melakukannya dengan dilakukan mandi junub yang baik dan benar.(bersambung)

Mengusap Khuff

Hendaknya ketika mengenakan khuff, dia dalam keadaan suci (dari hadas)

SELENGKAPNYA

Habis Tiga Periode, Terbitlah Presiden Nyawapres

Yang lebih menarik, isu ini bukan bergulir dari kalangan politisi maupun pengamat.

SELENGKAPNYA

Jargon dan Slogan di Masa Pra-Gestapu

Karakter bahasa yang dipakai pada waktu itu benar-benar bercorak agresif.

SELENGKAPNYA